Showing posts with label Menulis. Show all posts
Showing posts with label Menulis. Show all posts

Sunday, May 12, 2013

Buku Kamu Itu Elang Bukan Ayam

Saat ini sedang pula disusun buku "Kamu itu Elang Bukan Ayam." Sasarannya adalah remaja usia sekolah SMA.

Buku ini diharapkan laris manis. Strategi pemasaran buku dilakukan dengan beberapa cara , sbb:
  • Perama : Cover Buku Sudah di lempar ke publik di tayangkan di FB. (sendiri, halaman, group, dll) berbasis FB.
  • Kedua : Menyelesaikan Buku, s.d. Siap dipasarkan
  • Ketiga : Membuat Halaman FB khusus buku KEBA
  • Keempat : Melemparkan buku gratis yang didalamnya diinformasikan buku KEBA
  • Kelima : Memasarkan dan Transaksi Penjuala

Rahasia Bagaimana Buku Politik Saya Laku Keras

Saya orang yang awalnya tidak dikenal oleh orang yang aktif berpolitik. Saya hanya mantan tim sukses salah satu Caleg pada pemilu 2009-2014, yang pernah mengantar caleg dukungannya meraih kemenangan. Hanya itu pengalaman saya dalam berpolitik.

Secara struktur saya bukan orang politik, namun keputusan saya lebih didorong karena adanya keterkaitan perjalanan hidup. Lebih kepada keterkaitan secara emosional.

Makanya ketika anda mencari saya di partai manapun tidak ada nama saya disana, baik di tingkat DPRa, DPC apalagi tingkat yang lebih tinggi lagi.

Pengalam sederhana itu coba saya tuangkan menjadi sebuah buku. Saya menulisnya tahun 2011. Hanya saja tidak saya pasarkan secara serius waktu itu.

Katika menjelang pemilu 2014, tepatnya memasuki awal tahun 2013, buku itu pemasarnnya lebih diseriuskan lagi. dengan meminta salah seorang teman saya, untuk membantu dibagian pemasaran, alakadarnya.

Pada periode Maret- April 2013, sudah ada transaksi pembelina sekitar belasan buku. Saya sangat terpukau ketika menyaksikan ada satu diantara pembeli buku saya ternyata membayar 4 kli lipat dari harga yang saya tawarkan.

Yang mengantarkan buku itu sukses dipasaran terjual melebihi jumlah dewan yang sudah ditetapkan untuk bertarung di pemilu legislatif 2014, sebenarnya merupakan langkah yang sangat sederhana.

Saya mencoba membuat buku2 biografi yang memunculkan tokoh2 politik yang sedang dalam pembicaraan media. Juga menulis pentolan-pentolan tokoh-tokoh politik di semua partai peserta Pemilu 2014. Lalu saya sebarkan di halaman FB dan grup partai-partai tersebut. Hasilnya diluar dugaan saya. itu saja. "

Saturday, May 11, 2013

Lihatlah Buktinya, Posting Ini Ada Tangal Kapan Saya menuliskannya

bagaimana perjalanan saya hingga menjadi seornag penulis sukses, Anda bisa melihat jejak-jejaknya dari blog-blog saya. Disitu ada direktiri tulisan saya, juga ada mimpi-mimpi saya yang saya tuangkan di blog-blog itu, saat itu ketika masih mei tahun 2013.

Dapat Milayaran Dengan Menjual Buku-bukunya di Blog Gratis

Ini memang kisah untuk bersenang-senang mengenang masa lalu. Sunaryo merupakan salah satu orang yang sangat meyakini bahwa blog gratis bisa di  optimalkan untuk dapat menjadi media untuk menghasilkan uang milyaran.

Beberapa bulan sejak mulai belajar internet, ia mulai menemukan blog dan belajar mengenai seluk-beluk blog, yang akhirnya pengalamannya yang masih hijau saat itu mulai melihat sebuah cerah dimana blog akan mengantarkannya bisa meraih uang milyaran. Keyakinan ini diperkuat dengan beberapa rupiah yang sudah ia dapatkan dari blok melalui praktek terkait iklan PPC.

Pengtehauan terus meningkat sejalan dengan infomasi yang sangat kaya dari internet, sehingga ia sampai kepada imajinasi bahwa ia suatu saat dapat sampai kepada titik diman ia mampu membktikan apa yang menjadi keyakinannya saat itu.

Keyakinan yang selama ini mergemuruh di dalam jiwanya sejak 2007, ternyata terjawab pada tahun 2016 bahwa ia sudah mendaoatkan uang yang terhitung jumlahnya, puluhan milyar. Tepan diusianya 40 tahun.

@blueprint Minggu 12 Mei 2013

Rahasia Sun Mampu Banyak Menulis Buku

Sunaryo memiliki satu rahasia dalam menulis buku, yang tidak sempat dipulikasikan. Ia mampu menulis buku begitu banyak diusianya yang masih muda. Ia sudah menghasilkan 2 kali lipat dari usianya, bahkan lebih. Sekarang 2016, Di Usia 40 tahun ia sudah melahirkan 100 buku.

Ia sempat membongkar beberapa rahasianya," Ketika saya menulis, saya sanggup duduk didepan laptop dari jam 8 pagi hingga jam 2 malam, dan itu dilakukan berturut-turut selama beberapa hari, sekitar seminggu lebih. Saya mengambil beberapa buku dan mengumpulkan ide-ide atau poin-point penting di buku itu, kada mencarinya langusng dinternet enenai tema atau poin yang saling terkait.  Ketika terlintas ide tulisan maka saya langung menulis, ketika tak jarang saya berfantasi membayangkan apa yang ingin saya rain lalu saya tuangkan kedalam sebuah tulisan di blog saya" Ujarnya.

Berita Menghebohkan Tahun 2014, Penulis Paling Produktif Di Indonesia

Baru-baru ini, di bulan desember 2014 beredar berita menghebohkan mengenai seorang penulis paling fenomenal dan paling produktif.

Salah satu bukunya terjual lebih dari 2 juta copi hanya dalam 1 bulan. Buku ini dinanti oleh pembacanya sebelum buku ini diluncurkan. Buku ini sudah dipesan oleh 500.000 pembaca sebelum bukunya selesai dibuat. Dan lebih dari 10 buku masuk kedalam daftar penjualan diatas 400.000 copy.

