Kadang kita tidak mengerti tentang apa yang telah kita ucapkan atau katakan
kebanyakan seseorang mengutarakan maksud ataupun tujuan mereka dengan menyampaikan
dengan kalimat yang tidak tersusun ataupun agar yang mereka ajak bicara mengerti maksudnya.
Tahukah anda? Bahwa kata kata yang di susun menjadi sebuah kalimat itu mempunyai arti yang berbeda jika kita salah dalam menyusun kata kata itu.
Hal ini saya ketahui beberapa waktu yang lalu , saya mengamati seorang ahli komputer freelance yang sedang membangun sebuah jaringan di salah satu perusahaan .
Teknisi itu di panggil oleh manager perusahaan , dan terjadilah dialog antara mereka
manager : pak saya minta tolong dibuatkan jaringan dengan 24 titik unit komputer
teknisi : siap pak
manager : butuh waktu berapa lama anda menyelesaikannya
teknisi : kalau lihat medannya seperti ini dan perlengkapan yang sudah tersedia 8 jam sudah cukup
manager : berhubung sekarang jam 6 pagi, berarti jam 2 siang baru selesai .
teknisi : betul pak
manager : berhubung jam siang semua komputer harus sudah beroperasi, bisakah bapak menyelesaikannya
pada jam 1 siang
teknisi : sulit pak , tapi saya bisa melakukannya
manager : baiklah kalau begitu , segera lakukan tugas anda.
demikian cuplikan dialog antara seorang teknisi dan manager , yang saya cermati adalah jawaban dari teknisi "sulit pak, tapi saya bisa melakukannya," susunan kata kata diatas memberi arti bahwa teknisi itu mempunyai rasa optimis bisa melakukan tugasnya
walaupun dia mengalami kesulitan.
Ini akan berbeda jika dia menjawab " saya bisa melakukannya , tapi sulit "
susuna kata tersebut mencerminkan sang teknisi bisa melakukan tapi dia kesulitan.
Jika si lihat dari arti kedua susunan kata diatas .adalah mempunyai arti yang sama
tapi pada susunan kata pertama sang teknisi mempunyai rasa percaya diri yang tinggi di banding susunan kata kata yang kedua .
Kepahaman dalam menyusun kata kata mungkin akan kita rasakan setelah kita mengucapkannya , tapi kita tidak akan memikirkan hal itu sebelum mengucapkannya.(compenys.com)
Showing posts with label kekuatan Kata-kata. Show all posts
Showing posts with label kekuatan Kata-kata. Show all posts
Wednesday, March 2, 2011
Dari 5 Menit Ucapanmu, Bisa Diketahui Nabimu 30 Tahun Mendatang
Berapa Kata yang anda ucapkan dalam 1 harinya ?
Saya yakin ratusan hingga ribuan kata, tapi apakah anda tahu bahwa kata-kata merupakan salah satu hal yang bisa mempengaruhi kesuksesan anda!
bahkan di katakan oleh Tung Desem Waringin “5 menit anda berbicara saya akan tahu nasib anda 30 tahun mendatang”.
(www.febryfadly.com)
Saya yakin ratusan hingga ribuan kata, tapi apakah anda tahu bahwa kata-kata merupakan salah satu hal yang bisa mempengaruhi kesuksesan anda!
bahkan di katakan oleh Tung Desem Waringin “5 menit anda berbicara saya akan tahu nasib anda 30 tahun mendatang”.
(www.febryfadly.com)
Kamu Adalah Apa Yang Kamu Katakan
Kata-kata memiliki kekuatan. Meskipun dalam pantun mainan anak-anak jaman dulu, dikatakan,”kayu dan batu bisa mematahkan tulangmu, tapi kata-kata tak akan pernah menyakitimu.”
Tapi kita yang sudah dewasa, pasti tahu, kenyataannya kata-kata dapat menyakiti.
Sayangnya, kebanyakan dari kita selalu mencoba mengulangi kata-kata yang menyakitkan. Tapi kita bisa bertindak lebih baik dengan menyadari setiap kata yang kita ucapkan. Berhati-hati dalam berbicara artinya menyadari kekuatan kata-kata dan energi yang tersimpan didalamnya.
Bicara dengan bijaksana sangat efektif dalam membawa perubahan positif. Kamu bisa merubah hidupmu menjadi lebih baik dengan lebih berhati-hati terhadap apapun yang kamu ucapkan.
Misalnya, jika kamu secara teratur menyatakan hal yang buruk tentang diri sendiri, seperti : ” Saya gemuk, jelek, tidak ngetop dan seterusnya,” maka bisa dipastikan, kamu pasti segera merasakan hal itu. Dan akhirnya yakin memang begitu.
Akan tetapi, jika kamu melimpahi dirimu sendiri dengan afirmasi positif seperti, ” Saya sehat, atletis, ramah…” maka kamu akan merasa lebih positif mengenai dirimu sendiri. Kamu akan merasa memang seperti itu.
Memiliki perilaku positif dan menyadari ucapan kita, adalah sama pentingnya manakala berhadapan dengan orang lain. Setiap orang tahu betapa lelahnya kita berada di sekitar orang yang komplain atau bergosip sepanjang waktu.
Tetapi, kita akan tertarik habis bagaikan menghadapi magnet besar terhadap orang yang gembira, yang bebas komplain atau membuat kita tertawa.
Berhati-hatilah terhadap kata-katamu, dan bijaksana dalam berbicara. Bicaralah benar, hingga itu yag kamu rasakan benar dan resapi betul apa yang kamu ucapkan.
Cobalah sadar sesadar-sadarnya tentang apa pun yang kamu bicarakan, kepada siapa kamu bicara, dan apa akibat perkataanmu padanya. Inilah caranya yang akan mengurangi kamu bicara negatif, kasar dan tak bermanfaat.
(piki.blogsome.com)
Tapi kita yang sudah dewasa, pasti tahu, kenyataannya kata-kata dapat menyakiti.
Sayangnya, kebanyakan dari kita selalu mencoba mengulangi kata-kata yang menyakitkan. Tapi kita bisa bertindak lebih baik dengan menyadari setiap kata yang kita ucapkan. Berhati-hati dalam berbicara artinya menyadari kekuatan kata-kata dan energi yang tersimpan didalamnya.
Bicara dengan bijaksana sangat efektif dalam membawa perubahan positif. Kamu bisa merubah hidupmu menjadi lebih baik dengan lebih berhati-hati terhadap apapun yang kamu ucapkan.
Misalnya, jika kamu secara teratur menyatakan hal yang buruk tentang diri sendiri, seperti : ” Saya gemuk, jelek, tidak ngetop dan seterusnya,” maka bisa dipastikan, kamu pasti segera merasakan hal itu. Dan akhirnya yakin memang begitu.
Akan tetapi, jika kamu melimpahi dirimu sendiri dengan afirmasi positif seperti, ” Saya sehat, atletis, ramah…” maka kamu akan merasa lebih positif mengenai dirimu sendiri. Kamu akan merasa memang seperti itu.
Memiliki perilaku positif dan menyadari ucapan kita, adalah sama pentingnya manakala berhadapan dengan orang lain. Setiap orang tahu betapa lelahnya kita berada di sekitar orang yang komplain atau bergosip sepanjang waktu.
Tetapi, kita akan tertarik habis bagaikan menghadapi magnet besar terhadap orang yang gembira, yang bebas komplain atau membuat kita tertawa.
Berhati-hatilah terhadap kata-katamu, dan bijaksana dalam berbicara. Bicaralah benar, hingga itu yag kamu rasakan benar dan resapi betul apa yang kamu ucapkan.
Cobalah sadar sesadar-sadarnya tentang apa pun yang kamu bicarakan, kepada siapa kamu bicara, dan apa akibat perkataanmu padanya. Inilah caranya yang akan mengurangi kamu bicara negatif, kasar dan tak bermanfaat.
(piki.blogsome.com)
Dua Pasien Rumah Sakit
Dua orang pria, keduanya sakit keras, sedang dirawat disebuah kamar rumah sakit. Seorang di antaranya menderita suatu penyakit yang mengharuskannya duduk di tempat tidur selama satu jam di setiap sore untuk mengosongkan cairan dari paru-parunya.
Sedangkan pria yang lain harus berbaring lurus di atas punggungnya.
Setiap hari mereka saling bercakap-cakap selama berjam-jam. Mereka membicarakan istri dan keluarga, rumah, pekerjaan, keterlibatan mereka di ketentaraan, dan tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi selama liburan.
Setiap sore, ketika pria yang tempat tidurnya berada dekat jendela diperbolehkan untuk duduk, ia menceritakan tentang apa yang terlihat di luar jendela kepada rekan sekamarnya.
Selama satu jam itulah, pria ke dua merasa begitu senang dan bergairah membayangkan betapa luas dan indahnya semua kegiatan dan warna-warna indah yang ada di luar sana.
“Di luar jendela, tampak sebuah taman dengan kolam yang indah, angsa berenang kesana kemari, sedangkan anak-anak bermain dengan perahu-perahu mainan.
Beberapa pasangan berjalan bergandengan di tengah taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga berwarna-warni.
Sebuah pohon tua besar menghiasi taman itu. Jauh di atas sana terlihat kaki langit kota yang mempesona. Suatu senja yang indah.”
Pria pertama itu menceritakan keadaan di luar jendela dengan detil, sedangkan pria satunya berbaring memejamkan mata membayangkan semua keindahan pemandangan itu.
Perasaannya menjadi lebih tenang dalam menjalani kesehariannya di rumah sakit itu. Semangat hidupnya menjadi lebih kuat, percaya dirinya bertambah.
Pada suatu sore yang lain, pria yang duduk dekat jendela menceritakan tentang parade karnaval yang sedang melintas. Meskipun pria yang ke dua tidak dapat mendengar suara parade itu, namun ia dapat melihatnya melalui pandangan mata pria yang pertama yang menggambarkan semuanya dengan indah.
Begitulah seterusnya, dari hari ke hari dan satu minggu pun berlalu.
Suatu pagi, perawat datang membawa sebaskom air hangat untuk mandi. Ia mendapati ternyata pria yang berbaring di dekat jendela itu telah meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya.
Perawat itu menjadi sedih dan memanggil perawat lain untuk memindahkannya ke kamar jenazah. Kemudian pria ke dua ini meminta pada perawat agar ia bisa dipindahkan ke tempat tidur di dekat jendela itu.
Perawat itu menuruti kemauannya dengan senang hati dan mempersiapkan segala sesuatunya. Ketika semuanya selesai, ia meninggalkan pria tadi seorang diri dalam kamar.
Dengan perlahan dan kesakitan, pria ini memaksakan dirinya untuk bangun. Ia ingin melihat keindahan dunia luar melalui jendela itu. Betapa senangnya, akhirnya ia akan bisa melihat sendiri dan menikmati semua keindahan itu.
Hatinya tegang, perlahan ia menjengukkan kepalanya ke jendela di samping tempat tidurnya. Apa yang dilihatnya? Ternyata, jendela itu menghadap ke sebuah TEMBOK KOSONG!!!
Ia berseru memanggil perawat dan menanyakan apa yang membuat teman pria yang sudah wafat tadi bercerita seolah-olah melihat semua pemandangan yang luar biasa indah di balik jendela itu. Perawat itu menjawab bahwa sesungguhnya pria tadi adalah seorang yang buta yag tidak bisa melihat tembok sekalipun.
“Barangkali ia ingin memberimu semangat hidup”, kata perawat itu.
Saya mencoba merenungkan…. dan,
Saya percaya, setiap kata selalu memberi makna bagi setiap orang yang mendengarnya. Setiap kata, adalah layaknya pemicu, yang mampu menelisik sisi terdalam hati manusia, dan mendorong kita berbuat sesuatu.
Kata-kata, akan selalu memicu dan memacu kita untuk menggerakkan setiap anggota tubuh kita, dalam berpikir dan bertindak.
Saya percaya, dalam kata-kata tersimpan kekuatan yang sangat kuat. Kekuatan kata-kata akan selalu hadir pada kita yang percaya.
Saya percaya, kata-kata yang santun, sopan, penuh motivasi, bernilai dukungan, memberi kontribusi positif dalam setiap langkah manusia.
Ujaran-ujaran yang bersemangat, tutur kata yang membangun, selalu menghadirkan sisi terbaik dalam hidup kita. Ada hal-hal mempesona saat kita mampu memberikan kebahagiaan pada orang lain. Saya percaya…….Bagaimanakah dengan anda..??
(masoelil.blogdetik.com-Sumber tulisan ia dapat dari salah satu milis yang dikirimkan seorang teman melalui email)
Sedangkan pria yang lain harus berbaring lurus di atas punggungnya.
Setiap hari mereka saling bercakap-cakap selama berjam-jam. Mereka membicarakan istri dan keluarga, rumah, pekerjaan, keterlibatan mereka di ketentaraan, dan tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi selama liburan.
Setiap sore, ketika pria yang tempat tidurnya berada dekat jendela diperbolehkan untuk duduk, ia menceritakan tentang apa yang terlihat di luar jendela kepada rekan sekamarnya.
Selama satu jam itulah, pria ke dua merasa begitu senang dan bergairah membayangkan betapa luas dan indahnya semua kegiatan dan warna-warna indah yang ada di luar sana.
“Di luar jendela, tampak sebuah taman dengan kolam yang indah, angsa berenang kesana kemari, sedangkan anak-anak bermain dengan perahu-perahu mainan.
Beberapa pasangan berjalan bergandengan di tengah taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga berwarna-warni.
Sebuah pohon tua besar menghiasi taman itu. Jauh di atas sana terlihat kaki langit kota yang mempesona. Suatu senja yang indah.”
Pria pertama itu menceritakan keadaan di luar jendela dengan detil, sedangkan pria satunya berbaring memejamkan mata membayangkan semua keindahan pemandangan itu.
Perasaannya menjadi lebih tenang dalam menjalani kesehariannya di rumah sakit itu. Semangat hidupnya menjadi lebih kuat, percaya dirinya bertambah.
Pada suatu sore yang lain, pria yang duduk dekat jendela menceritakan tentang parade karnaval yang sedang melintas. Meskipun pria yang ke dua tidak dapat mendengar suara parade itu, namun ia dapat melihatnya melalui pandangan mata pria yang pertama yang menggambarkan semuanya dengan indah.
Begitulah seterusnya, dari hari ke hari dan satu minggu pun berlalu.
Suatu pagi, perawat datang membawa sebaskom air hangat untuk mandi. Ia mendapati ternyata pria yang berbaring di dekat jendela itu telah meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya.
Perawat itu menjadi sedih dan memanggil perawat lain untuk memindahkannya ke kamar jenazah. Kemudian pria ke dua ini meminta pada perawat agar ia bisa dipindahkan ke tempat tidur di dekat jendela itu.
Perawat itu menuruti kemauannya dengan senang hati dan mempersiapkan segala sesuatunya. Ketika semuanya selesai, ia meninggalkan pria tadi seorang diri dalam kamar.
Dengan perlahan dan kesakitan, pria ini memaksakan dirinya untuk bangun. Ia ingin melihat keindahan dunia luar melalui jendela itu. Betapa senangnya, akhirnya ia akan bisa melihat sendiri dan menikmati semua keindahan itu.
Hatinya tegang, perlahan ia menjengukkan kepalanya ke jendela di samping tempat tidurnya. Apa yang dilihatnya? Ternyata, jendela itu menghadap ke sebuah TEMBOK KOSONG!!!
Ia berseru memanggil perawat dan menanyakan apa yang membuat teman pria yang sudah wafat tadi bercerita seolah-olah melihat semua pemandangan yang luar biasa indah di balik jendela itu. Perawat itu menjawab bahwa sesungguhnya pria tadi adalah seorang yang buta yag tidak bisa melihat tembok sekalipun.
“Barangkali ia ingin memberimu semangat hidup”, kata perawat itu.
Saya mencoba merenungkan…. dan,
Saya percaya, setiap kata selalu memberi makna bagi setiap orang yang mendengarnya. Setiap kata, adalah layaknya pemicu, yang mampu menelisik sisi terdalam hati manusia, dan mendorong kita berbuat sesuatu.
Kata-kata, akan selalu memicu dan memacu kita untuk menggerakkan setiap anggota tubuh kita, dalam berpikir dan bertindak.
Saya percaya, dalam kata-kata tersimpan kekuatan yang sangat kuat. Kekuatan kata-kata akan selalu hadir pada kita yang percaya.
Saya percaya, kata-kata yang santun, sopan, penuh motivasi, bernilai dukungan, memberi kontribusi positif dalam setiap langkah manusia.
Ujaran-ujaran yang bersemangat, tutur kata yang membangun, selalu menghadirkan sisi terbaik dalam hidup kita. Ada hal-hal mempesona saat kita mampu memberikan kebahagiaan pada orang lain. Saya percaya…….Bagaimanakah dengan anda..??
(masoelil.blogdetik.com-Sumber tulisan ia dapat dari salah satu milis yang dikirimkan seorang teman melalui email)
Kata-kata Bisa Meneguhkan
Tahukah kita bahwa kata-kata mempunyai kekuatan yang dahsyat? Kata-kata bisa membangun sekaligus bisa menghancurkan segala sesuatu. Kata-kata bisa meneguhkan serentak menjatuhkan. Kata-kata bisa mengendalikan hidup orang lain.
Dengan kata-kata, seorang orator ulung mampu mempengaruhi massa pendengarnya, apalagi didukung oleh kemampuan retorika dan kekuatan persuasif.
Ketika seseorang mengatakan: “kamu cantik atau kamu ganteng,” seketika itu juga hati kita akan berbunga-bunga dan seolah-olah terbang ke langit ke tujuh (klo emang ada lapisan langit ketujuh).
Akan tetapi, ketika seseorang mengatakan sebaliknya: “kamu jelek, kamu jahat, kamu pengkhianat,” seketika itu juga hati kita seperti disayat-sayat sembilu, pedih dan perih sekali rasanya.
Ketika seseorang berkata: “kamu hebat,” adrenalin kita seolah-olah akan berpacu lebih kencang untuk semakin meningkatkan diri, mengoptimalkan semua bakat dan talenta yang kita miliki dan menunjukkan kepada dunia bahwa sedari kandungan ibu kita telah ditentukan untuk menjadi manusia hebat-menjadi the superman dan superwomen.
Akan tetapi, sebaliknya, ketika kita telah berusaha seoptimal mungkin sementara komentar yang kita dapat adalah sebuah celaan, tiba-tiba saja kita menjadi syok dan down.
Itulah kekuatan sebuah kata, yang mampu mengendalikan hidup kita. Sebab ketika sebuah kata dilemparkan keluar atau telah menjadi sebuah teks, maka kata-kata itu akan menjadi otonom-lepas dan bebas dari kontrol pencetus atau penulisnya.
Ketika telah menjadi teks, kata-kata mampu membangun dan merobohkan, meneguhkan sekaligus meruntuhkan.
Karena itu, hati-hatilah dengan kata-kata dan pilihan kata. Karena kata-kata mempunyai kekuatan yang mahadahsyat bagi mereka yang membaca atau mendengarkannya.
Selain itu, sebagai pendengar atau pembaca yang baik pun, jangan sampai kita dikendalikan oleh kata-kata sesama. Sebab hidup kita tidak ditentukan oleh kata-kata, melainkan oleh otentisitas diri. Be Yourself!!!
“WORDs become things, choose the good ones!” (Mike Dooley)
(Penulis: Fajar - dari kompasiana.com)
Dengan kata-kata, seorang orator ulung mampu mempengaruhi massa pendengarnya, apalagi didukung oleh kemampuan retorika dan kekuatan persuasif.
Ketika seseorang mengatakan: “kamu cantik atau kamu ganteng,” seketika itu juga hati kita akan berbunga-bunga dan seolah-olah terbang ke langit ke tujuh (klo emang ada lapisan langit ketujuh).
Akan tetapi, ketika seseorang mengatakan sebaliknya: “kamu jelek, kamu jahat, kamu pengkhianat,” seketika itu juga hati kita seperti disayat-sayat sembilu, pedih dan perih sekali rasanya.
Ketika seseorang berkata: “kamu hebat,” adrenalin kita seolah-olah akan berpacu lebih kencang untuk semakin meningkatkan diri, mengoptimalkan semua bakat dan talenta yang kita miliki dan menunjukkan kepada dunia bahwa sedari kandungan ibu kita telah ditentukan untuk menjadi manusia hebat-menjadi the superman dan superwomen.
Akan tetapi, sebaliknya, ketika kita telah berusaha seoptimal mungkin sementara komentar yang kita dapat adalah sebuah celaan, tiba-tiba saja kita menjadi syok dan down.
Itulah kekuatan sebuah kata, yang mampu mengendalikan hidup kita. Sebab ketika sebuah kata dilemparkan keluar atau telah menjadi sebuah teks, maka kata-kata itu akan menjadi otonom-lepas dan bebas dari kontrol pencetus atau penulisnya.
Ketika telah menjadi teks, kata-kata mampu membangun dan merobohkan, meneguhkan sekaligus meruntuhkan.
Karena itu, hati-hatilah dengan kata-kata dan pilihan kata. Karena kata-kata mempunyai kekuatan yang mahadahsyat bagi mereka yang membaca atau mendengarkannya.
Selain itu, sebagai pendengar atau pembaca yang baik pun, jangan sampai kita dikendalikan oleh kata-kata sesama. Sebab hidup kita tidak ditentukan oleh kata-kata, melainkan oleh otentisitas diri. Be Yourself!!!
“WORDs become things, choose the good ones!” (Mike Dooley)
(Penulis: Fajar - dari kompasiana.com)
Kata Ibarat Pedang Bermata Dua
Manusia hidup pasti melakukan berbagai kegiatan: berbicara, bekerja, mendengar, menulis, membaca, dan juga berpikir. Semua kegiatan ini tidak bisa terlepas dari kata-kata.
Tanpa kata-kata, tak ada yang bisa kita bicarakan.
Tanpa kata-kata, tak ada yang bisa kita tulis.
Tanpa kata-kata, tak ada yang bisa kita baca.
Tanpa kata-kata, tak ada yang bisa kita mengerti.
Tanpa kata-kata, tak bisa kita berkarya.
Kata-kata memiliki kekuatan yang dahsyat, karena tanpa kata-kata, kita layaknya seperti orang mati saja.
Pedang Bermata Dua
Kekuatan kata-kata adalah seperti pedang bermata dua. Jika digunakan dengan tidak tepat, akan membawa bencana.
Sebaliknya, jika digunakan dengan tepat, dapat memberikan manfaat optimal bagi keuntungan kita.
Sehat atau Sakit
Jika seorang dokter mengatakan kepada pasien A bahwa penyakit sang pasien tidak bisa disembuhkan lagi, maka pasien A kemungkinan besar akan percaya pada kata-kata sang dokter.
Akibatnya, ia tentunya akan menjadi sedih, depresi, dan kemudian putus asa. Ia juga mungkin tidak akan berupaya lagi untuk mencari pengobatan lain untuk menyembuhkan penyakitnya.
Berbagai riset medis membuktikan bahwa semangat yang patah, dan perasaan yang hancur akan memperburuk kesehatan seseorang. Inilah yang kemungkinan besar akan terjadi pada pasien A.
Tetapi jika pada pasien B yang memiliki penyakit yang serupa dengan kategori stadium yang serupa pula, sang dokter mengatakan bahwa penyakit pasien B memang pada tahap ini cukup serius namun masih ada harapan untuk disembuhkan;
Jika sang dokter juga menceritakan tentang berbagai kasus sukses pasien yang berhasil sembuh, apa yang akan terjadi pada pasien B?
Kemungkinan pasien B tetap memiliki semangat juang untuk sembuh dan ia akan berupaya dengan berbagai cara untuk meraih kesembuhan tersebut.
Semangat yang tinggi untuk sembuh, disertai upaya yang serius dan tekun akan memberikan kemungkinan yang jauh lebih besar bagi pasien B untuk sembuh.
Bisa atau Tidak Bisa
Kata-kata juga bisa menentukan apakah kita bisa sukses atau gagal. Jika kita mengatakan pada diri kita sendiri bahwa kita tidak bisa melakukan suatu pekerjaan, maka bisa dipastikan kita memang tidak akan bisa melakukan pekerjaan tersebut.
Kata-kata TIDAK BISA yang kita ucapkan, yang kita dengar, ataupun yang kita pikirkan akan menutup semua kemungkinan untuk melakukan pekerjaan yang sudah divonis tidak bisa kita laksanakan. Dengan ungkapan TIDAK BISA ini, semua kemungkinan tidak dicoba lagi, dan semua usaha dihentikan.
Tapi, sebaliknya, jika kita mengatakan pada diri kita sendiri atau pada anggota tim kita bahwa suatu pekerjaan BISA kita laksanakan walaupun harus melalui berbagai tantangan.
Ungkapan BISA ini memiliki kekuatan yang dahsyat untuk mewujudkan keberhasilan. Ungkapan BISA memacu kreativitas untuk mendapatkan berbagai alternatif strategi, memompa semangat untuk mencoba terus walaupun pada awalnya terlihat sulit, dan mendorong kita melakukan berbagai upaya untuk mengatasi rintangan yang kita hadapi.
Akibatnya? Kita memang akan BISA berhasil menyelesaikan perkerjaan yang kita tekuni.
Kendalikan Kekuatan Kata-kata
Setelah kita mengetahui bahwa kata-kata memiliki kekuatan yang dahsyat, tentunya kita ingin memanfaatkan kekuatan ini secara optimal agar membawa kebaikan bagi kita.
Ada lima strategi yang perlu kita perhatikan dalam mengendalikan kekuatan kata-kata agar memberikan pengaruh yang positif bagi kita.
Bicara Positif
Ilustrasi berikut dapat menggambarkan bagaimana kata-kata positif yang diucapkan seseorang dapat melepaskannya dari masalah.
Pada suatu malam, seorang raja bermimpi aneh. Dalam mimpi ini gigi sang raja tanggal semuanya. Keesokan harinya ia memanggil orang pintar yang dapat menginterpretasikan mimpi tersebut.
Orang pintar pertama yang dipanggil berkata kepada raja, “Paduka Raja, mimpi Paduka berarti bahwa seluruh keluarga dan kerabat dekat Paduka akan meninggal dunia.”
Mendengar kabar yang buruk ini, emosi sang raja meluap karena marah. Sang raja memerintahkan pada pengawalnya untuk memenjarakan orang pintar pertama tersebut.
Kemudian Raja memanggil orang kedua untuk mengartikan mimpi aneh sang raja. Orang kedua ini mengatakan pada raja, “Wahai Paduka Raja, mimpi Paduka bertanda baik bagi Paduka. Mimpi ini berarti bahwa Paduka Raja akan dianugerahi umur panjang, bahkan lebih panjang dari keluarga dan handai taulan terdekat Paduka.”
Mendengar berita baik yang disampaikan, sang Raja pun merasa senang. Kemudian Raja menyuruh pengawalnya untuk memberikan sekotak emas kepada orang pintar kedua ini.
Cerita ini menunjukkan bahwa pada dasarnya kedua peramal tersebut menyampaikan hal yang sama yang dikemas dengan pilihan kata-kata yang berbeda. Dari ilustrasi ini kita bisa belajar untuk berhati-hati dalam berbicara, yaitu untuk memilih kata-kata positif dalam berbicara.
Dengar Positif
Seorang anak kerap kali mendengar orang tuanya berkata, “Kamu memang anak bodoh, anak bandel, dan tidak tau diuntung. Kamu pasti tidak akan berhasil karena kamu memang bodoh, bandel, dan sering menyusahkan orang tua.”
Lambat laun, jika kata-kata ini sering diulang-ulang, maka sang anak akan benar-benar percaya bahwa ia bodoh, bandel, dan sering menyusahkan orang tua. Ia pun akan terdorong untuk malas belajar, dan melakukan hal-hal yang dianggap “bandel dan menyusahkan orang tua” seperti yang kata-kata yang didengarnya.
Hal ini tidak hanya terjadi pada anak-anak. Orang dewasa pun bisa terpengaruh pada apa yang mereka dengar. Jadi, apa yang harus dilakukan agar kita mendapat pengaruh positif?
Jika kita sulit mempengaruhi orang-orang di sekitar kita untuk berbicara positif, maka yang bisa kita lakukan adalah berteman dengan orang-orang yang suka berbicara positif.
Dengan berteman dengan orang-orang seperti ini, maka kita terpacu untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang positif, yang akhirnya akan mempengaruhi sikap, tindakan, dan keputusan yang kita lakukan dalam hidup kita ini.
Baca Positif
Bacaan adalah salah satu sumber makanan bagi pikiran kita. Jika kita banyak mengkonsumsi bacaan yang positif (misalnya: bacaan mengenai cara hidup sehat, biografi orang-orang sukses, ataupun strategi atau inovasi terbaru diberbagai bidang), maka pengetahuan kita terhadap topik yang kita baca bertambah.
Pengetahuan ini seringkali membangkitkan keingin-tahuan kita untuk mencobanya. Misalnya kita baru membaca tentang cara hemat berpromosi, wajar saja jika kita segera ingin mempraktikkan apa yang kita baca.
Atau kita baru selesai membaca strategi baru memenangkan persaingan di masa krisis, tentunya jika kita memang menghadapi kondisi persaingan di masa krisis dan dituntut untuk menang, kita akan mencoba strategi tersebut. Jadi, untuk mengendalikan kekuatan kata-kata, kita perlu juga berhati-hati dalam memilih buku-buku, artikel yang kita baca.
Pikir Positif
Pernahkan Anda menyanyikan sebuah lagu lama di kepala Anda, kemudian Anda mendengar lagu tersebut dinyanyikan di radio atau televisi? Pernahkah Anda berpikir serius untuk bertemu dengan seorang teman lama, kemudian Anda akhirnya memang berbicara dengan orang tersebut di telepon?
Pernahkah Anda berpikir untuk membaca sebuah buku, kemudian seseorang meminjamkan buku tersebut pada Anda? Pernahkah Anda berpikir untuk memakan kue kesayangan Anda, beberapa hari kemudian ada orang yang membelikan atau membawakan kue tersebut untuk Anda?
Jika memang Anda pernah mengalami beberapa dari kejadian tersebut di atas atau mengalami kejadian serupa, mungkin Anda mengira semua ini adalah kebetulan saja.
Andrew Matthews dalam bukunya Being Happy mengungkapkan bahwa pikiran kita seringkali bertindak sebagai magnet yang ampuh untuk mengundang segala sesuatu yang kita pikirkan untuk terwujud.
Pikiran kita ini akan menggerakkan seluruh bagian dari kita (fisik, emosi, dan semangat) untuk bergerak ke arah yang kita pikirkan. Jika kita memusatkan pikiran kita pada kegagalan pasti kita akan mengundang datangnya kegagalan.
Sebaliknya, jika kita memusatkan pikiran kita untuk meraih sukses, pasti sukseslah yang akan kita temui. Jadi, jika kita ingin sukses, ingin sehat, ingin senang, mengapa tidak kita coba memusatkan pikiran kita untuk meraih hal-hal positif yang kita pikirkan?
Kehidupan manusia tidak terlepas dari kata-kata yang memiliki kekuatan yang dahsyat. Kekuatan ini dapat kita kendalikan untuk memberikan manfaat bagi kita dengan berbicara, mendengar, membaca, dan berpikir positif.
Jadi, selamat memilih dan menggunakan kata-kata positif agar meraih manfaat positif dari kekuatan kata-kata tersebut.
(The Indonesia Learning Institute – INLINE-diambil dari doktertomi.com)
Tanpa kata-kata, tak ada yang bisa kita bicarakan.
Tanpa kata-kata, tak ada yang bisa kita tulis.
Tanpa kata-kata, tak ada yang bisa kita baca.
Tanpa kata-kata, tak ada yang bisa kita mengerti.
Tanpa kata-kata, tak bisa kita berkarya.
Kata-kata memiliki kekuatan yang dahsyat, karena tanpa kata-kata, kita layaknya seperti orang mati saja.
Pedang Bermata Dua
Kekuatan kata-kata adalah seperti pedang bermata dua. Jika digunakan dengan tidak tepat, akan membawa bencana.
Sebaliknya, jika digunakan dengan tepat, dapat memberikan manfaat optimal bagi keuntungan kita.
Sehat atau Sakit
Jika seorang dokter mengatakan kepada pasien A bahwa penyakit sang pasien tidak bisa disembuhkan lagi, maka pasien A kemungkinan besar akan percaya pada kata-kata sang dokter.
Akibatnya, ia tentunya akan menjadi sedih, depresi, dan kemudian putus asa. Ia juga mungkin tidak akan berupaya lagi untuk mencari pengobatan lain untuk menyembuhkan penyakitnya.
Berbagai riset medis membuktikan bahwa semangat yang patah, dan perasaan yang hancur akan memperburuk kesehatan seseorang. Inilah yang kemungkinan besar akan terjadi pada pasien A.
Tetapi jika pada pasien B yang memiliki penyakit yang serupa dengan kategori stadium yang serupa pula, sang dokter mengatakan bahwa penyakit pasien B memang pada tahap ini cukup serius namun masih ada harapan untuk disembuhkan;
Jika sang dokter juga menceritakan tentang berbagai kasus sukses pasien yang berhasil sembuh, apa yang akan terjadi pada pasien B?
Kemungkinan pasien B tetap memiliki semangat juang untuk sembuh dan ia akan berupaya dengan berbagai cara untuk meraih kesembuhan tersebut.
Semangat yang tinggi untuk sembuh, disertai upaya yang serius dan tekun akan memberikan kemungkinan yang jauh lebih besar bagi pasien B untuk sembuh.
Bisa atau Tidak Bisa
Kata-kata juga bisa menentukan apakah kita bisa sukses atau gagal. Jika kita mengatakan pada diri kita sendiri bahwa kita tidak bisa melakukan suatu pekerjaan, maka bisa dipastikan kita memang tidak akan bisa melakukan pekerjaan tersebut.
Kata-kata TIDAK BISA yang kita ucapkan, yang kita dengar, ataupun yang kita pikirkan akan menutup semua kemungkinan untuk melakukan pekerjaan yang sudah divonis tidak bisa kita laksanakan. Dengan ungkapan TIDAK BISA ini, semua kemungkinan tidak dicoba lagi, dan semua usaha dihentikan.
Tapi, sebaliknya, jika kita mengatakan pada diri kita sendiri atau pada anggota tim kita bahwa suatu pekerjaan BISA kita laksanakan walaupun harus melalui berbagai tantangan.
Ungkapan BISA ini memiliki kekuatan yang dahsyat untuk mewujudkan keberhasilan. Ungkapan BISA memacu kreativitas untuk mendapatkan berbagai alternatif strategi, memompa semangat untuk mencoba terus walaupun pada awalnya terlihat sulit, dan mendorong kita melakukan berbagai upaya untuk mengatasi rintangan yang kita hadapi.
Akibatnya? Kita memang akan BISA berhasil menyelesaikan perkerjaan yang kita tekuni.
Kendalikan Kekuatan Kata-kata
Setelah kita mengetahui bahwa kata-kata memiliki kekuatan yang dahsyat, tentunya kita ingin memanfaatkan kekuatan ini secara optimal agar membawa kebaikan bagi kita.
Ada lima strategi yang perlu kita perhatikan dalam mengendalikan kekuatan kata-kata agar memberikan pengaruh yang positif bagi kita.
Bicara Positif
Ilustrasi berikut dapat menggambarkan bagaimana kata-kata positif yang diucapkan seseorang dapat melepaskannya dari masalah.
Pada suatu malam, seorang raja bermimpi aneh. Dalam mimpi ini gigi sang raja tanggal semuanya. Keesokan harinya ia memanggil orang pintar yang dapat menginterpretasikan mimpi tersebut.
Orang pintar pertama yang dipanggil berkata kepada raja, “Paduka Raja, mimpi Paduka berarti bahwa seluruh keluarga dan kerabat dekat Paduka akan meninggal dunia.”
Mendengar kabar yang buruk ini, emosi sang raja meluap karena marah. Sang raja memerintahkan pada pengawalnya untuk memenjarakan orang pintar pertama tersebut.
Kemudian Raja memanggil orang kedua untuk mengartikan mimpi aneh sang raja. Orang kedua ini mengatakan pada raja, “Wahai Paduka Raja, mimpi Paduka bertanda baik bagi Paduka. Mimpi ini berarti bahwa Paduka Raja akan dianugerahi umur panjang, bahkan lebih panjang dari keluarga dan handai taulan terdekat Paduka.”
Mendengar berita baik yang disampaikan, sang Raja pun merasa senang. Kemudian Raja menyuruh pengawalnya untuk memberikan sekotak emas kepada orang pintar kedua ini.
Cerita ini menunjukkan bahwa pada dasarnya kedua peramal tersebut menyampaikan hal yang sama yang dikemas dengan pilihan kata-kata yang berbeda. Dari ilustrasi ini kita bisa belajar untuk berhati-hati dalam berbicara, yaitu untuk memilih kata-kata positif dalam berbicara.
Dengar Positif
Seorang anak kerap kali mendengar orang tuanya berkata, “Kamu memang anak bodoh, anak bandel, dan tidak tau diuntung. Kamu pasti tidak akan berhasil karena kamu memang bodoh, bandel, dan sering menyusahkan orang tua.”
Lambat laun, jika kata-kata ini sering diulang-ulang, maka sang anak akan benar-benar percaya bahwa ia bodoh, bandel, dan sering menyusahkan orang tua. Ia pun akan terdorong untuk malas belajar, dan melakukan hal-hal yang dianggap “bandel dan menyusahkan orang tua” seperti yang kata-kata yang didengarnya.
Hal ini tidak hanya terjadi pada anak-anak. Orang dewasa pun bisa terpengaruh pada apa yang mereka dengar. Jadi, apa yang harus dilakukan agar kita mendapat pengaruh positif?
Jika kita sulit mempengaruhi orang-orang di sekitar kita untuk berbicara positif, maka yang bisa kita lakukan adalah berteman dengan orang-orang yang suka berbicara positif.
Dengan berteman dengan orang-orang seperti ini, maka kita terpacu untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang positif, yang akhirnya akan mempengaruhi sikap, tindakan, dan keputusan yang kita lakukan dalam hidup kita ini.
Baca Positif
Bacaan adalah salah satu sumber makanan bagi pikiran kita. Jika kita banyak mengkonsumsi bacaan yang positif (misalnya: bacaan mengenai cara hidup sehat, biografi orang-orang sukses, ataupun strategi atau inovasi terbaru diberbagai bidang), maka pengetahuan kita terhadap topik yang kita baca bertambah.
Pengetahuan ini seringkali membangkitkan keingin-tahuan kita untuk mencobanya. Misalnya kita baru membaca tentang cara hemat berpromosi, wajar saja jika kita segera ingin mempraktikkan apa yang kita baca.
Atau kita baru selesai membaca strategi baru memenangkan persaingan di masa krisis, tentunya jika kita memang menghadapi kondisi persaingan di masa krisis dan dituntut untuk menang, kita akan mencoba strategi tersebut. Jadi, untuk mengendalikan kekuatan kata-kata, kita perlu juga berhati-hati dalam memilih buku-buku, artikel yang kita baca.
Pikir Positif
Pernahkan Anda menyanyikan sebuah lagu lama di kepala Anda, kemudian Anda mendengar lagu tersebut dinyanyikan di radio atau televisi? Pernahkah Anda berpikir serius untuk bertemu dengan seorang teman lama, kemudian Anda akhirnya memang berbicara dengan orang tersebut di telepon?
Pernahkah Anda berpikir untuk membaca sebuah buku, kemudian seseorang meminjamkan buku tersebut pada Anda? Pernahkah Anda berpikir untuk memakan kue kesayangan Anda, beberapa hari kemudian ada orang yang membelikan atau membawakan kue tersebut untuk Anda?
Jika memang Anda pernah mengalami beberapa dari kejadian tersebut di atas atau mengalami kejadian serupa, mungkin Anda mengira semua ini adalah kebetulan saja.
Andrew Matthews dalam bukunya Being Happy mengungkapkan bahwa pikiran kita seringkali bertindak sebagai magnet yang ampuh untuk mengundang segala sesuatu yang kita pikirkan untuk terwujud.