Semua orang sangat terispirasi. Salah satu produser datang menawarkan kerjasama, untuk membuatkan film dari salah satu bukunya.

Jumlah like halaman FB salah satu miliknya lebih dari 5 juta like. Ia punya kafe buku sebagai perpusatakaan milik pribadi. Kegiatan tiap hari selalu ramai, kunjungan di kafe buku selalu saja padat. Kegiatan mereka rata-rata membaca sambil bersantai. Sebagian dari mereka merupakan komunitas doyan nulis, dibawah koordinasinya.

Ia memulai lengkah menyebarkan buku-bukunya memalui blog yang ia bangun, yang diberi nama, e-oceanword. e-oceanword mulai dirintisnya hari sabtu, 5 februari 2011.

Awalnya blog ini hanya sedikit sekali pengunjung, halaman FB nya pun bisa dihitung dengan jari, hanya puluhan.

Ia salah seorang putra kabupten Bekasi yang sudah belajar blog sejak tahun 2007. Ia sangat mudah ditemui dan senang berteman. Namanya Sunaryo Saripudin.

Gubrakkkkkk.....Dasar penghayal. 

@ Blueprint Minggu, 12 Mei 2013

Selangkah-Selangkah Yakin Pasti Sampai

Sekedar untuk bersenang-senang mengoftimalkan waktu, saya mencoba untuk kembali ke halaman baru blo saya untuk mengisikan beberapa kalimat yang ingin saya utarakan disini.

Ia begitu setia kapan pun saya butuh siap menanti untuk di isi. Kalimat-kalimat mulai keluar menguntai baris-demi baris berjajar.

Saya melakukan sementara orang lain hanya mengobral kata. Saya ingin terus berkarya menghiasi warna Indonesia meski mungkin tak seorangpun kan peduli meski tak seorang pun mau berempati. Untuk membaca karya ku.

Inilah yang ku coba untuk lakukan dalam sebuah cerita hidup ku, menorehkan sesuatu yang bermakna, untuk ku, untuk sesama, untuk dunia.

Satu tekad ku untuk terus tak pernah berhenti melakukannya selangkah demi selangkah. Karena aku yakin, aku akan sampai kesana. Ke pijakan dimana aku berdiri ditempat yang paling tinggi.

Tak ada yang tak mungkin, selama kita yakin.

Salam persahabatan.

Tahun 2015 Sudah Menyusun 100 Buku

Tahun 2015 di bulan desember, ditengah-tengah kesibukannya, sudah 100 buah buku lahir dari tangan Sunaryo Saripudin.

80 persen dari bukunya dibagikan cuma-cuma di internet di blognya yang khusus menyebarkan buku-bukunya, eoceanword.blogspot.om. Sekitar 20 persennya merupakan buku-buku best seller. Total buku terjual berdasarkan data dari marketing yang khusus menangani buku-bukunya sudah lebih dari 5 juta copy.

"Menulis itu mudah. Rahasianya adalah terus menulis apapun yang mencuat dalam pikiran dan menuangkannya dalam rangkaian kata-kata. Pokoknya tulis apapun yang keluar dari pikiran."Ungkapnya.

Ini catatan mimpi yang ditulis sabtu, 11 mei 2013, saat penyelesaian buku "Kamu itu elang bukan ayam."

Friday, May 10, 2013

Mengunyah Kata Supaya Beraroma

Mr. SUN
Kue yang sama belum tentu rasanya sama bila yang membuatnya orang yang berbeda. Beda dapur beda rasa meskipun menunya sama. Namun dari semuanya memiliki kelezatan sehingga setiap disajikan menggugah selera siapapaun yang menatapnya.

Kata-kata yang ditorehkan para penulis yang satu dengan yang lainnya memiliki aroma masing-masing. Anda akan merasakan tenaga yang khas dari masing-masing penulis dengan gaya penyampaiannya yang renyah.

Cak nun, Quraish Shihab, Abu Al Ghifari, Hernowo, Bambang Trim, Aa Gym, yang pernah tulisannya saya santap, sangat keren. Dan begitu anda pun mencicipi tiap halaman dari buku mereka masing-masing, disana anda akan mencium aroma penuturan yang berbeda.

Saya belum tahu aroma gaya penuturan saya sendiri.  Dan belum menemukan benang merah gaya seperti apa yang terlihat pada tulisn-tulisan saya. Hanya saja yang saat ini saya ketahui saya baru belajar menulis. Menulis apa saja, mungkin super amburadul. Hanya saja saya berharap bisa sehebat mereka. Sehebat JK. Rowling, Sehebat T Kiyosaki, sehebat Dan Brown.

Sehebat mereka yang buku-bukunya terjual jutaan copy.

Monday, February 28, 2011

Hidup dari Menulis Buku

Banyak penulis buku di negeri ini, tapi hanya sedikit yang sempat mengecap nikmatnya royalti. Banyak orang yang mencoba untuk hidup dari menulis buku, tapi hanya satu dua yang berhasil hidup sejahtera dari bukunya.

Ada dua cara untuk dapat hidup sejahtera dari menulis buku. Pertama, menulis banyak buku yang cuku laku dijual. Dan kedua, menulis buku yang mampu mencetak bestseller.

Penulis buku bestseller otomatis akan dapat hidup sejahtera dari buku.(infoanda.com)

Suara Merdeka : Menjadi Kaya Dari Menulis

Bisakah kaya dari menjadi penulis? Inilah pertanyaan yang dibedah dalam seminar nasional “Writerpreneurship: Menjadi Penulis Best Seller” yang digelar oleh Sekolah Penulis Yogya (SPY) di Gedung Tiga Serangkai, Condong Catur Yogyakarta, Sabtu lalu (24/10).

Para pembicara M Fauzil Adhim (penulis buku best seller Kupinang Engkau dengan Hamdalah), Jonru (pemilik situs penulislepas.com), dan Siswanto (Penerbit Tiga Serangkai Solo) mampu membuat peserta menjadi terbuka wawasannya akan begitu pentingnya menulis dan dari sisi ekonomi ternyata juga cukup menjanjikan.

Menurut Fauzil Adhim, menulis dapat menjadi profesi yang memberikan standar kesejahteraan lebih. Dengan catatan, harus total dan profesional. Dalam artian, jika seseorang bisa menulis sesuatu yang penting dan bermanfaat serta dikemas dengan bahasa cair, renyah, mudah diterima masyarakat luas maka peluang untuk mendapatkan royalti besar bukanlah hal yang tak mungkin.

“Sudah banyak contoh penulis yang kaya dan sejahtera karena tulisan-tulisannya. Habiburrahman Elshirazy misalnya, dari novel Ayat-Ayat Cinta, mendapatkan royalti lebih dari Rp 1,2 miliar. Emha Ainun Nadjib, buku-bukunya laris manis bak kacang goreng sehingga royaltinya pun cukup lumayan dan banyak penulis lainnya seperti Asma Nadia, Helvy Tiana Rossa, Joni Ariadinata,” paparnya.

Dia sendiri yang menulis novel Kupinang Engkau dengan Hamdalah, sudah cetak ulang ke-26 dengan sekali cetak minimal 10.000 eksemplar. Bayangkan, harga buku Rp 20.000 sedangkan royaltinya 10%, tinggal menghitung saja totalnya. Dengan menulis dia dapat mencukupi kebutuhan hidup dan menabung.

Persyaratan

Di depan peserta seminar Fauzil mengatakan, untuk menjadi penulis buku yang berhasil dibutuhkan sejumlah prasyarat antara lain fokus atau setia pada satu bidang kajian karena itu menyangkut personal branding atau kepakaran dalam satu masalah. Selanjutnya, menulis sesuatu yang penting dalam buku sehingga dibutuhkan dan dijadikan rujukan banyak orang.

“Jangan sampai hanya menjadi buku sampah yang tidak memberikan makna apa pun kepada pembaca. Buku yang isinya penting dan kajiannya fokus harus dikemas dalam bahasa yang renyah serta kemasan menjual. Kalau semua persyaratan itu terpenuhi maka tak sulit untuk menjadikan buku kita marketable,” tandasnya.

Siswanto dari Penerbit Tiga Serangkai menambahkan, ada dua sistem yang selama ini dipakai untuk memberi penghargaan kepada para penulisnya.

Pertama, dengan sistem royalti, honorarium dibayarkan sesuai jumlah buku yang terjual per tiga atau enam bulan. Berikutnya sistem beli putus.

Sejauh ini pihaknya masih terus mencari naskah-naskah dari penulis luar yang bersifat buku teks, panduan, agama, dan aneka tema lainnya.

Yang mengirim naskah banyak, namun yang isinya benar-benar berkualitas masih sedikit. Karena itu, peluang menjadi penulis masih sangat terbuka. (D19-70)

Sumber: SuaraMerdeka.com (bukuinstan.blogspot.com)

7 Cara Membangkitkan Gairah Menulis Yang Sudah Kendur

Sepotong sajak, sebaris kata bijak, sepenggal cerita, sedikit keuntungan rupiah, sealinea biografi, secangkok lagu dangdut, begitu sering dapat membangkitkan gairah untuk segera beraksi. Dalam menulis dibutuhkan ketekunan. Para penulis senior biasanya membeberkan banyak keuntungan yang bisa diraih dari olah tulis dan menjadi penulis atau pengarang yang produktif.

Gairah menulis perlu dipompa terus. Proses kreatif tidak boleh berhenti. Karenanya, dibutuhkan kembali kehadiran perangkat-perangkat untuk penyemangat dalam menulis.

Sudah lama The Liang Gie memaparkan temuannya bahwa, ada enam nilai manfaat yang diperoleh para penulis (pengarang) yaitu, nilai kecerdasan, nilai kependidikan, nilai kejiwaan, nilai kemasyarakatan, nilai keuangan, dan nilai kefilsafatan.

Pembaca budiman, kalau mau, kita mampu menambah lebih panjang daftar manfaat menulis. Apa bisa? Seperti kata sebuah iklan, “bisa”. Asal giat berlatih, banyak membaca, bekerja lebih keras lagi. Dan lebih keras lagi.
Semakin kita dapat meraba keuntungan-keuntungan dalam menulis plus memahami sejumlah kesulitan, maka insya Allah gairah menulis akan terjaga, bahkan grafiknya tambah meningkat.

Berberapa upaya agar semangat mengolah tulisan makin bergairah.

1. Membaca Mahakarya Penulis atau Pengarang Dunia
”Di belakang tiap kata berdiri suatu dunia, tiap orang yang menggunakan kata harus menyadari bahwa ia menggoyang dunia”, demikian tulis Hernowo mengutip pernyataan Heinrich Boll.

Saya setuju. Betapa memang manusia sangat dipengaruhi oleh kata-kata yang didapatinya. Entah dengan membaca atau mendengar. Tentu saja kekuatan bacaan lebih ampuh karena bisa dipelajari berulang-ulang, walau dalam rentang waktu yang sangat jauh jaraknya, antara saat kata-kata itu ditulis dengan dibaca.

Perubahan besar sejarah dunia, ternyata banyak digerakkan oleh kekuatan bacaan. Kita tahu dalam sejarah Islam, hanya dalam waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari semenanjung Arabia yang dihuni oleh masyarakat jahiliyyah berubah total akhlaknya. Masyarakat yang gemar melecehkan kaum wanita, menjadi penyayang dan pelindungnya. Pedang yang biasanya digunakan untuk menyelesaikan masalah, diganti dengan solusi musyawarah. Sungguh pun perubahan terjadi terutama karena keteladanan dari Nabi Muhammad Saw.. tapi yang ingin saya tekankan adalah perubahan-perubahan besar itu dimulai dengan perintah “membaca” (Lihat QS. Al-‘Alaq [95]: 1-5).

Membaca dengan segala macam kandungan dan falsafahnya, telah sanggup merubah peradaban. Kenyataan sejarah di orde yang berbeda kembali membuktikan. Perubahan-perubahan dahsyat di pentas dunia dipelopori oleh bacaan-bacaan atau tulisan-tulisan.

Seorang penulis produktif yang juga muballigh, yakni KH. M. Isa Anshary (Allahu yarham), mengurai betapa hebatnya pengaruh tulisan (bacaan). Saya tulis ulang pernyataannya dari buku “Mujahid Dakwah” (Diponegoro, 1995).