Pikiran kita ini akan menggerakkan seluruh bagian dari kita (fisik, emosi, dan semangat) untuk bergerak ke arah yang kita pikirkan. Jika kita memusatkan pikiran kita pada kegagalan pasti kita akan mengundang datangnya kegagalan.
Sebaliknya, jika kita memusatkan pikiran kita untuk meraih sukses, pasti sukseslah yang akan kita temui. Jadi, jika kita ingin sukses, ingin sehat, ingin senang, mengapa tidak kita coba memusatkan pikiran kita untuk meraih hal-hal positif yang kita pikirkan?
Kehidupan manusia tidak terlepas dari kata-kata yang memiliki kekuatan yang dahsyat. Kekuatan ini dapat kita kendalikan untuk memberikan manfaat bagi kita dengan berbicara, mendengar, membaca, dan berpikir positif.
Jadi, selamat memilih dan menggunakan kata-kata positif agar meraih manfaat positif dari kekuatan kata-kata tersebut.
(The Indonesia Learning Institute – INLINE-diambil dari doktertomi.com)
Kata Mengubah Rasa
Mark Twain mengungkapkannya dengan sangat indah ketika
mengatakan “Udara sangat dingin, sehingga jika
termometer ini lebih panjang satu inci saja, kita pasti
akan mati membeku”
Kita memang akan mati beku dalam kata2. Yang menjadi
persoalan bukanlah suhu dingin yang ada diluar, tetapi termometer.
Yang menjadi persoalan bukanlah realitas, tetapi kata-kata yang anda ucapkan
pada diri anda mengenai realitas itu.
Saya pernah mendengar cerita yang menarik mengenai seorang
petani di Finlandia. Ketika garis batas antara Finlandia dan Rusia
sedang ditentukan, petani itu harus memutuskan apakah dia ingin
berada di Finlandia atau di Rusia.
Setelah memikirkan cukup lama,
dia memutuskan untuk berada di Finlandia, tetapi dia tidak ingin melukai
perasaan pejabat Rusia. Pejabat Rusia itu datang kepadanya dan bertanya
mengapa dia ingin berada di Finlandia.
Petani itu menjawab,”Sudah merupakan kerinduanku sejak
dulu untuk tinggal ditanah tumpah darahku Rusia, tetapi pada usiaku yang
sudah lanjut seperti ini, aku tidak dapat bertahan menghadapi musim dingin di
Rusia.”
Rusia dan Finlandia hanyalah kata-kata, konsep, tetapi
tidak demikian halnya bagi manusia, tidak bagi manusia yang gila, yang
menganggap kata-kata dan konsep itu sama dengan realitas. Kita hampir tidak
pernah melihat realitas.
Suatu saat seorang guru berusaha untuk menjelaskan kepada
sekelompok orang bagaimana orang2 bereaksi terhadap kata2, menelan kata2,
hidup dalam kata2, ketimbang dalam realitas.
Salah seorang dari kelompok itu berdiri dan mengajukan
protes, dia berkata, “Saya tidak setuju dengan pendapat anda bahwa
kata2 mempunyai efek yang begitu besar terhadap diri kita.”
Guru itu berkata,” Duduklah, ANAK HARAM.”
Muka orang itu menjadi pucat karena marah dan berkata,”
Anda menyebut diri Anda sebagai orang yang sudah mengalami pencerahan,
seorang guru, seorang yang bijaksana, tetapi seharusnya Anda malu dengan diri
Anda sendiri.”
Kemudian Guru itu berkata, “Maafkan saya, saya terbawa
perasaan. Saya benar2 mohon maaf, itu benar2 di luar kesadaran saya, saya mohon
maaf.” Orang itu akhirnya menjadi tenang.
Kemudian Guru berkata lagi,”HANYA DIPERLUKAN BEBERAPA KATA
UNTUK MEMBANGKITKAN KEMARAHAN DALAM DIRI
ANDA; DAN HANYA DIPERLUKAN BEBERAPA KATA UNTUK MENENANGKAN
DIRI ANDA, BENAR BUKAN?”
(Sumber: Disadur dari dari buku Awareness – Anthony deMello-mataharicinta.wordpress.com)
mengatakan “Udara sangat dingin, sehingga jika
termometer ini lebih panjang satu inci saja, kita pasti
akan mati membeku”
Kita memang akan mati beku dalam kata2. Yang menjadi
persoalan bukanlah suhu dingin yang ada diluar, tetapi termometer.
Yang menjadi persoalan bukanlah realitas, tetapi kata-kata yang anda ucapkan
pada diri anda mengenai realitas itu.
Saya pernah mendengar cerita yang menarik mengenai seorang
petani di Finlandia. Ketika garis batas antara Finlandia dan Rusia
sedang ditentukan, petani itu harus memutuskan apakah dia ingin
berada di Finlandia atau di Rusia.
Setelah memikirkan cukup lama,
dia memutuskan untuk berada di Finlandia, tetapi dia tidak ingin melukai
perasaan pejabat Rusia. Pejabat Rusia itu datang kepadanya dan bertanya
mengapa dia ingin berada di Finlandia.
Petani itu menjawab,”Sudah merupakan kerinduanku sejak
dulu untuk tinggal ditanah tumpah darahku Rusia, tetapi pada usiaku yang
sudah lanjut seperti ini, aku tidak dapat bertahan menghadapi musim dingin di
Rusia.”
Rusia dan Finlandia hanyalah kata-kata, konsep, tetapi
tidak demikian halnya bagi manusia, tidak bagi manusia yang gila, yang
menganggap kata-kata dan konsep itu sama dengan realitas. Kita hampir tidak
pernah melihat realitas.
Suatu saat seorang guru berusaha untuk menjelaskan kepada
sekelompok orang bagaimana orang2 bereaksi terhadap kata2, menelan kata2,
hidup dalam kata2, ketimbang dalam realitas.
Salah seorang dari kelompok itu berdiri dan mengajukan
protes, dia berkata, “Saya tidak setuju dengan pendapat anda bahwa
kata2 mempunyai efek yang begitu besar terhadap diri kita.”
Guru itu berkata,” Duduklah, ANAK HARAM.”
Muka orang itu menjadi pucat karena marah dan berkata,”
Anda menyebut diri Anda sebagai orang yang sudah mengalami pencerahan,
seorang guru, seorang yang bijaksana, tetapi seharusnya Anda malu dengan diri
Anda sendiri.”
Kemudian Guru itu berkata, “Maafkan saya, saya terbawa
perasaan. Saya benar2 mohon maaf, itu benar2 di luar kesadaran saya, saya mohon
maaf.” Orang itu akhirnya menjadi tenang.
Kemudian Guru berkata lagi,”HANYA DIPERLUKAN BEBERAPA KATA
UNTUK MEMBANGKITKAN KEMARAHAN DALAM DIRI
ANDA; DAN HANYA DIPERLUKAN BEBERAPA KATA UNTUK MENENANGKAN
DIRI ANDA, BENAR BUKAN?”
(Sumber: Disadur dari dari buku Awareness – Anthony deMello-mataharicinta.wordpress.com)
Kata-kata yang Menggerakan
”Sampaikanlah dari ku walaupun hanya satu ayat“ Kata-kata yang disampaikan Rosulullah SAW sudah berjalan empat belas abad yang lalu sampai saat ini terus saja di ucapkan dan diperdengarkan dan terus saja menggugah semangat manusia untuk menerapkanya dalam kehidupan sehari-hari.
Menyampaikan dakwah kesegala penjuru dunia dengan kekuatan dan potensi masing-masing.
Ada banyak kata-kata yang mengandung kekuatan untuk memajukan diri dan orang lain yaitu kata-kata yang dapat menggerakan diri untuk maju atau mencapai sesuatu yang di cita-citakan.
Kata-kata yang mengandung kekuatan adalah kata-kata yang bernilai positif, kata yang dapat membuat seseorang mencoba merubah hidup dan kehidupannya.
Kata yang mengandung kekuatan adalah kata-kata yang penuh keiklasan, kesabaran, ketaqwaan dan berbagai macam kata positif lainnya. Kata yang mengandung kekuatan dapat merubah seseorang, masyarakat, bangsa atau negara. Katakan dengan kata-kata, jangan diam bila ingin sesuatu atau harapan pada sesuatu menjadi nyata. Jangan diam bila kau menyintai seseorang, katakan suara hatimu pada orang yang memang kau cintai. Agar orang kau cintai itu mengetahui bahwa kau menyintainya.
Kekuatan kata-kata juga ada dalam doa dan dzikir, bayangkan dengan hanya mengucapkan tahlil, tasbih, takbir, tahmid mendapat jaminan syurgaNya.
Dzikir dengan tahlil, tasbih, takbir dan tahmid ucapannya ringan namun timbanganya berat di hadapanNya. Itulah uniknya kata-kata atau kalimat, itulah ajaibnya kata-kata, itulah kekuatan kata-kata.
Kata yang benar dan jujur lebih mempunyai nilai yang tinggi dihadapanNya dan dihadapan manusia. Karena kata yang benar dan jujur adalah kunci pertama manusia dipercaya orang lain.
Kata yang benar dan jujurlah yang menyebabkan Nabi Muhammad sejak muda, sejak beliau belum diangkat menjadi seorang Rosul mendapat gelar ” Al Amin” yang terpecaya.
Karena kata - kata beliau adalah kata-kata yang benar dan jujur. Sehingga kata-kata beliau mempunyai kekuatan yang dapat merubah sejarah, bukan hanya sejarah bangsa Arab, tapi merubah sejarah dunia, dalam tempo hanya 23 tahun.
Bayangkan, padang pasir Arab Saudi yang tak di kenal dunia, yang negara besar Romawi dan Persia yang keduanya mengusai barat dan Timur pada masanya, tak tertarik untuk menguasai tanah nan gersang tersebut.
Nabi dengan kebesaran Nabi Muhammad SAW, dengan kekuatan kata-kata beliau yang terkumpul dalam hadist dan kata-kata ( firman) Allah yang disampaikan kepada beliau dapat merubah kegersangan, kegelapan itu menjadi kesuburan dan cahaya yang terang benderang yang dapat menyinari seluruh penjuru dunia sampai kiamat nanti.
Ya, kata-kata yang mengandung kekuatan bukan asal bunyi, bukan asal bersuara, tapi kata-kata yang terukur, kata-kata yang dipikirkan matang-matang sebelum dikeluarkan. Seperti yang banyak dikatakan orang bijak : lebih baik berkata satu kali, setelah dipikirkan ribuan kali dari pada berkata ribuan kali dengan berpikir satu kali.
Di bawah ini adalah contoh kata-kata yang dapat memotivasi seseorang, masyarakat, bangsa atau negara untuk lebih maju. Banyak kata-kata yang lainnya, diantara sekian banyak kata-kata tersebut, kata positif yang harus dipegang kuat-kuat.
Kata positif bisa dikaitkan dengan kata-kata yang lain, terutama berpikir positif, berbuat yang positif, bertingkah laku positif, berkata pisitif dan seterusnya.
Bagitu juga kata aktif, dinamis, kreatif dan lain sebagainya. Gunakan kata-kata di atas untuk menuju hidup yang lebih baik, kata-kata yang baik, dapat membuat seseorang menjadi lebih baik dan sebaliknya kata-kata yang buruk membuat seseorang dinilai buruk oleh orang lain dan kehidupannya bisa juga semakin buruk.
Kata-kata yang baik, biasanya keluar dari hati yang baik dan jernih dan kata-kata yang buruk, kasar, kotor biasanya keluar juga dari hati yang buruk dan kotor. Seperti kata pepatah: ” mulutmu adalah harimaumu ” dengan kata-kata yang kotor dan kasar yang dikeluarkan seseorang, sebenarnya orang tersebut sedang menggali lubang kuburnya sendiri, bila tak terjerumus ke lobang yang digalinya sendiri, paling tidak orang tersebut banyak musuhnya.
Jadi, dengan kata-kata orang dapat masuk ke syurga dan kehidupannya menjadi lebih baik. Dengan kata-kata pula orang dapat masuk ke neraka dan kehidupannya di dunia menjadi buruk, paling tidak musuhnya ada di mana-mana, loh kok bisa ?
Ya karena kata-katanya sering menyakitkan orang lain, kata-katanya kasar dan kata-katanya penuh dengan keangkuhan atau kesombongan, kata-katanya selalu merendahkan orang lain, seakan kebenaran miliknya sendiri, seakan dia pintar sendiri.
Mari kita berlindung kepada Allah SWTdari orang yang semacam itu, kita berlindung kepada Allah SWT dari kejahatan kata-kata orang yang seperti itu.
Sekali lagi dengan kata-kata, kita dapat masuk ke syurga dan dengan kata-kata pula, kita dapat masuk neraka. Itulah kekuatan kata-kata.
(Syaripudin Zuhri - dari kompasiana.com)
Menyampaikan dakwah kesegala penjuru dunia dengan kekuatan dan potensi masing-masing.
Ada banyak kata-kata yang mengandung kekuatan untuk memajukan diri dan orang lain yaitu kata-kata yang dapat menggerakan diri untuk maju atau mencapai sesuatu yang di cita-citakan.
Kata-kata yang mengandung kekuatan adalah kata-kata yang bernilai positif, kata yang dapat membuat seseorang mencoba merubah hidup dan kehidupannya.
Kata yang mengandung kekuatan adalah kata-kata yang penuh keiklasan, kesabaran, ketaqwaan dan berbagai macam kata positif lainnya. Kata yang mengandung kekuatan dapat merubah seseorang, masyarakat, bangsa atau negara. Katakan dengan kata-kata, jangan diam bila ingin sesuatu atau harapan pada sesuatu menjadi nyata. Jangan diam bila kau menyintai seseorang, katakan suara hatimu pada orang yang memang kau cintai. Agar orang kau cintai itu mengetahui bahwa kau menyintainya.
Kekuatan kata-kata juga ada dalam doa dan dzikir, bayangkan dengan hanya mengucapkan tahlil, tasbih, takbir, tahmid mendapat jaminan syurgaNya.
Dzikir dengan tahlil, tasbih, takbir dan tahmid ucapannya ringan namun timbanganya berat di hadapanNya. Itulah uniknya kata-kata atau kalimat, itulah ajaibnya kata-kata, itulah kekuatan kata-kata.
Kata yang benar dan jujur lebih mempunyai nilai yang tinggi dihadapanNya dan dihadapan manusia. Karena kata yang benar dan jujur adalah kunci pertama manusia dipercaya orang lain.
Kata yang benar dan jujurlah yang menyebabkan Nabi Muhammad sejak muda, sejak beliau belum diangkat menjadi seorang Rosul mendapat gelar ” Al Amin” yang terpecaya.
Karena kata - kata beliau adalah kata-kata yang benar dan jujur. Sehingga kata-kata beliau mempunyai kekuatan yang dapat merubah sejarah, bukan hanya sejarah bangsa Arab, tapi merubah sejarah dunia, dalam tempo hanya 23 tahun.
Bayangkan, padang pasir Arab Saudi yang tak di kenal dunia, yang negara besar Romawi dan Persia yang keduanya mengusai barat dan Timur pada masanya, tak tertarik untuk menguasai tanah nan gersang tersebut.
Nabi dengan kebesaran Nabi Muhammad SAW, dengan kekuatan kata-kata beliau yang terkumpul dalam hadist dan kata-kata ( firman) Allah yang disampaikan kepada beliau dapat merubah kegersangan, kegelapan itu menjadi kesuburan dan cahaya yang terang benderang yang dapat menyinari seluruh penjuru dunia sampai kiamat nanti.
Ya, kata-kata yang mengandung kekuatan bukan asal bunyi, bukan asal bersuara, tapi kata-kata yang terukur, kata-kata yang dipikirkan matang-matang sebelum dikeluarkan. Seperti yang banyak dikatakan orang bijak : lebih baik berkata satu kali, setelah dipikirkan ribuan kali dari pada berkata ribuan kali dengan berpikir satu kali.
Di bawah ini adalah contoh kata-kata yang dapat memotivasi seseorang, masyarakat, bangsa atau negara untuk lebih maju. Banyak kata-kata yang lainnya, diantara sekian banyak kata-kata tersebut, kata positif yang harus dipegang kuat-kuat.
Kata positif bisa dikaitkan dengan kata-kata yang lain, terutama berpikir positif, berbuat yang positif, bertingkah laku positif, berkata pisitif dan seterusnya.
Bagitu juga kata aktif, dinamis, kreatif dan lain sebagainya. Gunakan kata-kata di atas untuk menuju hidup yang lebih baik, kata-kata yang baik, dapat membuat seseorang menjadi lebih baik dan sebaliknya kata-kata yang buruk membuat seseorang dinilai buruk oleh orang lain dan kehidupannya bisa juga semakin buruk.
Kata-kata yang baik, biasanya keluar dari hati yang baik dan jernih dan kata-kata yang buruk, kasar, kotor biasanya keluar juga dari hati yang buruk dan kotor. Seperti kata pepatah: ” mulutmu adalah harimaumu ” dengan kata-kata yang kotor dan kasar yang dikeluarkan seseorang, sebenarnya orang tersebut sedang menggali lubang kuburnya sendiri, bila tak terjerumus ke lobang yang digalinya sendiri, paling tidak orang tersebut banyak musuhnya.
Jadi, dengan kata-kata orang dapat masuk ke syurga dan kehidupannya menjadi lebih baik. Dengan kata-kata pula orang dapat masuk ke neraka dan kehidupannya di dunia menjadi buruk, paling tidak musuhnya ada di mana-mana, loh kok bisa ?
Ya karena kata-katanya sering menyakitkan orang lain, kata-katanya kasar dan kata-katanya penuh dengan keangkuhan atau kesombongan, kata-katanya selalu merendahkan orang lain, seakan kebenaran miliknya sendiri, seakan dia pintar sendiri.
Mari kita berlindung kepada Allah SWTdari orang yang semacam itu, kita berlindung kepada Allah SWT dari kejahatan kata-kata orang yang seperti itu.
Sekali lagi dengan kata-kata, kita dapat masuk ke syurga dan dengan kata-kata pula, kita dapat masuk neraka. Itulah kekuatan kata-kata.
(Syaripudin Zuhri - dari kompasiana.com)
Kata-Kata Berenergi Positif
MEMBACA karya Joe Vitale dalam ‘Zero Limits, Metoda Rahasia Hawaii untuk Memperoleh Kekayaan, Kesehatan, Kedamaian dan Banyak lagi’ sangat luar biasa inspiratif.
Posisi Joe Vitale dalam buku tersebut adalah pihak yang menjelaskan pertemuan dengan sosok Ihaleakala Hew Len yang memiliki cara penyembuhan yang agak aneh.
Salah satu hal yang aneh tersebut adalah Hewlen menyembuhkan sebangsal penuh narapidana yang sakit jiwa tanpa pernah melihat seorang pun dari mereka secara profesional.
Ternyata Hew Len menggunakan metoda penyembuhan dengan sebuah cara “pembersihan diri” secara terus menerus kepada diri sendiri.
Lebih jelasnya pembersihan diri tersebut adalah dengan ungkapan “Saya mengasihi Anda”, “Maafkanlah Saya”, “Terimakasih”, dan terakhir adalah “Salam kedamaian”.
Dalam pandangan Hew Len, untuk memperbaiki dunia, lingkungan atau siapapun maka langkah awal yang harus dilakukan adalah memperbaiki diri sendiri terus menerus.
Sehingga diri kita selalu dalam keadaan bahagia, damai dipenuhi rasa cinta dan kasih sayang kepada semua makhluk baik yang bernyawa maupun yang kelihatan tidak bernyawa. Dan semua “kegagalan” di dunia ini menjadi 100% tanggung jawab kita.
Ketika tanggung jawab sudah 100% kita ambil, maka tidak ada lagi alasan untuk menyalahkan orang lain, mencari kambing hitam dan alasan-alasan lainnya yang dicari-cari.
Bila semua orang memiliki sikap seperti ini maka dunia ini akan sangat damai, dan dipenuhi dengan energi positif yang bertebaran di atmosfer ini. Universe akan tersenyum melihat mental-mental manusia yang sehat, sikap-sikap manusia sebagai pemimpin dunia yang fair.
Secara jujur kita sadari, dunia kita sudah terlalu sesak dipenuhi energi negatif yang bertebaran di sana-sini. Entah berapa perbandingan kuantitatif antara energi negatif dan positif yang bertebaran.
Tapi konon ada pandangan yang mengatakan bahwa 9 energi negatif akan netral dengan 1 energi positif. Benarkah? Memang kita belum memiliki bukti secara ilmiah yang menyimpulkan tesis tersebut.
Tapi secara sederhana kita bisa membuktikan, kalau ada sekelompok orang yang bertikai, kemudian datang seorang arif bijak yang mendamaikan pertikaian tersebut, besar kemungkinan pertikaian tadi bisa dihentikan.
Kalau kita mengambil tanggung jawab 100% untuk membuat kebaikan di lingkungan sekitar kita, maka 1:10 atau bahkan lebih banyak lagi bisa membuat energi positif bertebaran di alam ini.
Apa sih susahnya untuk mengatakan “Saya Mengasihi Anda”, “Terimakasih”, “Maafkanlah Saya”, “Salam kedamaian”, atau bisa ditambah lagi dengan kata-kata lain seperti “Sukses Selalu buat Anda”, “Bahagia selalu untuk Anda”, “Keberkahan untuk Anda” dll.
Isinya adalah doa-doa baik untuk orang sekitar kita dan ungkapan rasa syukur.
Mau mencoba? Ya, harus kita coba dulu efektifitas ungkapan kata-kata tersebut. Dan ungkapan tadi tidak hanya kepada manusia, kepada benda, hewan atau makhluk tidak hidup lainnya juga patut untuk diungkapkan.
Tidak heran kalau penelitian Masaru Emoto dalam The Power of Water yang meneliti tentang air yang diberi ungkapan-ungkapan yang baik-baik akan membentuk kristal yang sangat indah. Sementara air yang dimaki, dimarahi, dibenci akan memunculkan kristal yang jelek.
Memang tidak cukup hanya dengan mengeluarkan kata-kata tersebut di atas lantas akan memperbaiki segalanya. Lakukan berulang-ulang kata-kata tersebut di atas sampai menyatu dengan diri kita.
Apabila kata sudah menyatu dengan pikiran dan hati, siapa yang tahu akan memunculkan keajaiban-keajaiban. Tapi kata-kata tersebut di atas bagi yang mengucapkan dengan sepenuh hati akan memunculkan perasaan bahagia dan damai setiap saat.
Di sisi lain, kita akan terpelihara dari godaan-godaan untuk mengeluarkan kata-kata yang tidak bermanfaat. Sebenarnya kata-kata yang kita ungkapkan memiliki makna berbeda setelah masuk ke dalam pikiran kita.
Pikiran akan memberikan gambaran atas kata yang kita ucapkan. Ketika kita mengucapkan kata mengasihi maka pikiran menggambarkan seseorang yang mengusap-usap seseorang (anak kecil), atau memberikan perhatian kepada orang yang kesusahan atau memberikan menjaga orang yang membutuhkan bantuan.
Ketika mengungkapkan kata “Maafkan saya”, ketika itu pula ada rasa melepaskan energi negatif dan beban yang ada di pikiran dengan sebuah pengakuan. Dan orang yang mendengar kata-kata tersebut juga akan muncul rasa yang lembut yang juga mengucapkan kata yang sama, “Maafkan saya juga”.
Luar biasa indah dunia ini kalau diisi dengan kata-kata yang berenergi positif. Sudah saatnya kita menyadari akan kekuatan ikhlas, kekuatan kebahagiaan, kekuatan kedamaian, kekuatan cinta dan kasih sayang, kekuatan syukur.
Ucapkan kata-kata tersebut terus menerus setiap saat maka kita akan senantiasa berada dalam pencerahan yang luar biasa.
Salam kedamaian, salam kebahagiaan, saya mengasihi Anda, terimakasih, maafkan atas segala kesalahan saya. Sukses selalu buat Anda.
Penulis : GM Radar Pekalongan. Asep Syarifuddin - diambil dari pembelajar.com
Posisi Joe Vitale dalam buku tersebut adalah pihak yang menjelaskan pertemuan dengan sosok Ihaleakala Hew Len yang memiliki cara penyembuhan yang agak aneh.
Salah satu hal yang aneh tersebut adalah Hewlen menyembuhkan sebangsal penuh narapidana yang sakit jiwa tanpa pernah melihat seorang pun dari mereka secara profesional.
Ternyata Hew Len menggunakan metoda penyembuhan dengan sebuah cara “pembersihan diri” secara terus menerus kepada diri sendiri.
Lebih jelasnya pembersihan diri tersebut adalah dengan ungkapan “Saya mengasihi Anda”, “Maafkanlah Saya”, “Terimakasih”, dan terakhir adalah “Salam kedamaian”.
Dalam pandangan Hew Len, untuk memperbaiki dunia, lingkungan atau siapapun maka langkah awal yang harus dilakukan adalah memperbaiki diri sendiri terus menerus.
Sehingga diri kita selalu dalam keadaan bahagia, damai dipenuhi rasa cinta dan kasih sayang kepada semua makhluk baik yang bernyawa maupun yang kelihatan tidak bernyawa. Dan semua “kegagalan” di dunia ini menjadi 100% tanggung jawab kita.
Ketika tanggung jawab sudah 100% kita ambil, maka tidak ada lagi alasan untuk menyalahkan orang lain, mencari kambing hitam dan alasan-alasan lainnya yang dicari-cari.
Bila semua orang memiliki sikap seperti ini maka dunia ini akan sangat damai, dan dipenuhi dengan energi positif yang bertebaran di atmosfer ini. Universe akan tersenyum melihat mental-mental manusia yang sehat, sikap-sikap manusia sebagai pemimpin dunia yang fair.
Secara jujur kita sadari, dunia kita sudah terlalu sesak dipenuhi energi negatif yang bertebaran di sana-sini. Entah berapa perbandingan kuantitatif antara energi negatif dan positif yang bertebaran.
Tapi konon ada pandangan yang mengatakan bahwa 9 energi negatif akan netral dengan 1 energi positif. Benarkah? Memang kita belum memiliki bukti secara ilmiah yang menyimpulkan tesis tersebut.
Tapi secara sederhana kita bisa membuktikan, kalau ada sekelompok orang yang bertikai, kemudian datang seorang arif bijak yang mendamaikan pertikaian tersebut, besar kemungkinan pertikaian tadi bisa dihentikan.
Kalau kita mengambil tanggung jawab 100% untuk membuat kebaikan di lingkungan sekitar kita, maka 1:10 atau bahkan lebih banyak lagi bisa membuat energi positif bertebaran di alam ini.
Apa sih susahnya untuk mengatakan “Saya Mengasihi Anda”, “Terimakasih”, “Maafkanlah Saya”, “Salam kedamaian”, atau bisa ditambah lagi dengan kata-kata lain seperti “Sukses Selalu buat Anda”, “Bahagia selalu untuk Anda”, “Keberkahan untuk Anda” dll.
Isinya adalah doa-doa baik untuk orang sekitar kita dan ungkapan rasa syukur.
Mau mencoba? Ya, harus kita coba dulu efektifitas ungkapan kata-kata tersebut. Dan ungkapan tadi tidak hanya kepada manusia, kepada benda, hewan atau makhluk tidak hidup lainnya juga patut untuk diungkapkan.
Tidak heran kalau penelitian Masaru Emoto dalam The Power of Water yang meneliti tentang air yang diberi ungkapan-ungkapan yang baik-baik akan membentuk kristal yang sangat indah. Sementara air yang dimaki, dimarahi, dibenci akan memunculkan kristal yang jelek.
Memang tidak cukup hanya dengan mengeluarkan kata-kata tersebut di atas lantas akan memperbaiki segalanya. Lakukan berulang-ulang kata-kata tersebut di atas sampai menyatu dengan diri kita.
Apabila kata sudah menyatu dengan pikiran dan hati, siapa yang tahu akan memunculkan keajaiban-keajaiban. Tapi kata-kata tersebut di atas bagi yang mengucapkan dengan sepenuh hati akan memunculkan perasaan bahagia dan damai setiap saat.
Di sisi lain, kita akan terpelihara dari godaan-godaan untuk mengeluarkan kata-kata yang tidak bermanfaat. Sebenarnya kata-kata yang kita ungkapkan memiliki makna berbeda setelah masuk ke dalam pikiran kita.
Pikiran akan memberikan gambaran atas kata yang kita ucapkan. Ketika kita mengucapkan kata mengasihi maka pikiran menggambarkan seseorang yang mengusap-usap seseorang (anak kecil), atau memberikan perhatian kepada orang yang kesusahan atau memberikan menjaga orang yang membutuhkan bantuan.
Ketika mengungkapkan kata “Maafkan saya”, ketika itu pula ada rasa melepaskan energi negatif dan beban yang ada di pikiran dengan sebuah pengakuan. Dan orang yang mendengar kata-kata tersebut juga akan muncul rasa yang lembut yang juga mengucapkan kata yang sama, “Maafkan saya juga”.
Luar biasa indah dunia ini kalau diisi dengan kata-kata yang berenergi positif. Sudah saatnya kita menyadari akan kekuatan ikhlas, kekuatan kebahagiaan, kekuatan kedamaian, kekuatan cinta dan kasih sayang, kekuatan syukur.
Ucapkan kata-kata tersebut terus menerus setiap saat maka kita akan senantiasa berada dalam pencerahan yang luar biasa.
Salam kedamaian, salam kebahagiaan, saya mengasihi Anda, terimakasih, maafkan atas segala kesalahan saya. Sukses selalu buat Anda.
Penulis : GM Radar Pekalongan. Asep Syarifuddin - diambil dari pembelajar.com
Kekuatan Kata-kata Positif
Words are powerful. Kata-kata sungguh berdaya. Kata-kata positif akan membuat pendengarnya optimis, percaya diri, semangat, inovatif, kreatif, energik, bahagia dan sejenisnya.
Ada kebangkitan semangat hidup disana. Dunia terasa indah dan menjanjikan. Perubahan lebih baik tengah menanti untuk segera diukir oleh kekuatan mental positif yang beranggotakan kata-kata motivasional positif dan konstruktif.
Sebaliknya, kata-kata negatif dapat membuat kondisi sebaliknya. Pendengarnya akan menjadi pesimis, minder, tidak percaya diri, frustrasi, patah hati, antipati, sedih, kecewa, merana, tercampakkan, teraniaya, terluka, terkebiri sampai akhirnya bunuh diri.
Hidup terasa hampa. Biarlah mengalir seperti apa adanya. Tidak ada daya disana. Tidak pula ada upaya. Semuanya pasrah, pasrah dan pasrah. Biar nasib yang bekerja sendiri. Inilah konsekuensi logis dan nyata dari pengaruh kata-kata.
Menyadari betapa kata-kata yang hanya terdiri dari susunan alfabet sederhana itu memiliki daya pengaruh yang luar biasa dan bisa berdampak negatif jika tidak dirangkai secara bijaksana, badan meteorologi dunia pun membuat nama-nama badai yang sesungguhnya sangat menghancurkan dan mematikan itu dengan terminologi indah dan menghibur.
Ada sederet koleksi nama-nama indah itu sejak tahun 2005: Arlene, Bret, Cindy, Dennis, Emily, Franklin, Gert, Harvey, Irene, Jose, Katrina Lee, Maria, Nate, Ophelia, Philippe, Rita, Stan, Tammy, Vince, Wilma.
Sistem penamaan badai dirotasi setiap enam tahun sehingga daftar ini akan digunakan lagi pada 2011, dengan perkecualian badai paling mematikan akan dikeluarkan dari daftar.
Katrina tampaknya menjadi calon utama yang akan tersingkir enam tahun lagi, seperti Floyd dan Lenny yang ada di daftar 1999 namun tahun ini "pensiun" digantikan Franklin dan Lee.
Nama-nama yang indah, bukan? Kesan seram dan menakutkan menjadi sirna karena kekuatan keindahan terminologi itu.
Mengacu dan berpedoman pada kekuatan pemilihan dan penggunaan kata-kata itu, sebaiknya ada saringan yang dilakukan terlebih dahulu ketika berhadapan dengan para pelanggan.
Kata-kata kurang baik sebaiknya ditelan saja demi menjaga hubungan relasi agar tetap baik. Seorang tokoh besar Inggris, Sir Winston Churchill, punya pribahasa yang tepat soal ini, ‘by swallowing evil words unsaid, no one has ever harmed his stomach.'
Denyut perut yang menggelisahkan tidak akan terjadi jika kata-kata kurang baik tidak jadi diucapkan kepada orang lain. Suasana perbincangan akan tetap kondusif dan simpatik.
Karena sesungguhnya, sebagaimana dikuatkan oleh sebuah pepatah Tionghoa - kata-kata yang manis (positif) akan bisa menghangatkan jasmani selama tiga musim dingin, sementara kata-kata kasar (negatif) bahkan bisa menjadi puncak ultimat di musim panas.
Demikian bunyi lengkap pribahasanya: ‘kind words can warm for three winters, while harsh words can chill even in the heat of summer.'
(Penulis : Ponijan Liaw dari - andriewongso.com)
Ada kebangkitan semangat hidup disana. Dunia terasa indah dan menjanjikan. Perubahan lebih baik tengah menanti untuk segera diukir oleh kekuatan mental positif yang beranggotakan kata-kata motivasional positif dan konstruktif.
Sebaliknya, kata-kata negatif dapat membuat kondisi sebaliknya. Pendengarnya akan menjadi pesimis, minder, tidak percaya diri, frustrasi, patah hati, antipati, sedih, kecewa, merana, tercampakkan, teraniaya, terluka, terkebiri sampai akhirnya bunuh diri.
Hidup terasa hampa. Biarlah mengalir seperti apa adanya. Tidak ada daya disana. Tidak pula ada upaya. Semuanya pasrah, pasrah dan pasrah. Biar nasib yang bekerja sendiri. Inilah konsekuensi logis dan nyata dari pengaruh kata-kata.
Menyadari betapa kata-kata yang hanya terdiri dari susunan alfabet sederhana itu memiliki daya pengaruh yang luar biasa dan bisa berdampak negatif jika tidak dirangkai secara bijaksana, badan meteorologi dunia pun membuat nama-nama badai yang sesungguhnya sangat menghancurkan dan mematikan itu dengan terminologi indah dan menghibur.
Ada sederet koleksi nama-nama indah itu sejak tahun 2005: Arlene, Bret, Cindy, Dennis, Emily, Franklin, Gert, Harvey, Irene, Jose, Katrina Lee, Maria, Nate, Ophelia, Philippe, Rita, Stan, Tammy, Vince, Wilma.
Sistem penamaan badai dirotasi setiap enam tahun sehingga daftar ini akan digunakan lagi pada 2011, dengan perkecualian badai paling mematikan akan dikeluarkan dari daftar.
Katrina tampaknya menjadi calon utama yang akan tersingkir enam tahun lagi, seperti Floyd dan Lenny yang ada di daftar 1999 namun tahun ini "pensiun" digantikan Franklin dan Lee.
Nama-nama yang indah, bukan? Kesan seram dan menakutkan menjadi sirna karena kekuatan keindahan terminologi itu.
Mengacu dan berpedoman pada kekuatan pemilihan dan penggunaan kata-kata itu, sebaiknya ada saringan yang dilakukan terlebih dahulu ketika berhadapan dengan para pelanggan.
Kata-kata kurang baik sebaiknya ditelan saja demi menjaga hubungan relasi agar tetap baik. Seorang tokoh besar Inggris, Sir Winston Churchill, punya pribahasa yang tepat soal ini, ‘by swallowing evil words unsaid, no one has ever harmed his stomach.'
Denyut perut yang menggelisahkan tidak akan terjadi jika kata-kata kurang baik tidak jadi diucapkan kepada orang lain. Suasana perbincangan akan tetap kondusif dan simpatik.
Karena sesungguhnya, sebagaimana dikuatkan oleh sebuah pepatah Tionghoa - kata-kata yang manis (positif) akan bisa menghangatkan jasmani selama tiga musim dingin, sementara kata-kata kasar (negatif) bahkan bisa menjadi puncak ultimat di musim panas.
Demikian bunyi lengkap pribahasanya: ‘kind words can warm for three winters, while harsh words can chill even in the heat of summer.'
(Penulis : Ponijan Liaw dari - andriewongso.com)
Memanfaatkan Kata-kata Positif
Kata-kata ada di mana-mana dan kita pun menggunakannya setiap saat.
Ketika kita menulis, kita menggunakan kata-kata.
Ketika kita berbicara kita menggunakan kata-kata.
Ketika kita membaca, kita juga menggunakan kata-kata.
Ketika kita berpikir pun, kita senantiasa menggunakan kata-kata.
Michael J Losier dalam bukunya Law or Attraction mengatakan bahwa kata-kata kita mempunyai kekuatan yang dahsyat untuk mewujudkan getaran yang dipancarkannya. Jadi, mengapa kita harus menggunakan kata-kata yang tidak kita inginkan? Gunakan saja kata-kata yang mengungkapkan hal-hal yang menjadi harapan kita agar hal-hal tersebut bisa terwujud.
Bagaimana caranya? Simak yang berikut.
Hentikan yang Negatif
Jangan terlambat. Jangan ambil rute itu. Jangan panik. Jangan ragu-ragu menghubungi saya. Dilarang parkir di sini. Dilarang merokok. Dilarang buang sampah sembarangan.
Sepertinya kalimat-kalimat ini baik-baik saja. Sepertinya semuanya menunjukkan perhatian kita akan hal-hal positif. Tetapi, ternyata kata-kata ini bisa mewujudkan hal-hal yang sebaliknya.
Ketika kita berkata “Jangan terlambat”, sebenarnya kita memancarkan “energi” kekhawatiran akan keterlembatan tersebut.
Energi yang terpancar inilah yang akan membuat apa yang kita khawatirkan terwujud. Sebagai contoh, perhatikan pengalaman Ibu Emmy.
Ibu Emmy senantiasa menggunakan taksi untuk pergi kekantor. Untuk itu, ia selalu memesan taksi pada pembantunya (ketika itu jasa pesan taksi melalui telepon belum lazim).
Pada suatu waktu, ia mendapat pembantu baru. Seperti biasa, Ibu Emmy memesan kepada pembantunya tersebut: “Mbak, tolong carikan taksi untuk saya. Taksi apa saja asalkan 'jangan' yang kuning, ya. Sekali lagi "jangan yang kuning.”
Beberapa saat kemudian, sang pembantu datang dengan menaiki taksi berwarna kuning! Ternyata, kata-kata terakhir Ibu Emmy yang senantiasa diulang itulah yang diingat oleh sang pembantu.
Kata-kata ini berhasil terwujud. Kalau saja ibu Emmy mengatakan “Ambil taksi yang biru ya” dan mengulang-ulang kata-kata biru tersebut, dapat dipastikan Ibu Emmy juga akan mendapatkan taksi berwarna biru.
Hasil survei juga membuktikan bahwa kata-kata yang kita gunakan memiliki energi untuk menggerakkan kita mewujudkankannya. Jadi, gunakan kata-kata yang memancarkan energi positif, yaitu kata-kata yang mengungkapkan harapan dan keinginan kita.
Ganti Jadi Positif
Di sebuah taman kanak-kanak, para guru diberi pelatihan untuk mengganti kata-kata negatif (hal-hal yang ingin dihindari) dengan ungkapan yang positif yang ingin diwujudkan dalam berkomunikasi dengan anak-anak.
Sebab, penelitian mengungkapkan bahwa yang diingat orang adalah kata-kata atau ungkapan yang diberi penekanan dengan perasaan dan perhatian.
Sebagai contoh, perhatikan tabel di bawah yang membandingkan dua ungkapan yang sama dengan kata-kata yang berbeda: yang satu menggunakan ungkapan negatif (yang tidak kita inginkan), yang lain menggunakan ungkapan positif (yang menjadi harapan kita).
Ternyata, dengan cara mengganti kata-kata negatif menjadi positif, para guru berhasil membuat siswa melakukan apa yang mereka inginkan. Jadi, dari ilustrasi ini kita belajar bahwa kata-kata yang kita gunakan (baik negatif ataupun positif), memiliki kekuatan untuk mengundang semesta mewujudkannya.