“... Revolusi-revolusi besar di dunia, selalu didahului oleh jejak pena dari seorang pengarang. Pena pengarang mencetuskan suatu idea dan cita, menjadi bahan pemikiran pedoman berjuang. Revolusi Perancis bergerak di bawah cahaya pikiran dan cetusan pandangan yang dirintiskan oleh J.J. Rousseu dan Montesquieu. Revolusi Amerika dibimbing oleh ‘Declaration of Independence’ (Fatwa Kemerdekaan) yang sampai kini dijadikan pedoman besar oleh bangsa Amerika. Revolusi Rusia dan perjuangan kaum komunis di seluruh dunia dipimpin oleh ‘Comunistisch Manifest’, karya Marx dan Engels. Nazi Jerman bergerak di bawah petunjuk buku Mein Kampf buah tangan pimpinan mereka Hitler.

Revolusi Tiongkok berpedoman kepada San Min Chu I karangan Sun Yat Sen. Revolusi Indonsia didahului oleh pemikiran-pemikiran revolusioner dari Bung Karno, Hatta, Syahrir dan Tan Malaka. Pidato pembelaan Bung Karno di muka pengadilan kolonial di Bandung ‘Indonesia menggugat’ brosur revolusioner ‘Mencapai Indonesia Merdeka (MIM)’, pidato pembelaan Bung Hatta di muka pengadilan Den Haag yang berjudul ‘Indonesia Vrij’ dan buku kecilnya ‘Ke arah Indonesia Merdeka (KIM)’, tulisan-tulisan Syahrir dalam ‘Daulat Rakyat’ tentang taktik dan straegi perjuangan, buku-buku Tan Malaka yang diselundupkan dari luar negri, semua itu telah menjadi aspirasi dan inspirasi bagi perjuangan kemerdekaan tanah air. Renaissance Alam Islamy, gerakan reformasi dan modernisasi Taimiyah, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Amir Syakib Arsalan dan Abdurahman Al-Kawakibi. Pembinaan negara Islam Pakistan didahului oleh buku-buku Mohammad Iqbal...”

Pembaca budiman, dengan membaca tulisan-tulisaan mahakarya penulis kelas dunia, kita akan mendapatkan semacam ruh kekuatan untuk melahirkan tulisan yang mengguncang dunia. Tentu saja ambil yang positifnya. Pastikan kita mendapatkan hikmah dari proses kreatif mereka. Untuk menuliskan pendapat dan pikiran saja, mereka banyak mengalami sederetan penderitaan.

2. Bagian dari Proses Menyembuhkan
Inilah pengakuan Hernowo, penulis “Mengikat Makna” dan “Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza”, yang banyak mendapat tempat di hati pembaca itu. “Menulis bagi saya tidak sekadar berhubungan dengan tinta dan kertas. Menulis adalah proses ‘menjadi’ dan ‘berkembang’. Lewat menulislah kadang saya mampu memecahkan beberapa persoalan yang ‘menekan diri saya’. Simak lagi pernyataannya, “menulis bagi saya, merupakan kegiatan yang ‘ringan’. Ini lantaran menulis saya persepsikan sebagai kegiatan yang menyembuhkan.”

Usai membaca ungkapan tersebut, saya segera ingat bahwa, manusia yang paling gampang ruwed, capek, bosan dan cepat jenuh. Apa lagi bila melihat hal-hal yang dianggap aneh. Manusia cenderung tidak mampu menyimpan apa-apa yang dialaminya. Sudah menjadi sifat manusia ingin segera menumpahkan yang dirasakannya itu.
Memori saya pun tertuju pada sebuah cerita, yang ditulis oleh KH. Abdurrahman Arrosi tentang raja bertanduk dan tukang kayu (Rosda Karya).

Seorang tukang kayu memergoki sang raja. Heran bin heran si tukang kayu, karena kepala sang raja ternyata bertanduk. Begitu pun dengan raja yang waktu itu membuka mahkotanya. Ia segera tahu bahwa, aibnya sudah diketahui seorang rakyatnya. Raja berpesan agar tukang kayu tidak menceritakan kejadian yang baru saja dilihatnya. Tukang kayu berjanji tidak akan pernah cerita kepada siapa pun.

Benar, tukang kayu tidak pernah bercerita.Tetapi ia tidak tahan lebih lama menyimpan keganjilan kepala raja. Akhirnya ia berteriak seorang diri di hutan, “raja kita bertanduk”. Dalam waktu singkat, seluruh penduduk kerajaan tahu, bahwa raja mereka bertanduk. Ternyata, saat tukang kayu berteriak, “raja kita bertanduk”, ada burung beo yang mendengarkan. Lalu burung itu terbang sambil menirukan “raja kita bertanduk”.

Yang ingin saya sampaikan, sudah pasti kita mengalami masalah-masalah berat, yang bisa disepadankan dengan tukang kayu. Meski wilayah peristiwanya berbeda, tapi merupakan bagian dari proses menyembuhkan. Masalah berat menjadi lebih ringan. Sebab, sudah ditumpahkan ke dalam tulisan.

3. Honor
Pertama kali saya terima honor tulisan tahun 1993, dari tabloid Hikmah termuat di rubrik kecil bernama “Mereka Bicara”. Jumlahnya Rp. 7.500. Senang bukan bikinan. Waktu itu masih sekolah di kelas III Madrasah Aliyah Negeri.

Saya tidak perlu malu untuk menyebutkan, bahwa honor tulisan itu menggiurkan. Setidaknya untuk level pemula. Harus kita akui pula, banyak penulis yang tidak begitu mempersoalkan honor. Kelompok ini biasa disebut kaum idealis. Asal ide-ide sudah dibaca orang, cukuplah.

Saya pernah ngobrol dengan mantan seorang Pemimpin Redaksi sebuah majalah lokal di Bandung, ia mengabarkan, dari hasil nulis resensi saja adiknya sanggup menyelesaikan kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Menakjubkan.

Sepanjang tahun 1997-2002 ada beberapa tulisan saya yang dimuat. Honornya mulai Rp. 50.000-Rp. 200.000 per tulisan. Jika dibandingkan dengan honor di luar negeri, pasti honor penulis Indonsia tertinggal sangat jauh. Sewaktu ceramah di Yayasan “Jendela Seni” Pak Wilson Nadeak cerita, dengan hanya satu tulisan dimuat, di Eropa, para penulis bisa membiayai hidup selama sebulan. Selain dibayar mahal, sebuah tulisan dapat dipublikasikan ± sampai sepuluh media lewat biro jasa.