Jadi, di mana pun kita berkarya dan pekerjaan apa pun yang kita lakukan, pastikan agar kata-kata yang kita gunakan adalah kata-kata atau ungkapan yang mengandung harapan dan keinginan yang hendak kita wujudkan.
Biasakan Berkata Positif
Setelah kita tahu bahwa kata-kata mempunyai kekuatan dahsyat untuk mewujudkan makna yang terkandung di dalamnya, kita bisa mulai memilih kata-kata positif untuk kita gunakan dalam seluruh aspek kehidupan kita:
Daripada berpikir dengan menggunakan kata-kata “Saya tidak boleh panik dalam menghadapi situasi ini”, lebih baik kita berpikir dengan kata-kata positif, “Saya harus tenang dalam menghadapi situasi ini.”
Daripada membaca buku, artikel, atau majalah yang dipenuhi dengan ungkapan-ungkapan negatif, lebih baik kita mengambil buku-buku, artikel atau majalah yang banyak menggunakan kata-kata positif.
Dari pada menonton sebuah tayangan yang banyak berisi ungkapan negatif, lebih baik kita memilih tayangan yang lebih banyak menggunakan ungkapan positif.
Jadi intinya, di mana pun kita berada, apa pun yang kita pikirkan, ucapkan, dan amati, pastikan kita memilih hal-hal yang menggunakan kata-kata positif.
Jika kita dikelilingi kata-kata positif, energi positif yang dipancarkan akan mempercepat kita untuk mewujudkan hal-hal positif yang ingin kita raih.
Pupuk Kebiasaan
Nah, jika kata-kata positif dapat berwujud menjadi hal-hal positif, mengapa tidak kita mulai untuk memupuk kebiasaan menggunakan kata-kata positif.
Buatlah daftar kata-kata ”negatif” yang sering kita gunakan, coba cari padanan katanya yang lebih mengungkapkan apa yang ingin kita wujudkan. Masukan kata-kata atau pun ungkapan tersebut dalam kosa kata yang aktif kita gunakan sehari-hari.
Mungkin kita bisa memulai dari satu ungkapan terlebih dulu, untuk kemudian kita tambah lagi setiap hari atau pun setiap minggu, sampai akhirnya kebiasaan tersebut terbentuk.
Jika kita sudah memiliki kebiasaan untuk memilih dan menggunakan kata-kata positif, kata-kata tersebut akan mengalir secara otomatis di pikiran, ucapan, bacaan, dan tayangan yang kita pilih.
Akhirnya, kita tinggal memetik keuntungan dari kata-kata positif yang kita gunakan tersebut.
Masih adakah kata-kata negatif yang sering Anda gunakan? Ganti kata-kata negatif dengan yang positif, tanamkan kebiasaan menggunakan kata-kata positif.
(aremanitaku.multiply.com mengutip dari sumber : sinar harapan)
Ketika kita menulis, kita menggunakan kata-kata.
Ketika kita berbicara kita menggunakan kata-kata.
Ketika kita membaca, kita juga menggunakan kata-kata.
Ketika kita berpikir pun, kita senantiasa menggunakan kata-kata.
Michael J Losier dalam bukunya Law or Attraction mengatakan bahwa kata-kata kita mempunyai kekuatan yang dahsyat untuk mewujudkan getaran yang dipancarkannya. Jadi, mengapa kita harus menggunakan kata-kata yang tidak kita inginkan? Gunakan saja kata-kata yang mengungkapkan hal-hal yang menjadi harapan kita agar hal-hal tersebut bisa terwujud.
Bagaimana caranya? Simak yang berikut.
Hentikan yang Negatif
Jangan terlambat. Jangan ambil rute itu. Jangan panik. Jangan ragu-ragu menghubungi saya. Dilarang parkir di sini. Dilarang merokok. Dilarang buang sampah sembarangan.
Sepertinya kalimat-kalimat ini baik-baik saja. Sepertinya semuanya menunjukkan perhatian kita akan hal-hal positif. Tetapi, ternyata kata-kata ini bisa mewujudkan hal-hal yang sebaliknya.
Ketika kita berkata “Jangan terlambat”, sebenarnya kita memancarkan “energi” kekhawatiran akan keterlembatan tersebut.
Energi yang terpancar inilah yang akan membuat apa yang kita khawatirkan terwujud. Sebagai contoh, perhatikan pengalaman Ibu Emmy.
Ibu Emmy senantiasa menggunakan taksi untuk pergi kekantor. Untuk itu, ia selalu memesan taksi pada pembantunya (ketika itu jasa pesan taksi melalui telepon belum lazim).
Pada suatu waktu, ia mendapat pembantu baru. Seperti biasa, Ibu Emmy memesan kepada pembantunya tersebut: “Mbak, tolong carikan taksi untuk saya. Taksi apa saja asalkan 'jangan' yang kuning, ya. Sekali lagi "jangan yang kuning.”
Beberapa saat kemudian, sang pembantu datang dengan menaiki taksi berwarna kuning! Ternyata, kata-kata terakhir Ibu Emmy yang senantiasa diulang itulah yang diingat oleh sang pembantu.
Kata-kata ini berhasil terwujud. Kalau saja ibu Emmy mengatakan “Ambil taksi yang biru ya” dan mengulang-ulang kata-kata biru tersebut, dapat dipastikan Ibu Emmy juga akan mendapatkan taksi berwarna biru.
Hasil survei juga membuktikan bahwa kata-kata yang kita gunakan memiliki energi untuk menggerakkan kita mewujudkankannya. Jadi, gunakan kata-kata yang memancarkan energi positif, yaitu kata-kata yang mengungkapkan harapan dan keinginan kita.
Ganti Jadi Positif
Di sebuah taman kanak-kanak, para guru diberi pelatihan untuk mengganti kata-kata negatif (hal-hal yang ingin dihindari) dengan ungkapan yang positif yang ingin diwujudkan dalam berkomunikasi dengan anak-anak.
Sebab, penelitian mengungkapkan bahwa yang diingat orang adalah kata-kata atau ungkapan yang diberi penekanan dengan perasaan dan perhatian.
Sebagai contoh, perhatikan tabel di bawah yang membandingkan dua ungkapan yang sama dengan kata-kata yang berbeda: yang satu menggunakan ungkapan negatif (yang tidak kita inginkan), yang lain menggunakan ungkapan positif (yang menjadi harapan kita).
Ternyata, dengan cara mengganti kata-kata negatif menjadi positif, para guru berhasil membuat siswa melakukan apa yang mereka inginkan. Jadi, dari ilustrasi ini kita belajar bahwa kata-kata yang kita gunakan (baik negatif ataupun positif), memiliki kekuatan untuk mengundang semesta mewujudkannya.
Jadi, di mana pun kita berkarya dan pekerjaan apa pun yang kita lakukan, pastikan agar kata-kata yang kita gunakan adalah kata-kata atau ungkapan yang mengandung harapan dan keinginan yang hendak kita wujudkan.
Biasakan Berkata Positif
Setelah kita tahu bahwa kata-kata mempunyai kekuatan dahsyat untuk mewujudkan makna yang terkandung di dalamnya, kita bisa mulai memilih kata-kata positif untuk kita gunakan dalam seluruh aspek kehidupan kita:
- apa yang kita ucapkan,
- apa yang kita pikirkan,
- apa yang kita baca, dan
- apa yang kita amati.
Daripada berpikir dengan menggunakan kata-kata “Saya tidak boleh panik dalam menghadapi situasi ini”, lebih baik kita berpikir dengan kata-kata positif, “Saya harus tenang dalam menghadapi situasi ini.”
Daripada membaca buku, artikel, atau majalah yang dipenuhi dengan ungkapan-ungkapan negatif, lebih baik kita mengambil buku-buku, artikel atau majalah yang banyak menggunakan kata-kata positif.
Dari pada menonton sebuah tayangan yang banyak berisi ungkapan negatif, lebih baik kita memilih tayangan yang lebih banyak menggunakan ungkapan positif.
Jadi intinya, di mana pun kita berada, apa pun yang kita pikirkan, ucapkan, dan amati, pastikan kita memilih hal-hal yang menggunakan kata-kata positif.
Jika kita dikelilingi kata-kata positif, energi positif yang dipancarkan akan mempercepat kita untuk mewujudkan hal-hal positif yang ingin kita raih.
Pupuk Kebiasaan
Nah, jika kata-kata positif dapat berwujud menjadi hal-hal positif, mengapa tidak kita mulai untuk memupuk kebiasaan menggunakan kata-kata positif.
Buatlah daftar kata-kata ”negatif” yang sering kita gunakan, coba cari padanan katanya yang lebih mengungkapkan apa yang ingin kita wujudkan. Masukan kata-kata atau pun ungkapan tersebut dalam kosa kata yang aktif kita gunakan sehari-hari.
Mungkin kita bisa memulai dari satu ungkapan terlebih dulu, untuk kemudian kita tambah lagi setiap hari atau pun setiap minggu, sampai akhirnya kebiasaan tersebut terbentuk.
Jika kita sudah memiliki kebiasaan untuk memilih dan menggunakan kata-kata positif, kata-kata tersebut akan mengalir secara otomatis di pikiran, ucapan, bacaan, dan tayangan yang kita pilih.
Akhirnya, kita tinggal memetik keuntungan dari kata-kata positif yang kita gunakan tersebut.
Masih adakah kata-kata negatif yang sering Anda gunakan? Ganti kata-kata negatif dengan yang positif, tanamkan kebiasaan menggunakan kata-kata positif.
(aremanitaku.multiply.com mengutip dari sumber : sinar harapan)
Mengendalikan Kekuatan Kata-kata
Kata-kata atau frasa adalah seperti sebuah pedang bermata dua. Jika digunakan dengan tepat dapat memberikan banyak manfaat bagi kehidupan kita, sebaliknya jika di gunakan tidak tepat akan membawa kerugian dan bencana bagi kita .
Kata kata positif dapat membuat seseorang bangkit dan bersemangat kembali menjalani kehidupan-nya sehari hari , memotivasi seseorang meraih sukses , juga menjadi doa yang mustajab.
Sebaliknya kata kata atau frasa negatif akan membahayaan dan merugikan hidup kita . kata kata atau frasa seakan memiliki nyawa yang dapat mempengaruhi sikap mental dan prilaku orang yang mengucapkannya maupun orang yang mendengarkannya , maka dari itu sebaiknya mampu mengendalikan kata kata yang kita ucapkan.
Tanpa kata-kata, tidak ada yang bisa kita dengar, tidak ada yang kita tulis , tidak ada yang bisa kita baca, tanpa kata-kata, tidak ada yang bisa kita mengerti, dan tanpa kata-kata, tidak bisa kita berkarya. Kata-kata memiliki kekuatan yang dahsyat.
Kita hidup pasti melakukan berbagai kegiatan: berbicara,mendengar, menulis, membaca , berpikir, dan bekerja, Semua kegiatan tersebut tidak bisa terlepas dari kata-kata. Tanpa kata-kata, tidak ada yang bisa kita bicarakan dan kita komunikasikan.
Yang perlu kita perhatikan dalam mengendalikan kekuatan kata-kata agar memberikan pengaruh yang positif bagi kehidupan kita adalah sebagai berikut :
Berbicara yang Positif
Ilustrasi berikut dapat menggambarkan bagaimana kata-kata positif yang diucapkan seseorang dapat melepaskannya dari masalah dan membawa keberuntungan.
Alkisah pada suatu malam, seorang raja bermimpi aneh. Dalam mimpi itu gigi sang raja tanggal semuanya. Keesokan harinya ia memanggil orang penasehat yang dapat menafsirkankan mimpi raja tersebut.
Seorang penasehat pertama yang dipanggil berkata kepada raja, ”Paduka Raja, mimpi Paduka mempunyai arti bahwa seluruh keluarga dan kerabat dekat Paduka akan meninggal dunia.”
Mendengar kabar yang buruk ini, emosi sang raja meluap karena marah. Sang raja memerintahkan pada pengawalnya untuk memenjarakan penasehat pertama tersebut.
Kemudian Raja memanggil penasehat kedua untuk mengartikan mimpi aneh sang raja. Penasehat kedua ini mengatakan pada raja, ”Wahai Paduka Raja, mimpi Paduka tersebut adalah pertanda baik bagi Paduka. Mimpi tersebut berarti bahwa Paduka Raja akan dianugerahi umur panjang, bahkan lebih panjang dari keluarga dan handai taulan terdekat Paduka.”
Mendengar berita baik yang disampaikan, sang Raja pun merasa senang. Kemudian Raja menyuruh pengawalnya untuk memberikan beberapa keping emas kepada penasehat kedua itu.
Cerita tersebut diatas menunjukkan bahwa pada dasarnya kedua penasehat tersebut menyampaikan hal yang sama namun dikemas dengan pilihan kata-kata yang berbeda. Dari ilustrasi tersebut kita bisa belajar untuk berhati-hati dalam berbicara, yaitu untuk memilih kata-kata positif dalam berbicara.
Mendengar yang Positif
Sering kali kita mendengar orang tua berbicara secara negatif tanpa di sadarinya , seperti menkatakan anaknya , ”Kamu memang anak bodoh, anak malas ,anak bandel, dan tidak tau diuntung.
Kamu pasti tidak akan berhasil karena kamu memang bodoh, bandel, suka menyusahkan orang tua dan lain sebagainya ” Padahal jika kata-kata tersebut sering di katakan berulang-ulang, maka sang anak akan benar-benar percaya dan yakin kalau dirinya memang seperti itu bodoh, bandel, dan sering menyusahkan orang tua.
Sang anak pun akhirnya terdorong untuk malas belajar, dan melakukan hal-hal yang dianggap bandel dan menyusahkan orang tua” seperti yang kata-kata yang didengarnya. Hal seperti itu tidak hanya terjadi pada anak-anak saja.
Orang dewasa pun bisa terpengaruh pada apa yang mereka dengar. Jadi, apa yang harus dilakukan agar kita mendapat pengaruh positif?
Jika kita sulit mempengaruhi orang – orang di sekitar kita untuk berbicara positif, maka yang bisa kita lakukan adalah berteman dengan orang-orang yang senang berbicara positif.
Dengan berteman dengan orang-orang seperti itu, maka kita terpacu untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang positif, yang akhirnya akan mempengaruhi sikap, tindakan, dan keputusan yang kita lakukan dalam kehidupan kita .
Membaca dan Melihat yang Positif
Bacaan adalah salah satu media sumber informasi bagi pikiran kita. Jika kita banyak mengkonsumsi bacaan yang positif (misalnya: bacaan mengenai biografi orang-orang sukses, motivasi , tips hidup sehat ataupun strategi juga inovasi terbaru diberbagai bidang), maka pengetahuan kita terhadap topik yang telah kita baca bertambah.
Pengetahuan tersebut yang seringkali membangkitkan keingin-tahuan kita untuk mencoba dan mempraktekan pengetahuan tersebut.
Contohnya ketika kita membaca tentang ” cara atau tips membingkai sikap mental juara “, maka wajar saja jika kita segera ingin mempraktekkan apa yang telah kita baca dan kita ketahui.
Jadi, untuk mengendalikan kekuatan kata-kata, kita perlu juga berhati-hati dalam memilih buku atau artikel yang kita baca. Demikian juga dengan berbagai media yang kita lihat tentu akan sangat berpengaruh pada sikap mental dan pola pikir kita.
Berpikir Positif
Bahwa pikiran kita seringkali bertindak sebagai magnet yang ampuh untuk mengundang segala sesuatu yang kita pikirkan untuk terwujud.
Pikiran kita ini akan menggerakkan seluruh bagian dari kita (fisik, emosi, dan semangat) untuk bergerak ke arah yang kita pikirkan.
Jika kita memusatkan pikiran kita pada kegagalan maka yang terjadi pasti kita akan mengundang datangnya kegagalan. Sebaliknya, jika kita memusatkan pikiran kita untuk meraih Kesuksesan, pasti sukseslah yang akan kita temui.
Jadi, jika kita ingin sukses, ingin sehat, ingin berprestasi, ingin bahagia dan sebagainya mengapa tidak kita coba memusatkan pikiran kita untuk meraih hal-hal positif yang kita pikirkan tersebut ?
Kehidupan manusia tidak terlepas dari kata-kata yang memiliki kekuatan yang dahsyat. Kekuatan kata kata atau frasa dapat kita kendalikan untuk memberikan manfaat bagi kita dengan berbicara, mendengar, membaca atau melihat dan berpikir positif.
Jadi marilah kita gunakan kata-kata positif agar meraih manfaat yang positif dari kekuatan kata-kata yang kita ucapkan !
'Saya telah memanjatkan do’a kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar lidah saya dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk menyatakan perasaan hati saya, dan saya juga telah berdo’a agar kata-kata ini akan bergema dalam hati sanubari mereka yang mendengarnya.' ( BUNG KARNO )
(hipnotherapi.wordpress.com)
Kata kata positif dapat membuat seseorang bangkit dan bersemangat kembali menjalani kehidupan-nya sehari hari , memotivasi seseorang meraih sukses , juga menjadi doa yang mustajab.
Sebaliknya kata kata atau frasa negatif akan membahayaan dan merugikan hidup kita . kata kata atau frasa seakan memiliki nyawa yang dapat mempengaruhi sikap mental dan prilaku orang yang mengucapkannya maupun orang yang mendengarkannya , maka dari itu sebaiknya mampu mengendalikan kata kata yang kita ucapkan.
Tanpa kata-kata, tidak ada yang bisa kita dengar, tidak ada yang kita tulis , tidak ada yang bisa kita baca, tanpa kata-kata, tidak ada yang bisa kita mengerti, dan tanpa kata-kata, tidak bisa kita berkarya. Kata-kata memiliki kekuatan yang dahsyat.
Kita hidup pasti melakukan berbagai kegiatan: berbicara,mendengar, menulis, membaca , berpikir, dan bekerja, Semua kegiatan tersebut tidak bisa terlepas dari kata-kata. Tanpa kata-kata, tidak ada yang bisa kita bicarakan dan kita komunikasikan.
Yang perlu kita perhatikan dalam mengendalikan kekuatan kata-kata agar memberikan pengaruh yang positif bagi kehidupan kita adalah sebagai berikut :
Berbicara yang Positif
Ilustrasi berikut dapat menggambarkan bagaimana kata-kata positif yang diucapkan seseorang dapat melepaskannya dari masalah dan membawa keberuntungan.
Alkisah pada suatu malam, seorang raja bermimpi aneh. Dalam mimpi itu gigi sang raja tanggal semuanya. Keesokan harinya ia memanggil orang penasehat yang dapat menafsirkankan mimpi raja tersebut.
Seorang penasehat pertama yang dipanggil berkata kepada raja, ”Paduka Raja, mimpi Paduka mempunyai arti bahwa seluruh keluarga dan kerabat dekat Paduka akan meninggal dunia.”
Mendengar kabar yang buruk ini, emosi sang raja meluap karena marah. Sang raja memerintahkan pada pengawalnya untuk memenjarakan penasehat pertama tersebut.
Kemudian Raja memanggil penasehat kedua untuk mengartikan mimpi aneh sang raja. Penasehat kedua ini mengatakan pada raja, ”Wahai Paduka Raja, mimpi Paduka tersebut adalah pertanda baik bagi Paduka. Mimpi tersebut berarti bahwa Paduka Raja akan dianugerahi umur panjang, bahkan lebih panjang dari keluarga dan handai taulan terdekat Paduka.”
Mendengar berita baik yang disampaikan, sang Raja pun merasa senang. Kemudian Raja menyuruh pengawalnya untuk memberikan beberapa keping emas kepada penasehat kedua itu.
Cerita tersebut diatas menunjukkan bahwa pada dasarnya kedua penasehat tersebut menyampaikan hal yang sama namun dikemas dengan pilihan kata-kata yang berbeda. Dari ilustrasi tersebut kita bisa belajar untuk berhati-hati dalam berbicara, yaitu untuk memilih kata-kata positif dalam berbicara.
Mendengar yang Positif
Sering kali kita mendengar orang tua berbicara secara negatif tanpa di sadarinya , seperti menkatakan anaknya , ”Kamu memang anak bodoh, anak malas ,anak bandel, dan tidak tau diuntung.
Kamu pasti tidak akan berhasil karena kamu memang bodoh, bandel, suka menyusahkan orang tua dan lain sebagainya ” Padahal jika kata-kata tersebut sering di katakan berulang-ulang, maka sang anak akan benar-benar percaya dan yakin kalau dirinya memang seperti itu bodoh, bandel, dan sering menyusahkan orang tua.
Sang anak pun akhirnya terdorong untuk malas belajar, dan melakukan hal-hal yang dianggap bandel dan menyusahkan orang tua” seperti yang kata-kata yang didengarnya. Hal seperti itu tidak hanya terjadi pada anak-anak saja.
Orang dewasa pun bisa terpengaruh pada apa yang mereka dengar. Jadi, apa yang harus dilakukan agar kita mendapat pengaruh positif?
Jika kita sulit mempengaruhi orang – orang di sekitar kita untuk berbicara positif, maka yang bisa kita lakukan adalah berteman dengan orang-orang yang senang berbicara positif.
Dengan berteman dengan orang-orang seperti itu, maka kita terpacu untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang positif, yang akhirnya akan mempengaruhi sikap, tindakan, dan keputusan yang kita lakukan dalam kehidupan kita .
Membaca dan Melihat yang Positif
Bacaan adalah salah satu media sumber informasi bagi pikiran kita. Jika kita banyak mengkonsumsi bacaan yang positif (misalnya: bacaan mengenai biografi orang-orang sukses, motivasi , tips hidup sehat ataupun strategi juga inovasi terbaru diberbagai bidang), maka pengetahuan kita terhadap topik yang telah kita baca bertambah.
Pengetahuan tersebut yang seringkali membangkitkan keingin-tahuan kita untuk mencoba dan mempraktekan pengetahuan tersebut.
Contohnya ketika kita membaca tentang ” cara atau tips membingkai sikap mental juara “, maka wajar saja jika kita segera ingin mempraktekkan apa yang telah kita baca dan kita ketahui.
Jadi, untuk mengendalikan kekuatan kata-kata, kita perlu juga berhati-hati dalam memilih buku atau artikel yang kita baca. Demikian juga dengan berbagai media yang kita lihat tentu akan sangat berpengaruh pada sikap mental dan pola pikir kita.
Berpikir Positif
Bahwa pikiran kita seringkali bertindak sebagai magnet yang ampuh untuk mengundang segala sesuatu yang kita pikirkan untuk terwujud.
Pikiran kita ini akan menggerakkan seluruh bagian dari kita (fisik, emosi, dan semangat) untuk bergerak ke arah yang kita pikirkan.
Jika kita memusatkan pikiran kita pada kegagalan maka yang terjadi pasti kita akan mengundang datangnya kegagalan. Sebaliknya, jika kita memusatkan pikiran kita untuk meraih Kesuksesan, pasti sukseslah yang akan kita temui.
Jadi, jika kita ingin sukses, ingin sehat, ingin berprestasi, ingin bahagia dan sebagainya mengapa tidak kita coba memusatkan pikiran kita untuk meraih hal-hal positif yang kita pikirkan tersebut ?
Kehidupan manusia tidak terlepas dari kata-kata yang memiliki kekuatan yang dahsyat. Kekuatan kata kata atau frasa dapat kita kendalikan untuk memberikan manfaat bagi kita dengan berbicara, mendengar, membaca atau melihat dan berpikir positif.
Jadi marilah kita gunakan kata-kata positif agar meraih manfaat yang positif dari kekuatan kata-kata yang kita ucapkan !
'Saya telah memanjatkan do’a kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar lidah saya dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk menyatakan perasaan hati saya, dan saya juga telah berdo’a agar kata-kata ini akan bergema dalam hati sanubari mereka yang mendengarnya.' ( BUNG KARNO )
(hipnotherapi.wordpress.com)
Dengan Memainkan Kata-Kata Bisa Beromzet Ratusan Juta Perbulan
BERMAIN dengan kata-kata merupakan hal yang sangat mengasyikkan. Di Bali, produsen cinderamata Jogger dengan tegas menyebut dirinya sebagai pabrik kata-kata. Sedemikian rupa mereka bermain kata-kata sebagai hiasan barang-barang yang mereka jual. Hasilnya, luar biasa.
Omset dari “pabrik kata-kata” itu bisa mencapai ratusan juta rupiah perbulan. Jumlah yang mencapai ratusan juta itu hanyalah “dampak” dari strategi yang dipilih sang enterpreneur. Strategi memanfaatkan “kata-kata” untuk mempengaruhi orang lain agar menjadi calon pembeli produk dari “pabrik kata-kata” tersebut.
Untuk melihat kekuatan kata-kata, kita tak perlu merangkai banyak kata. Kata bisa menjadi sebuah “tombol on-off” untuk memulai atau menghentikan aktivitas. Ketika sebuah “kata” diucapkan, atau lebih tepat diteriakkan, dampaknya akan luar biasa.
Di dunia militer, kata “siap” memiliki makna yang luar biasa. Sebuah jaminan bahwa apa yang diperintahkan bakal dilaksanakan.
Nah, pernahkah terpikir oleh Anda, bagaimana ihwal orang memaknai kata-kata? Jikalau pun terpikir, tentulah akan menemui “pintu gerbang” sebuah lorong waktu yang jaraknya barangkali sejauh perjalanan dan sejarah umat manusia.
Entah sudah berapa juta tahun, yang pasti saat kita lahir, kata-kata itu sudah ada lengkap dengan maknanya.
Di kalangan sastrawan, satu kata bisa diibaratkan memiliki seribu makna. Memungkinkan, karena dunia mereka memungkinkan pembiasan makna. Hanya untuk mengungkapkan “aku cinta kamu” saja membutuhkan beberapa bait kalimat, karena ungkapan itu dibuat dalam bentuk puisi.
Di kalangan pelaku marketing pemilihan kata menjadi penting, karena kesalahan memilih kata bisa memunculkan tanda tanya. Bagi penjual, pemahaman kata-kata tak kalah penting. Jika salah menuliskan angka, dampaknya juga bisa tidak terkira. Bayangkan jika “seratus juta saja”, disebut “seratus ribu saja”.
Di dunia olahraga, kita juga sering mendengar ungkapan yang bisa bermakna luar biasa. Hanya dengan teriakan, “Kamu bisa!”, “Tenang, menang!” atau kata-kata lain yang mempunyai makna sugestif.
Sebaliknya, hanya dengan dua kata pula, f*** you, misalnya, seorang atlet bisa diusir dari lapangan. Keluar sebagai pecundang.
Tak jarang, dalam sebuah pertandingan tenis, kita acap mendengar kata-kata diteriakkan oleh kapten atau ofisial untuk menyemangati pemainnya. Bahkan, teriakan itu bukan saja dari ofisial, pelatih atau suporter, namun juga oleh petenis itu sendiri, sebagai tanda bahwa dia masih “on fire”.
Di dunia hukum (pidana), kata-kata menjadi palu godam untuk nasib dari seseorang. Seseorang bisa berubah status hanya dengan satu kata. “Tersangka”, “terdakwa”, dan “terpidana”.
Jika orang boleh main dengan kata-kata, sebagaimana pemilik Jogger di Bali, maka tidak demikian di dunia dagang, olahraga, apalagi hukum.
Tak jarang kita melihat seorang atlet dengan entengnya mengatakan “Saya maunya profesional, jika ada yang mau minta main PON”. Demikian dangkalnya memaknai kata profesional.
Profesional tidak selalu bernilai uang, tetapi berkaitan dengan sikap pada pilihan peran yang diambil. Ketika seseorang memutuskan menjadi petenis, pelatih, pengurus, atau pembina, maka masing-masing memiliki konsekuensi sesuai dengan peran yang dipilihnya.
Ketika kata-kata sudah termaknai, maka “kata” akan menjadi hukum yang tak lagi bisa dengan mudah dirubah.
Hanya mereka yang mampu memahami makna serta kekuatan kata yang mampu melakukannya. Namun, hanya mereka yang memiliki kemampuan itu pula yang bisa mengetahui jika ada susunan kata-kata yang berubah dari sebuah aturan.
Persoalannya, seberapa banyak para pelaku tenis concern pada aturan dan punya komitmen untuk mematuhinya?
(Oleh: Amin Pujanto - dari aput.webkata.net)
Omset dari “pabrik kata-kata” itu bisa mencapai ratusan juta rupiah perbulan. Jumlah yang mencapai ratusan juta itu hanyalah “dampak” dari strategi yang dipilih sang enterpreneur. Strategi memanfaatkan “kata-kata” untuk mempengaruhi orang lain agar menjadi calon pembeli produk dari “pabrik kata-kata” tersebut.
Untuk melihat kekuatan kata-kata, kita tak perlu merangkai banyak kata. Kata bisa menjadi sebuah “tombol on-off” untuk memulai atau menghentikan aktivitas. Ketika sebuah “kata” diucapkan, atau lebih tepat diteriakkan, dampaknya akan luar biasa.
Di dunia militer, kata “siap” memiliki makna yang luar biasa. Sebuah jaminan bahwa apa yang diperintahkan bakal dilaksanakan.
Nah, pernahkah terpikir oleh Anda, bagaimana ihwal orang memaknai kata-kata? Jikalau pun terpikir, tentulah akan menemui “pintu gerbang” sebuah lorong waktu yang jaraknya barangkali sejauh perjalanan dan sejarah umat manusia.
Entah sudah berapa juta tahun, yang pasti saat kita lahir, kata-kata itu sudah ada lengkap dengan maknanya.
Di kalangan sastrawan, satu kata bisa diibaratkan memiliki seribu makna. Memungkinkan, karena dunia mereka memungkinkan pembiasan makna. Hanya untuk mengungkapkan “aku cinta kamu” saja membutuhkan beberapa bait kalimat, karena ungkapan itu dibuat dalam bentuk puisi.
Di kalangan pelaku marketing pemilihan kata menjadi penting, karena kesalahan memilih kata bisa memunculkan tanda tanya. Bagi penjual, pemahaman kata-kata tak kalah penting. Jika salah menuliskan angka, dampaknya juga bisa tidak terkira. Bayangkan jika “seratus juta saja”, disebut “seratus ribu saja”.
Di dunia olahraga, kita juga sering mendengar ungkapan yang bisa bermakna luar biasa. Hanya dengan teriakan, “Kamu bisa!”, “Tenang, menang!” atau kata-kata lain yang mempunyai makna sugestif.
Sebaliknya, hanya dengan dua kata pula, f*** you, misalnya, seorang atlet bisa diusir dari lapangan. Keluar sebagai pecundang.
Tak jarang, dalam sebuah pertandingan tenis, kita acap mendengar kata-kata diteriakkan oleh kapten atau ofisial untuk menyemangati pemainnya. Bahkan, teriakan itu bukan saja dari ofisial, pelatih atau suporter, namun juga oleh petenis itu sendiri, sebagai tanda bahwa dia masih “on fire”.
Di dunia hukum (pidana), kata-kata menjadi palu godam untuk nasib dari seseorang. Seseorang bisa berubah status hanya dengan satu kata. “Tersangka”, “terdakwa”, dan “terpidana”.
Jika orang boleh main dengan kata-kata, sebagaimana pemilik Jogger di Bali, maka tidak demikian di dunia dagang, olahraga, apalagi hukum.
Tak jarang kita melihat seorang atlet dengan entengnya mengatakan “Saya maunya profesional, jika ada yang mau minta main PON”. Demikian dangkalnya memaknai kata profesional.
Profesional tidak selalu bernilai uang, tetapi berkaitan dengan sikap pada pilihan peran yang diambil. Ketika seseorang memutuskan menjadi petenis, pelatih, pengurus, atau pembina, maka masing-masing memiliki konsekuensi sesuai dengan peran yang dipilihnya.
Ketika kata-kata sudah termaknai, maka “kata” akan menjadi hukum yang tak lagi bisa dengan mudah dirubah.
Hanya mereka yang mampu memahami makna serta kekuatan kata yang mampu melakukannya. Namun, hanya mereka yang memiliki kemampuan itu pula yang bisa mengetahui jika ada susunan kata-kata yang berubah dari sebuah aturan.
Persoalannya, seberapa banyak para pelaku tenis concern pada aturan dan punya komitmen untuk mematuhinya?
(Oleh: Amin Pujanto - dari aput.webkata.net)
Pengaruh Kekuatan Kata Terhadap Benda
Kata-kata yang kita ucapkan, diucapkan keluar ataupun sekedar dalam hati, memiliki pengaruh yang luar biasa. Baik kepada diri sendiri, maupun kepada orang lain.
Percayakah Anda, bila kata-kata yang kita ucapkan bisa sangat berpengaruh untuk jiwa seseorang?
Kata-kata ternyata memiliki kekuatan yang luarbiasa. Ada sebuah eksperimen yang menarik.
Anda boleh mencobanya, karena sangat sederhana.
Ambillah dua gelas bersih
dan isilah masing-masing dengan nasi yang sama.
Tutup kedua gelas dengan plastik wrapper tipis.
Untuk memastikan tidak ada gangguan dari luar,
lekatkan plastik dengan selotip.
Letakkan di tempat yang tidak terkena matahari langsung.
Berikan label yang berbeda untuk setiap gelas.
Misal gelas A diberi label jelek, jahat, bodoh
dan gelas B diberi label cantik, pintar, baik.
Kemudian selama 2 minggu lakukan percobaan berikut.
Pada gelas A ucapkan setiap pagi dan malam,
“Kamu jelek, bodoh, jahat! Saya tidak suka sama kamu!”
disertai intensitas emosiyang memadai.
Lalu pada gelas B, setiap pagi dan malam juga,katakan,
“Halo cantik. Kamu cantik, pintar dan baik deh.
Terima kasih ya…Aku sayang kamu”
disertai intensitas emosi gembira dan bersyukur.
Setelah 2 minggu,
tentu saja keduanya berjamur.
Tapi lihatlah yang terjadi.
Jamur di gelas kiri berwarna kehitaman
dan berbau tidak sedap.
Sedangkan jamur di gelas sebelah kanan
cenderung berwarna putih dan tidak berbau.
Menarik kan?
Padahal nasi tersebut diambil dari sumber yang sama.
Sama seperti apa yang diteliti oleh Masaru Emoto,
penulis buku “The True Power of Water”.
Penelitian Masaru Emoto membuktikan bahwa
pikiran, kata-kata, ide dan musik
akan mempengaruhi struktur molekul air.
Ia menulis di atas kertas,
“Fool” (Bodoh)dan “Thank You” (Terima Kasih),
dan menempelkannya di dua buah botol berisi air.
Dengan metode fotografi kristal airnya,
ia membuktikan bahwa air yang diberi tulisan “Thank You”
akan membentuk kristal heksagonal yang indah.
Sementara itu, air yang diberi tulisan “Fool”,
kristal airnya akan pecah dan rusak.
Apa pesan dari alam yang dapat kita petik dari sini?
Tentu saja banyak.
Tapi disini saya ingin fokus pada satu hal saja:
KEKUATAN KATA-KATA, kata-kata yang kita tujukan ke diri sendiri
maupun kepada orang lain.
Sebagian orang sering menggunakan kata-kata negatif
kepada diri sendiri.
“Saya tidak bisa”, “Saya tidak sepintar dia”,
“Saya tidak berbakat”, dsb.
Apa pula jadinya bila kita mengatakan pada anak kita,
“Kok begitu saja tidak bisa?”,
“Kamu kok tidak sepandai dia?”,
“Dasar pemalas!”, “Anak nakal!” dsb.
Sebagaimana diketahui,
70% unsurdi dalam tubuh orang dewasa terdiri dari air,
dan komposisi yang sama juga membentuk planet kita.
Air adalah sumber kehidupan.
Karena itu, kualitas air sangatlah penting bagi makhluk hidup.
Apa jadinya bila kita terus menerus menggunakan kata-kata negatif,
kepada diri kita maupun kepada orang-orang yang kita cintai?
Berbaiklah kepada diri Anda dan orang-orang yang Anda cintai.
Caranya:
Berhentilah menggunakan kata-kata negatif.
Gunakan kata-kata positif.
Daripada mengatakan, “Saya tidak bisa”,
lebih baik kita mengatakan
“Saya memang belum bisa. Tapi saya akan belajar sampai bisa!”.
Daripada mengatakan kepada anak
“Kok begitu saja tidak bisa?”,
lebih baik kita katakan,
“Anak pintar, coba kita kerjakan sama-sama PR kamu.”
Kemudian kita duduk bersama
mengerjakan hal-hal yangingin dihindarinya.
Dengan begitu, kita akan tahu
Dimana letak kelebihan dan kelemahannya,
dan kita dapat memberi arahan yang lebih baik untuk anak kita.
Daripada mengatakan kepada sales team,
“Apa masalah yang kamu hadapi dalam pencapaian target tahun ini?”,
lebih baik mengatakan,
“Apa tantangan yang kamu hadapi…”.
Bukankah suasananya terasa lain
begitu kita memilih menggunakan kata-kata yang lebih positif?
Ingat!
Stop menggunakan kata-kata negatif.
Dengan menggunakan kata-kata positif kita membangun dunia ini
menjadi positif juga
Saya yakin kita semua bisa melakukannya.
(mirianti.suteja.com)
Percayakah Anda, bila kata-kata yang kita ucapkan bisa sangat berpengaruh untuk jiwa seseorang?
Kata-kata ternyata memiliki kekuatan yang luarbiasa. Ada sebuah eksperimen yang menarik.
Anda boleh mencobanya, karena sangat sederhana.
Ambillah dua gelas bersih
dan isilah masing-masing dengan nasi yang sama.
Tutup kedua gelas dengan plastik wrapper tipis.
Untuk memastikan tidak ada gangguan dari luar,
lekatkan plastik dengan selotip.
Letakkan di tempat yang tidak terkena matahari langsung.
Berikan label yang berbeda untuk setiap gelas.
Misal gelas A diberi label jelek, jahat, bodoh
dan gelas B diberi label cantik, pintar, baik.
Kemudian selama 2 minggu lakukan percobaan berikut.
Pada gelas A ucapkan setiap pagi dan malam,
“Kamu jelek, bodoh, jahat! Saya tidak suka sama kamu!”
disertai intensitas emosiyang memadai.
Lalu pada gelas B, setiap pagi dan malam juga,katakan,
“Halo cantik. Kamu cantik, pintar dan baik deh.
Terima kasih ya…Aku sayang kamu”
disertai intensitas emosi gembira dan bersyukur.
Setelah 2 minggu,
tentu saja keduanya berjamur.
Tapi lihatlah yang terjadi.
Jamur di gelas kiri berwarna kehitaman
dan berbau tidak sedap.
Sedangkan jamur di gelas sebelah kanan
cenderung berwarna putih dan tidak berbau.
Menarik kan?
Padahal nasi tersebut diambil dari sumber yang sama.
Sama seperti apa yang diteliti oleh Masaru Emoto,
penulis buku “The True Power of Water”.
Penelitian Masaru Emoto membuktikan bahwa
pikiran, kata-kata, ide dan musik
akan mempengaruhi struktur molekul air.
Ia menulis di atas kertas,
“Fool” (Bodoh)dan “Thank You” (Terima Kasih),
dan menempelkannya di dua buah botol berisi air.
Dengan metode fotografi kristal airnya,
ia membuktikan bahwa air yang diberi tulisan “Thank You”
akan membentuk kristal heksagonal yang indah.
Sementara itu, air yang diberi tulisan “Fool”,
kristal airnya akan pecah dan rusak.
Apa pesan dari alam yang dapat kita petik dari sini?
Tentu saja banyak.
Tapi disini saya ingin fokus pada satu hal saja:
KEKUATAN KATA-KATA, kata-kata yang kita tujukan ke diri sendiri
maupun kepada orang lain.
Sebagian orang sering menggunakan kata-kata negatif
kepada diri sendiri.
“Saya tidak bisa”, “Saya tidak sepintar dia”,
“Saya tidak berbakat”, dsb.
Apa pula jadinya bila kita mengatakan pada anak kita,
“Kok begitu saja tidak bisa?”,
“Kamu kok tidak sepandai dia?”,
“Dasar pemalas!”, “Anak nakal!” dsb.