Saya berani memperkirakan, beberapa tahun ke depan honor penulis Indonsia kian membaik. Hal ini ditandai dengan munculnya banyak media massa, yang berarti apresiasi masyarakat terhadap tulisan makin bagus. Logikanya, nilai jual lebih tinggi lagi. Lahan bagi penulis melebar.

4. Shadaqah Ilmu
Budayawan Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) dalam “Tadarrus Budaya”-nya kurang-lebih mengatakan begini, seorang faqih bisa mendekati Allah dengan ibadah legal formalnya. Seorang seniman bisa mendekati Allah dengan karya seninya dan seorang sastrawan bisa mendekati Allah dengan karya sastranya.

Kalau kita panjang-lebar-luas-dalamkan, bisa lebih banyak lagi. Dan saya ingin mengatakan, seorang penulis bisa menularkan ilmunya lewat tulisan. Asal yang kita tulis untuk kemaslahatan.

Shadaqah ilmu lewat media tulis kenapa tidak? Bukankah menyebarkan ilmu sangat diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Meski satu ayat, shadaqah ilmu lewat tulisan sangat strategis dari segi efektivitas dan tabungan pahala untuk meraih ridha-Nya.

Renungngkan! Allah memberikan pahala bagi orang yang memberikan jalan (petunjuk) kebaikan sebagaimana orang yang diberikan petunjuk mengerjakan kebaikan. Semakin banyak ilmu yang kita sebar, maka tambah banyaklah kemanfaatan yang diperoleh pembaca.

5. Sebagai Warisan yang Membanggakan
“Gajah mati meninggalkan gading”. Pepatah usang ini menyampaikan pesan sosial yang sangat berharga. Gajah saja yang hewan menyisakan gading yang dapat dimanfaatkan oleh manusia.

Apa yang sanggup kita wariskan? Tanah, rumah, uang, mobil, tak ada salahnya. Tetapi tidak sedikit warisan yang demikian mengakibatkan permusuhan sesama saudara sekeluarga. Terkadang juga kurang mendidik.

Kondisinya sangat berbeda, jika saja yang kita wariskan adalah ilmu. Warisan dalam tulisan (buku) punya nilai yang sangat membanggakan.

Warisan tersebut dapat membantu anak-cucu dan generasi setelah kita, untuk mempertahankan sejumlah nilai luhur yang telah kita kerjakan, sekaligus sebagai bahan guna menggali potensi yang ada.

6. Menyadari Penuh bahwa Manusia itu Makhluk Penulis
Roesli Lahani Yunus meyakinkan kepada kita dengan sebuah kutipan dari Emerson, perihal manusia sebagai penulis. “Manusia pada hakikatnya adalah penulis. Apa yang ia lihat atau alami, ia jadikan pola. Ia percaya, apa yang dapat dipikir, akan dapat pula ditulis, lambat atau cepat. Dalam tiap pembicaraan, dalam tiap bencana, dalam tiap peristiwa, dalam tiap perjalanan, ia dapatkan bahan baru untuk tulisannya atau karangannya.”
Sealinea keyakinan di atas, kiranya dapatlah mengusir keragu-raguan para penulis pemula, yang biasanya bertanya semacam ini, “mampukah saya menulis?”

Bertolak dari potensi yang dimiliki manusia itu berbeda, baik perasaan, temuan, kehobian, penyikapan mengenai sesuatu, sekiranya diolah, maka menjadi tulisan yang beragam. Satu masalah yang muncul, cara penyelesaiannya dengan beberapa alternatif. Solusi alternatif yang kita miliki, merupakan bahasan tulisan yang bermutu tinggi karena memiliki keunikan tersendiri.

Kata lainnya, menulislah dari apa yang kita rasakan, harapkan dan renungkan. Bukan dari sesuatu yang berada di luar diri kita. Dari titik ini pulalah penulis produktif semisal Hernowo dan Abu Al-Ghifari lancar menulis. Setelah memulai dari diri sendiri, barulah mereka mencari data-data pelengkap agar tulisannya menjadi lebih bertenaga sekaligus dipercaya pembaca. Dan pada proses lebih lanjut, seorang penulis akan berkata, “menulis itu sebenarnya indah.”

7. Setiap Gaya Tulisan Ada Penggemarnya
Pembaca budiman, saya mengajak Anda untuk sedikit bermimpi. Tidak banyak. Andai sejudul tulisan kita sudah selesaikan. Andai sebuah naskah untuk ukuran buku telah kita rampungkan. Masihkah kita menyisakan pertanyaan semodel “apakah tulisan bikinan saya laku di pasaran?”

Ibarat makanan, punya pengemarnya masing-masing. Yang satu hobinya pecel lele, lainnya nasi goreng, sementara di tempat yang berbeda kita temukan penikmat nasi liwet lengkap dengan sambal dan ikan asinnya.
Betapa pun demikian kuat pengaruh penulis yang kita kagumi, mewarnai gaya tulisan kita, saya setuju dengan Mohamad Fauzil Adhim, penulis buku bernuasna “pernikahan” bahwa, selekasnya kita menemukan gaya tulisan sendiri. Insya Allah, gaya tulisan yang kita peragakan ada juga yang mengambil manfaatnya, alias Suka.
By Lilis Nihwan (bukuinstan.blogspot.com)

774 Surat Penolakan Naskah

Tidak ada gagal bagi orang yang ingin berprestasi. Sebagai muslim pantang untuk berputus asa. Salah-satu karunia terbesar dalam hidup kita adalah membangun sikap optimis. Bukankah Rasul Saw. mengatakan, bahwa amal (kreativitas) yang baik adalah yang dilakukan secara istiqamah, walaupun amal itu sedikit.

Ibarat menaiki tangga, sudah pasti kita tidak langsung sampai ke puncak. Tidak ada kehebatan apa pun kecuali menjaga kebiasaan baik dan mengembangkannya. Yakinlah kita sedang merangkak tangga demi tangga. “Man jadda Wa jadda – siapa-siapa yang sungguh-sungguh ia akan mendapatkan”, begitu sebuah keterangan dalam kitab Ta’lumul Muta’allim.