Sebagaimana diketahui,
70% unsurdi dalam tubuh orang dewasa terdiri dari air,
dan komposisi yang sama juga membentuk planet kita.
Air adalah sumber kehidupan.
Karena itu, kualitas air sangatlah penting bagi makhluk hidup.
Apa jadinya bila kita terus menerus menggunakan kata-kata negatif,
kepada diri kita maupun kepada orang-orang yang kita cintai?
Berbaiklah kepada diri Anda dan orang-orang yang Anda cintai.
Caranya:
Berhentilah menggunakan kata-kata negatif.
Gunakan kata-kata positif.
Daripada mengatakan, “Saya tidak bisa”,
lebih baik kita mengatakan
“Saya memang belum bisa. Tapi saya akan belajar sampai bisa!”.
Daripada mengatakan kepada anak
“Kok begitu saja tidak bisa?”,
lebih baik kita katakan,
“Anak pintar, coba kita kerjakan sama-sama PR kamu.”
Kemudian kita duduk bersama
mengerjakan hal-hal yangingin dihindarinya.
Dengan begitu, kita akan tahu
Dimana letak kelebihan dan kelemahannya,
dan kita dapat memberi arahan yang lebih baik untuk anak kita.
Daripada mengatakan kepada sales team,
“Apa masalah yang kamu hadapi dalam pencapaian target tahun ini?”,
lebih baik mengatakan,
“Apa tantangan yang kamu hadapi…”.
Bukankah suasananya terasa lain
begitu kita memilih menggunakan kata-kata yang lebih positif?
Ingat!
Stop menggunakan kata-kata negatif.
Dengan menggunakan kata-kata positif kita membangun dunia ini
menjadi positif juga
Saya yakin kita semua bisa melakukannya.
(mirianti.suteja.com)
Monday, February 28, 2011
10 Resep Sukses Bangsa Jepang
Setelah Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak terkena bom atom sekutu (Amerika), Jepang pelan tapi pasti berhasil bangkit. Mau tidak mau harus diakui saat ini Jepang bersama China dan Korea Selatan sudah menjelma menjadi macan Asia dalam bidang teknologi dan ekonomi. Alhamdulillah saya mendapat kesempatan 10 tahun tinggal di Jepang untuk menempuh studi saya. Dalam artikel sebelumnya saya mencoba memotret Jepang dari satu sisi. Kali ini, saya mencoba merumuskan 10 resep yang membuat bangsa Jepang bisa sukses seperti sekarang. Tentu rumusan ini di beberapa sisi agak subyektif, hanya dari pengalaman hidup, studi, bisnis dan bergaul dengan orang Jepang di sekitar perfecture Saitama, Tokyo, Chiba, Yokohama. Intinya kita mencoba belajar sisi Jepang yang baik yang bisa diambil untuk membangun republik ini. Kalau ditanya apakah semua sisi bangsa Jepang selalu baik, tentu jawabannya tidak. Banyak juga budaya negatif yang tidak harus kita contoh ;)
1. KERJA KERAS
Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan. Di kampus, professor juga biasa pulang malam (tepatnya pagi ;) ), membuat mahasiswa nggak enak pulang duluan. Fenomena Karoshi (mati karena kerja keras) mungkin hanya ada di Jepang. Sebagian besar literatur menyebutkan bahwa dengan kerja keras inilah sebenarnya kebangkitan dan kemakmuran Jepang bisa tercapai.
2. MALU
Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Bagaimana mereka secara otomatis langsung membentuk antrian dalam setiap keadaan yang membutuhkan, pembelian ticket kereta, masuk ke stadion untuk nonton sepak bola, di halte bus, bahkan untuk memakai toilet umum di stasiun-stasiun, mereka berjajar rapi menunggu giliran. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.
3. HIDUP HEMAT
Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00. Contoh lain adalah para ibu rumah tangga yang rela naik sepeda menuju toko sayur agak jauh dari rumah, hanya karena lebih murah 20 atau 30 yen. Banyak keluarga Jepang yang tidak memiliki mobil, bukan karena tidak mampu, tapi karena lebih hemat menggunakan bus dan kereta untuk bepergian. Termasuk saya dulu sempat berpikir kenapa pemanas ruangan menggunakan minyak tanah yang merepotkan masih digandrungi, padahal sudah cukup dengan AC yang ada mode dingin dan panas. Alasannya ternyata satu, minyak tanah lebih murah daripada listrik. Professor Jepang juga terbiasa naik sepeda tua ke kampus, bareng dengan mahasiswa-mahasiswanya.
4. LOYALITAS
Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan. Kota Hofu mungkin sebuah contoh nyata. Hofu dulunya adalah kota industri yang sangat tertinggal dengan penduduk yang terlalu padat. Loyalitas penduduk untuk tetap bertahan (tidak pergi ke luar kota) dan punya komitmen bersama untuk bekerja keras siang dan malam akhirnya mengubah Hofu menjadi kota makmur dan modern. Bahkan saat ini kota industri terbaik dengan produksi kendaraan mencapai 160.000 per tahun.
5. INOVASI
Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah. Mobil yang dihasilkan juga relatif lebih murah, ringan, mudah dikendarai, mudah dirawat dan lebih hemat bahan bakar. Perusahaan Matsushita Electric yang dulu terkenal dengan sebutan “maneshita” (peniru) punya legenda sendiri dengan mesin pembuat rotinya. Inovasi dan ide dari seorang engineernya bernama Ikuko Tanaka yang berinisiatif untuk meniru teknik pembuatan roti dari sheef di Osaka International Hotel, menghasilkan karya mesin pembuat roti (home bakery) bermerk Matsushita yang terkenal itu.
6. PANTANG MENYERAH
Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia. Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita :) Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo. Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen). Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan). Kapan-kapan saya akan kupas lebih jauh tentang ini :)
7. BUDAYA BACA
Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Saya pernah membahas masalah komik pendidikan di blog ini. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institut penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan. Saya biasa membeli buku literatur terjemahan bahasa Jepang karena harganya lebih murah daripada buku asli (bahasa inggris).
8. KERJASAMA KELOMPOK
Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok”. Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan “rin-gi” adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam “rin-gi”.
9. MANDIRI
Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Irsyad, anak saya yang paling gede sempat merasakan masuk TK (Yochien) di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Teman-temen seangkatan saya dulu di Saitama University mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.
10. JAGA TRADISI
Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini. Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan. Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata “tidak” untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena ”hai” belum tentu “ya” bagi orang Jepang ;) Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.
Mungkin seperti itu 10 resep sukses yang bisa saya rangkumkan. Bangsa Indonesia punya hampir semua resep orang Jepang diatas, hanya mungkin kita belum mengasahnya dengan baik. Di Jepang mahasiswa Indonesia termasuk yang unggul dan bahkan mengalahkan mahasiswa Jepang. Orang Indonesia juga memenangkan berbagai award berlevel internasional. Saya yakin ada faktor “non-teknis” yang membuat Indonesia agak terpuruk dalam teknologi dan ekonomi. Mari kita bersama mencari solusi untuk berbagai permasalahan republik ini. Dan terakhir kita harus tetap mau belajar dan menerima kebaikan dari siapapun juga. (romi satria wahono - romisatriawahono.net)
1. KERJA KERAS
Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa Jepang adalah pekerja keras. Rata-rata jam kerja pegawai di Jepang adalah 2450 jam/tahun, sangat tinggi dibandingkan dengan Amerika (1957 jam/tahun), Inggris (1911 jam/tahun), Jerman (1870 jam/tahun), dan Perancis (1680 jam/tahun). Seorang pegawai di Jepang bisa menghasilkan sebuah mobil dalam 9 hari, sedangkan pegawai di negara lain memerlukan 47 hari untuk membuat mobil yang bernilai sama. Seorang pekerja Jepang boleh dikatakan bisa melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh 5-6 orang. Pulang cepat adalah sesuatu yang boleh dikatakan “agak memalukan” di Jepang, dan menandakan bahwa pegawai tersebut termasuk “yang tidak dibutuhkan” oleh perusahaan. Di kampus, professor juga biasa pulang malam (tepatnya pagi ;) ), membuat mahasiswa nggak enak pulang duluan. Fenomena Karoshi (mati karena kerja keras) mungkin hanya ada di Jepang. Sebagian besar literatur menyebutkan bahwa dengan kerja keras inilah sebenarnya kebangkitan dan kemakmuran Jepang bisa tercapai.
2. MALU
Malu adalah budaya leluhur dan turun temurun bangsa Jepang. Harakiri (bunuh diri dengan menusukkan pisau ke perut) menjadi ritual sejak era samurai, yaitu ketika mereka kalah dan pertempuran. Masuk ke dunia modern, wacananya sedikit berubah ke fenomena “mengundurkan diri” bagi para pejabat (mentri, politikus, dsb) yang terlibat masalah korupsi atau merasa gagal menjalankan tugasnya. Efek negatifnya mungkin adalah anak-anak SD, SMP yang kadang bunuh diri, karena nilainya jelek atau tidak naik kelas. Karena malu jugalah, orang Jepang lebih senang memilih jalan memutar daripada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan. Bagaimana mereka secara otomatis langsung membentuk antrian dalam setiap keadaan yang membutuhkan, pembelian ticket kereta, masuk ke stadion untuk nonton sepak bola, di halte bus, bahkan untuk memakai toilet umum di stasiun-stasiun, mereka berjajar rapi menunggu giliran. Mereka malu terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma yang sudah menjadi kesepakatan umum.
3. HIDUP HEMAT
Orang Jepang memiliki semangat hidup hemat dalam keseharian. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Di masa awal mulai kehidupan di Jepang, saya sempat terheran-heran dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar jam 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00. Contoh lain adalah para ibu rumah tangga yang rela naik sepeda menuju toko sayur agak jauh dari rumah, hanya karena lebih murah 20 atau 30 yen. Banyak keluarga Jepang yang tidak memiliki mobil, bukan karena tidak mampu, tapi karena lebih hemat menggunakan bus dan kereta untuk bepergian. Termasuk saya dulu sempat berpikir kenapa pemanas ruangan menggunakan minyak tanah yang merepotkan masih digandrungi, padahal sudah cukup dengan AC yang ada mode dingin dan panas. Alasannya ternyata satu, minyak tanah lebih murah daripada listrik. Professor Jepang juga terbiasa naik sepeda tua ke kampus, bareng dengan mahasiswa-mahasiswanya.
4. LOYALITAS
Loyalitas membuat sistem karir di sebuah perusahaan berjalan dan tertata dengan rapi. Sedikit berbeda dengan sistem di Amerika dan Eropa, sangat jarang orang Jepang yang berpindah-pindah pekerjaan. Mereka biasanya bertahan di satu atau dua perusahaan sampai pensiun. Ini mungkin implikasi dari Industri di Jepang yang kebanyakan hanya mau menerima fresh graduate, yang kemudian mereka latih dan didik sendiri sesuai dengan bidang garapan (core business) perusahaan. Kota Hofu mungkin sebuah contoh nyata. Hofu dulunya adalah kota industri yang sangat tertinggal dengan penduduk yang terlalu padat. Loyalitas penduduk untuk tetap bertahan (tidak pergi ke luar kota) dan punya komitmen bersama untuk bekerja keras siang dan malam akhirnya mengubah Hofu menjadi kota makmur dan modern. Bahkan saat ini kota industri terbaik dengan produksi kendaraan mencapai 160.000 per tahun.
5. INOVASI
Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Menarik membaca kisah Akio Morita yang mengembangkan Sony Walkman yang melegenda itu. Cassete Tape tidak ditemukan oleh Sony, patennya dimiliki oleh perusahaan Phillip Electronics. Tapi yang berhasil mengembangkan dan membundling model portable sebagai sebuah produk yang booming selama puluhan tahun adalah Akio Morita, founder dan CEO Sony pada masa itu. Sampai tahun 1995, tercatat lebih dari 300 model walkman lahir dan jumlah total produksi mencapai 150 juta produk. Teknik perakitan kendaraan roda empat juga bukan diciptakan orang Jepang, patennya dimiliki orang Amerika. Tapi ternyata Jepang dengan inovasinya bisa mengembangkan industri perakitan kendaraan yang lebih cepat dan murah. Mobil yang dihasilkan juga relatif lebih murah, ringan, mudah dikendarai, mudah dirawat dan lebih hemat bahan bakar. Perusahaan Matsushita Electric yang dulu terkenal dengan sebutan “maneshita” (peniru) punya legenda sendiri dengan mesin pembuat rotinya. Inovasi dan ide dari seorang engineernya bernama Ikuko Tanaka yang berinisiatif untuk meniru teknik pembuatan roti dari sheef di Osaka International Hotel, menghasilkan karya mesin pembuat roti (home bakery) bermerk Matsushita yang terkenal itu.
6. PANTANG MENYERAH
Sejarah membuktikan bahwa Jepang termasuk bangsa yang tahan banting dan pantang menyerah. Puluhan tahun dibawah kekaisaran Tokugawa yang menutup semua akses ke luar negeri, Jepang sangat tertinggal dalam teknologi. Ketika restorasi Meiji (meiji ishin) datang, bangsa Jepang cepat beradaptasi dan menjadi fast-learner. Kemiskinan sumber daya alam juga tidak membuat Jepang menyerah. Tidak hanya menjadi pengimpor minyak bumi, batubara, biji besi dan kayu, bahkan 85% sumber energi Jepang berasal dari negara lain termasuk Indonesia. Kabarnya kalau Indonesia menghentikan pasokan minyak bumi, maka 30% wilayah Jepang akan gelap gulita :) Rentetan bencana terjadi di tahun 1945, dimulai dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, disusul dengan kalah perangnya Jepang, dan ditambahi dengan adanya gempa bumi besar di Tokyo. Ternyata Jepang tidak habis. Dalam beberapa tahun berikutnya Jepang sudah berhasil membangun industri otomotif dan bahkan juga kereta cepat (shinkansen). Mungkin cukup menakjubkan bagaimana Matsushita Konosuke yang usahanya hancur dan hampir tersingkir dari bisnis peralatan elektronik di tahun 1945 masih mampu merangkak, mulai dari nol untuk membangun industri sehingga menjadi kerajaan bisnis di era kekinian. Akio Morita juga awalnya menjadi tertawaan orang ketika menawarkan produk Cassete Tapenya yang mungil ke berbagai negara lain. Tapi akhirnya melegenda dengan Sony Walkman-nya. Yang juga cukup unik bahwa ilmu dan teori dimana orang harus belajar dari kegagalan ini mulai diformulasikan di Jepang dengan nama shippaigaku (ilmu kegagalan). Kapan-kapan saya akan kupas lebih jauh tentang ini :)
7. BUDAYA BACA
Jangan kaget kalau anda datang ke Jepang dan masuk ke densha (kereta listrik), sebagian besar penumpangnya baik anak-anak maupun dewasa sedang membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca. Banyak penerbit yang mulai membuat man-ga (komik bergambar) untuk materi-materi kurikulum sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Pelajaran Sejarah, Biologi, Bahasa, dsb disajikan dengan menarik yang membuat minat baca masyarakat semakin tinggi. Saya pernah membahas masalah komik pendidikan di blog ini. Budaya baca orang Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku-buku asing (bahasa inggris, perancis, jerman, dsb). Konon kabarnya legenda penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institut penerjemahan dan terus berkembang sampai jaman modern. Biasanya terjemahan buku bahasa Jepang sudah tersedia dalam beberapa minggu sejak buku asingnya diterbitkan. Saya biasa membeli buku literatur terjemahan bahasa Jepang karena harganya lebih murah daripada buku asli (bahasa inggris).
8. KERJASAMA KELOMPOK
Budaya di Jepang tidak terlalu mengakomodasi kerja-kerja yang terlalu bersifat individualistik. Termasuk klaim hasil pekerjaan, biasanya ditujukan untuk tim atau kelompok tersebut. Fenomena ini tidak hanya di dunia kerja, kondisi kampus dengan lab penelitiannya juga seperti itu, mengerjakan tugas mata kuliah biasanya juga dalam bentuk kelompok. Kerja dalam kelompok mungkin salah satu kekuatan terbesar orang Jepang. Ada anekdot bahwa “1 orang professor Jepang akan kalah dengan satu orang professor Amerika, hanya 10 orang professor Amerika tidak akan bisa mengalahkan 10 orang professor Jepang yang berkelompok”. Musyawarah mufakat atau sering disebut dengan “rin-gi” adalah ritual dalam kelompok. Keputusan strategis harus dibicarakan dalam “rin-gi”.
9. MANDIRI
Sejak usia dini anak-anak dilatih untuk mandiri. Irsyad, anak saya yang paling gede sempat merasakan masuk TK (Yochien) di Jepang. Dia harus membawa 3 tas besar berisi pakaian ganti, bento (bungkusan makan siang), sepatu ganti, buku-buku, handuk dan sebotol besar minuman yang menggantung di lehernya. Di Yochien setiap anak dilatih untuk membawa perlengkapan sendiri, dan bertanggung jawab terhadap barang miliknya sendiri. Lepas SMA dan masuk bangku kuliah hampir sebagian besar tidak meminta biaya kepada orang tua. Teman-temen seangkatan saya dulu di Saitama University mengandalkan kerja part time untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari. Kalaupun kehabisan uang, mereka “meminjam” uang ke orang tua yang itu nanti mereka kembalikan di bulan berikutnya.
10. JAGA TRADISI
Perkembangan teknologi dan ekonomi, tidak membuat bangsa Jepang kehilangan tradisi dan budayanya. Budaya perempuan yang sudah menikah untuk tidak bekerja masih ada dan hidup sampai saat ini. Budaya minta maaf masih menjadi reflek orang Jepang. Kalau suatu hari anda naik sepeda di Jepang dan menabrak pejalan kaki , maka jangan kaget kalau yang kita tabrak malah yang minta maaf duluan. Sampai saat ini orang Jepang relatif menghindari berkata “tidak” untuk apabila mendapat tawaran dari orang lain. Jadi kita harus hati-hati dalam pergaulan dengan orang Jepang karena ”hai” belum tentu “ya” bagi orang Jepang ;) Pertanian merupakan tradisi leluhur dan aset penting di Jepang. Persaingan keras karena masuknya beras Thailand dan Amerika yang murah, tidak menyurutkan langkah pemerintah Jepang untuk melindungi para petaninya. Kabarnya tanah yang dijadikan lahan pertanian mendapatkan pengurangan pajak yang signifikan, termasuk beberapa insentif lain untuk orang-orang yang masih bertahan di dunia pertanian. Pertanian Jepang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia.
Mungkin seperti itu 10 resep sukses yang bisa saya rangkumkan. Bangsa Indonesia punya hampir semua resep orang Jepang diatas, hanya mungkin kita belum mengasahnya dengan baik. Di Jepang mahasiswa Indonesia termasuk yang unggul dan bahkan mengalahkan mahasiswa Jepang. Orang Indonesia juga memenangkan berbagai award berlevel internasional. Saya yakin ada faktor “non-teknis” yang membuat Indonesia agak terpuruk dalam teknologi dan ekonomi. Mari kita bersama mencari solusi untuk berbagai permasalahan republik ini. Dan terakhir kita harus tetap mau belajar dan menerima kebaikan dari siapapun juga. (romi satria wahono - romisatriawahono.net)
Kekuatan Kata Para Pemimpin
Kekuatan kata-kata telah membingkai peradaban, membalut perjuangan, dan menggoreskan sandi munculnya para pemimpin besar. Mengantarkan seorang mantan budak barbar bernama Tariq bin Ziyad menjadi pemimpin besar Islam penakluk Eropa. Dengan ucapannya yang cukup terkenal ketika memerintahkan pasukannya membakar kapal-kapal mereka sendiri, “Kita datang ke sini tidak untuk kembali. Kita hanya punya pilihan, menaklukkan negeri ini dan menetap di sini, atau kita semua syahid”.
projectx1.jpgKekuatan kata-kata para pemimpin, juga telah menjadi sumbu keberhasilan puluhan proyek mercusuar dan “mission impossible” di Jepang. Adalah kisah sukses pemimpin-pemimpin tak dikenal (mumei no hitotachi), dalam pengembangan teknologi, pembangunan fisik, perbaikan metode pendidikan, dsb. Memberi insiprasi kepada seorang produser TV NHK Jepang (Akira Imai) untuk menyusun acara TV berjudul Project X, dan juga menulis sebuah buku berjudul “Project X – Rida Tachi no Kotoba (Perkataan Para Pemimpin)”.
militer.jpgTerlepas dari kesalahan politik masa lalu, harus kita akui juga bahwa militer Indonesia (baca TNI) adalah salah satu contoh lembaga yang cukup cerdik mewarnai sistem kaderisasi internal dengan menggunakan metode “positive therapy” yang dipondasi oleh kekuatan kata-kata. Maka jargon, mars, slogan, dan doktrin kata-kata bijak para pendahulu adalah “makanan” sehari-hari para taruna muda dan menjadi motivator penting penyemangat pergerakan mereka. Menengok ke dalam sistem pendidikan Islam yang ada, belumlah kita sampai pada suatu tahapan sistem kaderisasi dimana hadits nabi, kata bijak para sahabat dan ulama setelahnya, berkedudukan penting sebagai jargon, cermin ataupun elemen motivator perjuangan kita.
Namun bagaimanapun juga kekuatan kata-kata adalah bagaikan pedang bermata dua. Perkataan para pemimpin, di satu sisi bisa membawa manfaat, tetapi juga bisa membawa kerusakkan yang dahsyat bagi rakyat. Keterpurukan republik kita yang sudah berjalan secara turun temurun, salah satunya juga diakibatkan oleh efek negatif kekuatan kata-kata para pemimpin kita.
Lalu, bagaimana sebenarnya kita harus berkata-kata? Konsepsi dan metode berkata-kata, telah diajarkan secara gamblang oleh Allah kepada kita.
Konsepsi qaulan ma’rufa (perkataan yang baik) (QS. 4:5). Perkataan baik yang mendidik, dan dapat bersifat sebagai cermin dalam tindakan masyarakat.
Konsepsi qaulan sadida (perkataan yang tegas dan benar) (QS. 4:9; 33:70) membawa implikasi bahwa perkataan seorang pemimpin haruslah tegas, benar, straight to the point, dan terbebas dari “pemerkosaan bahasa”. Pemimpin bukanlah seorang orator yang bisanya hanya menipu rakyat dengan kata-kata yang abstrak, “ngeles”, ataupun kata-kata ambigu yang membius. Tegas bukan berarti keras atau kasar, tetapi tegas membawa makna konsistensi dan keteguhan prinsip.
Konsepsi qaulan layyina (perkataan yang lemah lembut) (QS. 20:44). Dilatar belakangi oleh kisah nabi Musa dan Harun yang diperintahkan oleh Allah untuk menghadapi Fir’aun dengan perkataan yang lemah lembut. Allah memberi nasehat kepada kita untuk tetap lembut, meskipun yang dihadapi adalah seorang jahil dan perusak.Tentu ini tidak bisa dihantamkan dengan konsepsi qaulan sadida. Justru ketegasan merupakan pengokoh kelembutan.
Konsepsi qaulan maisura (perkataan yang pantas) (QS. 17:28). Janganlah menggunakan kata-kata yang tidak pantas dan menyinggung perasaaan, meskipun itu kepada bawahan kita, kepada penerima infaq harta-harta kita, dan juga terutama kepada orang-orang yang lebih tua daripada kita.
Konsepsi qaulan baligha (perkataan yang membekas pada jiwa)(QS. 4:63), adalah ucapan berbobot yang menyentuh jiwa dan ruh para pendengarnya. Dengan menggunakan “bahasa” sesuai dengan kemampuan massa yang dihadapi, fasih dan jelas maknanya.
Konsepsi qaulan karima (perkataan yang mulia) (QS. 17:23) yaitu perkataan yang penuh adab, rasa hormat dan kasih sayang. Perkataan tidak bersifat menantang atau bahkan merendahkan pendengar.
Mudah-mudahaan kita dan juga para pemimpin kita mendapat bimbingan dari Allah, untuk merefleksikan keenam konsepsi Qurani diatas dalam kehidupan nyata.(Romi Satria Wahono - romisatriawahono.net)
projectx1.jpgKekuatan kata-kata para pemimpin, juga telah menjadi sumbu keberhasilan puluhan proyek mercusuar dan “mission impossible” di Jepang. Adalah kisah sukses pemimpin-pemimpin tak dikenal (mumei no hitotachi), dalam pengembangan teknologi, pembangunan fisik, perbaikan metode pendidikan, dsb. Memberi insiprasi kepada seorang produser TV NHK Jepang (Akira Imai) untuk menyusun acara TV berjudul Project X, dan juga menulis sebuah buku berjudul “Project X – Rida Tachi no Kotoba (Perkataan Para Pemimpin)”.
militer.jpgTerlepas dari kesalahan politik masa lalu, harus kita akui juga bahwa militer Indonesia (baca TNI) adalah salah satu contoh lembaga yang cukup cerdik mewarnai sistem kaderisasi internal dengan menggunakan metode “positive therapy” yang dipondasi oleh kekuatan kata-kata. Maka jargon, mars, slogan, dan doktrin kata-kata bijak para pendahulu adalah “makanan” sehari-hari para taruna muda dan menjadi motivator penting penyemangat pergerakan mereka. Menengok ke dalam sistem pendidikan Islam yang ada, belumlah kita sampai pada suatu tahapan sistem kaderisasi dimana hadits nabi, kata bijak para sahabat dan ulama setelahnya, berkedudukan penting sebagai jargon, cermin ataupun elemen motivator perjuangan kita.
Namun bagaimanapun juga kekuatan kata-kata adalah bagaikan pedang bermata dua. Perkataan para pemimpin, di satu sisi bisa membawa manfaat, tetapi juga bisa membawa kerusakkan yang dahsyat bagi rakyat. Keterpurukan republik kita yang sudah berjalan secara turun temurun, salah satunya juga diakibatkan oleh efek negatif kekuatan kata-kata para pemimpin kita.
Lalu, bagaimana sebenarnya kita harus berkata-kata? Konsepsi dan metode berkata-kata, telah diajarkan secara gamblang oleh Allah kepada kita.
Konsepsi qaulan ma’rufa (perkataan yang baik) (QS. 4:5). Perkataan baik yang mendidik, dan dapat bersifat sebagai cermin dalam tindakan masyarakat.
Konsepsi qaulan sadida (perkataan yang tegas dan benar) (QS. 4:9; 33:70) membawa implikasi bahwa perkataan seorang pemimpin haruslah tegas, benar, straight to the point, dan terbebas dari “pemerkosaan bahasa”. Pemimpin bukanlah seorang orator yang bisanya hanya menipu rakyat dengan kata-kata yang abstrak, “ngeles”, ataupun kata-kata ambigu yang membius. Tegas bukan berarti keras atau kasar, tetapi tegas membawa makna konsistensi dan keteguhan prinsip.
Konsepsi qaulan layyina (perkataan yang lemah lembut) (QS. 20:44). Dilatar belakangi oleh kisah nabi Musa dan Harun yang diperintahkan oleh Allah untuk menghadapi Fir’aun dengan perkataan yang lemah lembut. Allah memberi nasehat kepada kita untuk tetap lembut, meskipun yang dihadapi adalah seorang jahil dan perusak.Tentu ini tidak bisa dihantamkan dengan konsepsi qaulan sadida. Justru ketegasan merupakan pengokoh kelembutan.
Konsepsi qaulan maisura (perkataan yang pantas) (QS. 17:28). Janganlah menggunakan kata-kata yang tidak pantas dan menyinggung perasaaan, meskipun itu kepada bawahan kita, kepada penerima infaq harta-harta kita, dan juga terutama kepada orang-orang yang lebih tua daripada kita.
Konsepsi qaulan baligha (perkataan yang membekas pada jiwa)(QS. 4:63), adalah ucapan berbobot yang menyentuh jiwa dan ruh para pendengarnya. Dengan menggunakan “bahasa” sesuai dengan kemampuan massa yang dihadapi, fasih dan jelas maknanya.
Konsepsi qaulan karima (perkataan yang mulia) (QS. 17:23) yaitu perkataan yang penuh adab, rasa hormat dan kasih sayang. Perkataan tidak bersifat menantang atau bahkan merendahkan pendengar.
Mudah-mudahaan kita dan juga para pemimpin kita mendapat bimbingan dari Allah, untuk merefleksikan keenam konsepsi Qurani diatas dalam kehidupan nyata.(Romi Satria Wahono - romisatriawahono.net)
Cara Memperngaruhi Orang Lain
Saya bukan orang yang berpengaruh, itu sudah pasti, karena saya tidak punya apa-apa? Bukan konglomerat, bukan pejabat elit, tapi saya hanya seorang PNS golongan rendah di sebuah lembaga bernama LIPI ;). Yang pasti ada yang menarik, bahwa sebenarnya orang lain terpengaruh dengan kita, bukan hanya karena kedudukan atau kekayaan kita, tapi masih banyak faktor lain sehingga sampai pada kondisi dimana kita bisa mempengaruhi orang lain. Bahasa gampangnya, bagaimana sih cara mempengaruhi orang lain? Itu yang akan kita bahas kali ini. Ambil nafas dulu dan klik
Bagaimanapun juga pemahaman terhadap teknik mempengaruhi (influence tactics) orang lain menjadi satu spektrum penting, tidak hanya untuk seorang politikus, tetapi juga untuk para pemimpin baik formal maupun informal, pelatih bola, saleman, dan juga diperlukan bagi para pedjoeang IT yang sedang dalam usaha memperdjoeangan ide-idenya ;) . Usaha mengubah sikap, opini, dan perilaku orang lain (target person) dalam satu kerangka proses yang fitrah, smooth dan tanpa pertentangan, adalah muatan penting dari taktik atau teknik mempengaruhi.
Sebenarnya taktik mempengaruhi orang lain telah diformulasikan oleh banyak pakar dan peneliti, tentu bukan di desain untuk mempengaruhi orang dalam perbuatan kejahatan ;) . Pelakunya diharapkan tetap ada dalam rel kebenaran, dan diimplementasikan ke dalam spektrum berpikir menuju kepemimpinan yang efektif (effective leadership). Misalnya dalam manajemen organisasi, dimana seorang manajer dituntut untuk mengajak seluruh elemen organisasi bersama-sama dalam menyelesaikan permasalahan organisasi, menuju tujuan organisasi yang ingin dicapai. Seorang pelatih dan manajer bola yang memimpin pemain-pemain kelas dunia dan ingin mereka semua bisa bersatu, berdjoeang memenangkan pertandingan.
Beberapa teori dan formulasi tentang taktik atau teknik mempengaruhi telah bermunculan sejak 20 tahun yang lalu (Kipnis-1980; Schriesheim-1990; Yukl-1992, Ferris-1997). Dari perseteruan pendapat yang ada, boleh dikata yang banyak diterapkan dan dimutasikan dalam penelitian lanjutan adalah metode Influence Behavior Questionanaire (IBQ). Suatu metode yang dikembangkan oleh peneliti yang bernama Gary Yukl (1992), professor di University at Albany, Amerika. Metoda IBQ memformulasikan 9 strategi dan teknik mempengaruhi orang lain.
*
Rational Persuasion: Adalah siasat meyakinkan orang lain dengan menggunakan argumen yang logis dan rasional. Seorang dokter yang memberi nasehat kepada pasien yang perokok berat, dengan menjelaskan efek buruk merokok bagi paru-paru dan hasil penelitian yang membuktikan bahwa para perokok lebih rentan menderita penyakit kronis lain. Adalah salah satu contoh rational persuasion ini.
*
Inspiration Appeals Tactics: Adalah siasat dengan meminta ide atau proposal untuk membangkitkan rasa antusias dan semangat dari target person. Contoh nyata penerapannya adalah, seorang menteri yang membawahi departemen komunikasi dan informasi (kominfo), yang membuka kesempatan kepada seluruh komunitas IT untuk membuat proposal dan ide tentang pengembangan e-government di suatu negeri.
*
Consultation Tactics: Terjadi ketika kita meminta target person untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang kita agendakan. Misalnya adalah menteri kominfo diatas yang kembali berkonsultasi kepada seluruh komunitas IT di suatu negeri dalam upaya mengajak partisipasi aktif dalam implementasi cetak biru e-government yang telah diproduksi oleh departemennya.
*
Ingratiation Tactics: Adalah suatu siasat dimana kita berusaha untuk membuat senang hati dan tentram target person, sebelum mengajukan permintaan yang sebenarnya. Sendau gurau seorang salesman terhadap langganan, pujian seorang pimpinan terhadap bawahan sebelum memberi tugas baru, ataupun traktiran makan seorang partner bisnis adalah termasuk dalam ingratiation tactics ini.
*
Personal Appeals Tactics: Terjadi ketika kita berusaha mempengaruhi target person dengan landasan hubungan persahabatan, pertemanan atau hal yang bersifat personal lainnya. Kita bisa mengimplementasikannya dengan memulai pembicaraan misalnya dengan, “Budi, saya sebenarnya nggak enak mau ngomong seperti ini, tapi karena kita sudah bersahabat cukup lama dan saya yakin kamu sudah paham mengenai diri saya …”
*
Exchange Tactics: Adalah mirip dengan personal appeal tactics namun sifatnya adalah bukan karena hubungan personal semata, namun lebih banyak karena adanya proses pertukaran pemahaman terhadap kesukaan, kesenangan, hobi, dsb. diantara kita dan target person.
*
Coalition Tactics: Adalah suatu siasat dimana kita berkoalisi dan meminta bantuan pihak lain untuk mempengaruhi target person. Strategi kemenangan karena jumlah pengikut dipakai dalam siasat ini.
*
Pressure Tactics: Terjadi dimana kita mempengaruhi target person dengan peringatan ataupun ancaman yang menekan. Seorang komandan pasukan yang memberi ancaman penurunan pangkat bagi prajuritnya yang mengulangi kesalahan serupa. Adalah contoh implementasi pressure tactics ini.
*
Legitimizing Tactics: Adalah satu siasat dimana kita menggunakan otoritas dan kedudukan kita untuk mempengaruhi target person. Presiden yang meminta seorang menteri untuk menyusun rancangan undang-undang, kepala sekolah yang meminta guru menyusun kurikulum pendidikan adalah beberapa contoh penerapan legitimizing tactics.
Referensi:
1. Stephen P. Robbins and Mary Coulter, “Management (8th Edition)”, Prentice Hall, January 14, 2004.
2. G. A. Yukl and J. B. Tracey, “Consequences of Influence Tactics used with Subordinates, Peers, and the Boss”, Journal of Applied Psychology, 77, 525-535, 1992.
(Penulis : Romi Satria Wahono - romisatriawahono.net)
Bagaimanapun juga pemahaman terhadap teknik mempengaruhi (influence tactics) orang lain menjadi satu spektrum penting, tidak hanya untuk seorang politikus, tetapi juga untuk para pemimpin baik formal maupun informal, pelatih bola, saleman, dan juga diperlukan bagi para pedjoeang IT yang sedang dalam usaha memperdjoeangan ide-idenya ;) . Usaha mengubah sikap, opini, dan perilaku orang lain (target person) dalam satu kerangka proses yang fitrah, smooth dan tanpa pertentangan, adalah muatan penting dari taktik atau teknik mempengaruhi.
Sebenarnya taktik mempengaruhi orang lain telah diformulasikan oleh banyak pakar dan peneliti, tentu bukan di desain untuk mempengaruhi orang dalam perbuatan kejahatan ;) . Pelakunya diharapkan tetap ada dalam rel kebenaran, dan diimplementasikan ke dalam spektrum berpikir menuju kepemimpinan yang efektif (effective leadership). Misalnya dalam manajemen organisasi, dimana seorang manajer dituntut untuk mengajak seluruh elemen organisasi bersama-sama dalam menyelesaikan permasalahan organisasi, menuju tujuan organisasi yang ingin dicapai. Seorang pelatih dan manajer bola yang memimpin pemain-pemain kelas dunia dan ingin mereka semua bisa bersatu, berdjoeang memenangkan pertandingan.
Beberapa teori dan formulasi tentang taktik atau teknik mempengaruhi telah bermunculan sejak 20 tahun yang lalu (Kipnis-1980; Schriesheim-1990; Yukl-1992, Ferris-1997). Dari perseteruan pendapat yang ada, boleh dikata yang banyak diterapkan dan dimutasikan dalam penelitian lanjutan adalah metode Influence Behavior Questionanaire (IBQ). Suatu metode yang dikembangkan oleh peneliti yang bernama Gary Yukl (1992), professor di University at Albany, Amerika. Metoda IBQ memformulasikan 9 strategi dan teknik mempengaruhi orang lain.
*
Rational Persuasion: Adalah siasat meyakinkan orang lain dengan menggunakan argumen yang logis dan rasional. Seorang dokter yang memberi nasehat kepada pasien yang perokok berat, dengan menjelaskan efek buruk merokok bagi paru-paru dan hasil penelitian yang membuktikan bahwa para perokok lebih rentan menderita penyakit kronis lain. Adalah salah satu contoh rational persuasion ini.
*
Inspiration Appeals Tactics: Adalah siasat dengan meminta ide atau proposal untuk membangkitkan rasa antusias dan semangat dari target person. Contoh nyata penerapannya adalah, seorang menteri yang membawahi departemen komunikasi dan informasi (kominfo), yang membuka kesempatan kepada seluruh komunitas IT untuk membuat proposal dan ide tentang pengembangan e-government di suatu negeri.
*
Consultation Tactics: Terjadi ketika kita meminta target person untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang kita agendakan. Misalnya adalah menteri kominfo diatas yang kembali berkonsultasi kepada seluruh komunitas IT di suatu negeri dalam upaya mengajak partisipasi aktif dalam implementasi cetak biru e-government yang telah diproduksi oleh departemennya.
*
Ingratiation Tactics: Adalah suatu siasat dimana kita berusaha untuk membuat senang hati dan tentram target person, sebelum mengajukan permintaan yang sebenarnya. Sendau gurau seorang salesman terhadap langganan, pujian seorang pimpinan terhadap bawahan sebelum memberi tugas baru, ataupun traktiran makan seorang partner bisnis adalah termasuk dalam ingratiation tactics ini.
*
Personal Appeals Tactics: Terjadi ketika kita berusaha mempengaruhi target person dengan landasan hubungan persahabatan, pertemanan atau hal yang bersifat personal lainnya. Kita bisa mengimplementasikannya dengan memulai pembicaraan misalnya dengan, “Budi, saya sebenarnya nggak enak mau ngomong seperti ini, tapi karena kita sudah bersahabat cukup lama dan saya yakin kamu sudah paham mengenai diri saya …”
*
Exchange Tactics: Adalah mirip dengan personal appeal tactics namun sifatnya adalah bukan karena hubungan personal semata, namun lebih banyak karena adanya proses pertukaran pemahaman terhadap kesukaan, kesenangan, hobi, dsb. diantara kita dan target person.
*
Coalition Tactics: Adalah suatu siasat dimana kita berkoalisi dan meminta bantuan pihak lain untuk mempengaruhi target person. Strategi kemenangan karena jumlah pengikut dipakai dalam siasat ini.
*
Pressure Tactics: Terjadi dimana kita mempengaruhi target person dengan peringatan ataupun ancaman yang menekan. Seorang komandan pasukan yang memberi ancaman penurunan pangkat bagi prajuritnya yang mengulangi kesalahan serupa. Adalah contoh implementasi pressure tactics ini.
*
Legitimizing Tactics: Adalah satu siasat dimana kita menggunakan otoritas dan kedudukan kita untuk mempengaruhi target person. Presiden yang meminta seorang menteri untuk menyusun rancangan undang-undang, kepala sekolah yang meminta guru menyusun kurikulum pendidikan adalah beberapa contoh penerapan legitimizing tactics.
Referensi:
1. Stephen P. Robbins and Mary Coulter, “Management (8th Edition)”, Prentice Hall, January 14, 2004.
2. G. A. Yukl and J. B. Tracey, “Consequences of Influence Tactics used with Subordinates, Peers, and the Boss”, Journal of Applied Psychology, 77, 525-535, 1992.
(Penulis : Romi Satria Wahono - romisatriawahono.net)
Subscribe to:
Posts (Atom)