Gunawan Muhammad, Mahbub Djunaidi (Alm) adalah sosok penulis populer di negeri ini. Selidiki dan pelajarilah kepedihan mereka sehingga menjadi penulis handal. Bambang Trim Dirut Pusat Kajian Informasi Buku (Pikbuk), Bandung mengaku, selama tiga tahun kuliah di Editing Universitas Padjajaran tak satu pun tulisannya dimuat. Tentu saja sekarang penulis “Menggagas Buku” itu tulisannya tersebar di banyak media. Hernowo, General Manager Editorial Penerbit Mizan jujur mengatakan, sejudul penulisannya baru dimuat sebuah harian bergengsi setelah ratusan naskahnya ditolak. Roesli Lahani Yunus memperkirakan untuk penulis pemula rata-rata di atas 40 kali mengirim naskah baru diharapkan bisa dimuat.

Di posisi ini kita harus menyimak uraian Wilsaon Nadeak. Penulis kawakan pengasuh rubrik “Karang mengarang” HU Pikiran Rakyat. Alex Haley naskahnya ditolak sampai 200 kali belum juga dimuat. Di Francisco seorang penulis menerima 600 surat penolakkan. John Creasy pengarang Inggris menyimpan 774 naskah yang ditolak. (Pikiran Rakyat, 27 Juli 2002). Artinya, kegigihan sangat kita perlukan.

By Abu Al-Ghifari
(bukuinstan.blogspot.com)

Membuat Naskah Buku Yang Berkualitas

Naskah buku yang berkualitas adalah dambaan setiap penerbit. Hampir dipastikan penerbit hanya akan menerbitkan naskah-naskah yang berkualitas. Naskah yang berkualitas tidak hanya memiliki bobot isi yang baik, tapi juga bidikan pasar yang marketable. Bobot isi yang baik tidak terletak pada tema yang diangkat. Tema tidak menentukan apakah sebuah buku—meminjam istilah Hernowo—“bergizi” atau tidak. Tema hanya menentukan selera.

Lalu, apa saja yang membuat naskah buku berkualitas ?
Tentu, di samping materi yang berbobot, paling tidak ada 2 hal yang patut diperhatikan menyangkut naskah yang berkualitas:

Pertama, bahasa buku. Sehebat apapun materi yang disajikan, tapi penataan bahasanya kacau—tidak memenuhi kaidah-kaidah reasoning (penalaran)—naskah buku tersebut akan menjadi tidak menarik. Karenanya, bahasa perlu diolah sedemikian rupa agar ketika naskah dibaca, terasa enak, mengalir, mudah dicerna, dan mengasyikkan, serta merangsang nalar.

Untuk membuat sebuah bahasa yang mampu merangsang nalar, maka, 1) susunan kalimat dan gerombolannya harus logis. 2) seluruh kalimatnya diupayakan memiliki diksi (pilihan kata) yang indah dan menggairahkan. 3) penyajian keseluruhan bahasa memiliki koherensi (keterkaitan) dan komposisi (ketersusunan) yang selain harmonis juga menyimpulkan.

Kedua, mengemas “daya pikat”. Sebuah buku, dikatakan berkualitas, selain karena materinya oke, bahasanya tertata dengan baik, juga karena tampilan bukunya yang memikat. Untuk naskah buku, tak banyak yang bisa diperbuat oleh penulis untuk mengemas daya pikat. Pihak penerbit yang banyak berperan.

Tapi, membuat judul yang “menggigit”, satu dari banyak hal yang bisa dilakukan oleh penulis untuk mendongkrak kualitas naskah buku. Perhatikan buku-buku yang berhasil best seller, judul-judulnya menggigit bukan? Bahkan acapkali judulnya lebih “menggigit” ketimbang isi buku itu sendiri.

Dalam sebuah acara diskusi buku Seks In The Kost di Aula Fakultas Psikologi Unair Surabaya, Iip Wijayanto pernah diprotes dengan judul bukunya itu yang teramat provokatif. Isi buku itu dinilai beda jauh dengan judulnya. Karenanya Iip dituding hanya mengejar keuntungan.

Dari aspek judul, buku-buku Iip memang cukup kontroversial. Di antaranya, 97,05 Persen (hasil penelitian tentang virginitas mahasiswi Jogja), Seks In The Kost, Seks Kalangan Terpelajar, dan Kampus Fresh Chiken. Tapi kalau membaca isinya, buku-buku itu lebih kepada analisis seks menggunakan ilmu tasawuf.

Apa kata Iip? Iip mengaku sengaja memilih judul-judul yang kontroversial dan komersial. Bagi Iip, judul buku yang “heboh” itu adalah strategi saja. Karena, menurutnya, kalau judul bukunya mengandung unsur religius, maka pangsa pembacanya hanya kalangan tertentu. Judul-judul yang “heboh” merupakan strategi agar pesan dakwah sampai ke banyak kalangan.

Maka, tak heran bila buku-buku Iip dapat menembus angka penjualan yang lumayan spektakuler. Buku Seks In The Kost-nya Iip misalnya, terjual 20.000 eksemplar pada dua bulan pertama.

Terlepas dari benar-tidaknya apa yang dilakukan Iip, “kasus” judul-judul Iip yang kontroversial, memberi pelajaran kepada kita pentingnya membuat judul yang “menggigit”. ***

by Badiatul Muchlisin Asti (bukuinstan.blogspot.com)

Sunday, February 27, 2011

Guru, Menulislah Biar Kaya

Siapa bilang menjadi penulis tidak bisa kaya? J.K Rowling sudah membuktikannya.
Ia berangkat dari seorang melarat yang hanya mampu berangan-angan dalam bus menjadi kaya
dalam sekejab menjelma menjadi selebritis dunia. Bermodalkan daya imajinasi kuat yang
jarang dimiliki orang kebanyakan dan diimbangi motivasinya yang kuat untuk menulis,
menyebabkan ia dapat mewujudkan semua impiannya untuk menjadi seorang milyarder. Saking
dari suksesnya dia, namanya selalu masuk dalam daftar orang terkaya di Inggris sejak buku
Harry Porter edisi pertamanya terbit. Perlu dicatat itu
hanya dari salah satu buku berjudul Harry Potter. Andaikata dia menulis lebih dari
satu judul, bisa dibayangkan akan sekaya apa dia. Bisa jadi, dia akan menjadi salah
satu orang terkaya di planet bumi.

Jangan lupakan juga Bobbi De Porter. Tokoh ini juga menjadi terkenal di kalangan seluruh
dunia, utamanya dunia pendidikan karena bukunya yang berjudul Quantum Learning dan Teaching
meledak dipasaran. Padahal dulunya tokoh ini hanyalah seorang guru biasa. Berkat keuletan
dan kekreatifan tokoh ini dalam mencari peluang untuk sukses, hasil penelitian tindakan
kelasnya bersama mike hernacki di terbitkan. Dan takdir akhirnya menentukan. Dia sukses.

Lantas bagaimana dengan penulis-penulis Indonesia? Tidak adakah diantara mereka yang
memiliki nasib mujur seperti Rowling atau De Potter? Ternyata banyak juga diantara penulis-
penulis Indonesia tersebut yang menjadi jutawan. Mereka menjelma menjadi selebritis, pembicara
terkenal, bahkan menjadi bintang film atau pengusaha sukses. Mereka buktikan bahwa dengan
menulis mereka bisa mewujudkan mimpi kebanyakan manusia untuk menjadi kaya dan terkenal.
Mereka juga membuktikan bahwa dengan menulis, mereka bisa menjadi sosok idealis nan suci
yang mampu memberikan sumbangsih nyata memajukan bangsa Indonesia melalui buku-buku yang
mereka karang dan tulis.
Siapa-siapa sajakah mereka itu?

Ada lebih dari 200an nama penulis yang telah merasakan buah manis dari hasil kerja keras
mereka menulis buku. Beberapa dari mereka kita sebut saja AA Gym, Adi Soenarno,
Anand Khrisna adalah seorang guru. Nama-nama seperti Dewi Lestari, Djenar Maesa Ayu,
Goenawan Mohamad, Hilman Lupus Hariwijaya, Mira W, NH. Dini, Pipit Senja, adalah nama-nama
asing bagi telinga bangsa Indonesia sebelum mereka terkenal karena buku mereka. Mereka
ini adalah penulis terkenal yang kerap muncul di media cetak-media cetak maupun elektronik
yang ada di Indonesia.

Lantas dimanakah sebenarnya kunci kesuksesan mereka sampai menjadi sukses seperti
sekarang ini? Sebenarnya ada tiga bahan bakar yang mampu menjadi penggerak tangan untuk
dapat menari di atas berlembar kertas. Tiga bahan tersebut adalah motivasi, persepsi dan
proses. Motivasi ini dijelaskan sebagai sebuah daya magnet terhadap hati untuk dapat
tertarik pada kegiatan tulis menulis. Motivasi tidak perlu dicari jauh-jauh karena
sebenarnya ia bisa didapat di sekitar kita, seperti dorongan semangat dari orang tua,
komunitas pendidikan yang mendukung kegiatan tulis menulis dan media bacaan atau tontonan
yang mensupport kegiatan baca tulis. Selain motivasi, persepsi juga memegang peranan
penting. Calon penulis ketika hendak menulis buku harus mampu merubah mindset mereka yang
telah lama dikotori oleh paradigma pesimisme bahwa penulis itu bakal miskin dan hidupnya
acak-acakan. Paradigma ini harus dirubah menjadi kebalikannya bahwa kapan sajapun asal mau
menulis, seorang penulispun bisa menjadi kaya raya dan sukses.
Bahan bakar terakhir adalah proses. Bahwa dalam menulis butuh proses yang kreatif adalah
sebuah fakta yang tidak dapat diperdebatkan lagi.

Artikel ini mencoba meyakinkan anda banyak bahwa profesi penulis bisa mendatangkan
kekayaan. Kekayaan itu tidak mungkin datang dengan sendirinya. Lika-liku yang ditempuh
penulis Indonesia yang telah disebutkan di atas dalam merentas jalan kesuksesan perlu
dijadikan inspirasi dan motivasi dalam menulis. “Demam” obsesi penulis perlu disebarkan
kepada khalayak ramai. Menjadi the agent of change dari mindset paradigma negatif yang
menyatakan bahwa penulis itu miskin dan suram masa depannya, menjadi mindset positif tidak
ada salahnya. Saya pun dengan suka rela merelakan diri saya menjadi the agent of
positive mindset dengan menulis artikel ini, karena saya yakin menjadi penulis adalah
cita-cita yang bisa dibanggakan, memiliki masa depan dan bisa terkenal

Inti dari artikel ini adalah: siapapun anda, apapun profesi anda, bagaimanapun
status sosial dan ekonomi anda, anda berhak untuk menjadi seorang penulis yang hebat dan
diperhitungkan. Andapun bisa mengubah diri anda dari no one menjadi someone, dari zero
menjadi hero. Dari jurang kemelaratan menjadi kaya raya, tanpa batas. Dari anak kecil yang
diremehkan menjadi diperhitungkan.
(pusatbahasaalazhar.wordpress.com)

Mau Kaya Jadilah Penulis

MAU KAYA JADI PENULIS
Oleh Naijan Lengkong

SEPULUH ALASAN KENAPA MEMILIH DUNIA PENULISAN

“Jadilah penulis kalau anda ingin jadi jutawan”. Itulah anjuran saya mengawali tulisan ini. Kenapa? Setidaknya ada sepuluh alasan kenapa saya menganjurkan seperti itu:

1. Menulis dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja anda suka: dirumah, diluar rumah, di perjalanan, di kantor, di pesawat terbang, di kereta api, di mobil atau ditempat tidur sekalipun. Pokoknya dimana saja yang anda inginkan. Tahukah anda bahwa penulis terkenal Sean O’Casey menulis novel pertamanya diatas sebuah kursi taman. O Henry (William Sydney Poter) berada di penjara ketika menulis karyanya yang pertama. Demikian juga Arsmendo Atmowiloto menulis karyanya Menghitung Hari dalam penjara, yang kemudian karya itu diangkat ke layar TV. Sasterawan terkenal Taufik Ismail, banyak menghasilkan karya-karya terkenalnya berupa puisi ketika melaksanakan ibadah umrah di tanah suci. Jika anda tidak bisa mengungkapkan suatu fakta atas suatu kejadian, anda dapat mengembangkan imajinasi anda dengan menggabungkannya dengan kondisi dimana anda berada sedang berada. Pokoknya yang penting adalah bahwa anda hanya memiliki satu pekerjaan dan satu tujuan, yaitu menghasilkan karya yang dapat dibaca dan dapat dijual.

2. Bisnis menulis tidak terlalu membutuhkan waktu dan energi yang banyak. Semua terserah anda. Andalah yang menjadi manajer atas diri dan pekerjaan anda. Anda dapat bekerja satu jam, dua jam, setengah hari atau satu hari, semua terserah anda. Tidak ada yang akan memarahi anda karena anda bekerja untuk diri anda. Atau bisa saja anda bekerja pada malam hari, ketika orang lain sedang tidur lelap. Jadi lamanya waktu yang anda berikan untuk pekerjaan anda ini seluruhnya tergantung anda. Mulailah dari yang sederhana, misalnya menulis sebuah anekdot untuk sebuah majalah humor atau koran. Lalu mengikuti perlombaan yang diadakan oleh satu majalah atau surat khabar lokal atau bahkan lembaga-lembaga tertentu, baik itu lomba menulis cerpen, puisi, pantun, esei atau jenis tulisan lain.

3. Usiapun bukan masalah. Berapapun usia anda, tidak ada halangan untuk memulai menulis. Tidak ada alasan terlalu muda atau terlalu tua untuk memulai kegiatan menulis ini. Saya sendiri memulai menulis ketika berusia duabelas tahun. Kalau anda kenal Faiz si anak ajaib, putra tunggal sastrawan Helvy Tiana Rosa, mulai menulis sejak berusia empat tahun dan langsung menerbitkan karya-karyanya ketika berusia tujuh tahun. Marion Howard Spring penulis Eleven Stories and a Beginning mulai menulis pada usia tujuhpuluh empat tahun. Kemudian Mary Ogilvie berusia sembilanpuluh tiga tahun ketika menyelesaikan buku pertamanya A Scottish Chilhood – and What happened After pada tahun 1986. Selain itu banyak juga tokoh Indonesia yang mulai menulis justru ketika mereka mulai masuk masa pensiun.

4. Ketidak berdayaan anda secara fisik tidak perlu menghalangi anda dalam berkarya. Banyak orang yang tidak mampu secara fisik yang telah menulis buku-buku yang sangat membantu dan memberikan inspirasi kepada orang lain, bahkan ketika ia cacat sekalipun. Coba bayangkan, Christy Brown, yang lumpuh sekujur tubuhnya kecuali kaki kirinya yang kemudian digunakannya untuk menulis karya terbaiknya (best seller) yaitu My Left Foot. George Thomas, sementara tergolek tak berdaya di tempat tidur, menulis tiga buah buku selama lima tahun dengan menggunakan tangan kanannya yang digantungkan diatas pembaringannya. Edith Bone yang dilarang menulis ketika dikurung di penjara Hongaria, tetap tidak putus asa. Dia menggunakan untaian rambutnya dan gumpalan-gumpalan roti menjadi cempoa (cipoa) dan digunakannya untuk berhitung dan menyelesaikan soal-soal Matematika. Dan justru inilah yang membuatnya bertahan hidup. Setelah dibebaskan iapun kemudian menulis outabiografinya.

5. Apapun jenis tulisan anda, yang penting dapat menarik para pembaca. Apakah itu ilmiah atau populer, sederhana atau kompleks, khusus atau umum, semua terserah anda. Asalkan tentu saja anda pasarkan pada media yang tepat. Anda dapat memilih pembaca sesuai dengan bidang dan juga keinginan anda sendiri. Dan ingat, selama anda tetap pada prinsip bahwa apapun yang anda tulis adalah untuk dijual, maka dunia menulis ini akan menjadi ladang mutiara bagi anda.

6. Apapun latar belakang anda, itu tidak penting. Juga apapun warna kulit anda: hitam, putih, kuning, merah atau dari ras atau agama apapun anda, semua bukan halangan untuk menulis. Kalau anda merasa berasal dari ras yang berbeda atau anda merasa ‘berbeda’ dengan orang disekitar anda, itu sebenarnya merupakan keuntungan tersendiri bagi anda. Anda bisa menulis dengan thema keunikan diri atau ras anda itu Susunlah secara menarik sehingga enak dibaca dan dapat menambah pengetahuan orang lain tentang diri atau ras anda itu. Chinua Achebe menceritakan kelebihan bangsa Nigeria dibandingkan bangsa lainnya melalui tulisannya Man of the People dan Thing Fall Apart. Ruth Prawer Jhabvalla, gadis kelahiran Polandia, menikah dengan pria suku Indian., banyak menulis tentang karakter dan pola kehidupan suku tersebut, yang kemudian berhasil diangkat ke layar lebar. Sekarang bercerminlah anda. Apa yang anda miliki? Apa kelebihan diri anda? Apa keunikan pribadi, karakter, sifat, diri anda atau bahkan suku anda ketimbang yang lainnya? Dan tulislah! Yang perlu anda ingat, jadikanlah menulis itu seperti hiburan atau olah raga, sehingga anda melakukannya dengan riang.

7. Untuk memulai bisnis menulis, anda tidak perlu dana yang besar untuk modal awal. Andapun tidak perlu mengajukan kredit di bank. Modal awalnya cukup sebatang pena atau pensil dan beberapa lembar kertas. Dan anda sudah bisa mulai menulis. Kalau ingin mengetik naskah, untuk sementara pinjam saja mesin ketik manual dari teman, tetangga atau kerabat. Kalau tidak ada juga, numpang saja di kantor kelurahan pada sore atau malam hari selepas jam kantor. Gampang ‘kan? Dan tidak ada resiko finansial jika tulisan anda tidak terjual, kecuali rugi beberapa lembar kertas saja dan prangko. Yang anda butuhkan seluruhnya ada dalam benak anda berupa ide-ide tulisan dan juga kemampuan memindahkannya menjadi bentuk tulisan agar mudah difahami para pembaca, terutama para editor, sehingga mereka mau menerbitkannya. Setelah itu anda tinggal menunggu kiriman wesel dari penerbit, atau anda langsung mengambilnya di kantor redaksi. Atau kalau anda menyertakan juga nomor rekening bank anda, anda hanya tinggal mengeceknya di rekening dengan kartu ATM.

8. Peluang untuk bisnis penulisan ini selalu terbuka lebar, bahkan pada masa resesi sekalipun. Hal ini karena setiap orang butuh bacaan sebagai sumber informasi. Saat ini terdapat ratusan media massa cetak di Indonesia tercinta ini, baik itu berupa surat khabar harian, tabloid ataupun majalah yang terbit mingguan, ataupun bulanan. Bahkan saat ini terdapat ratusan bahkan ribuan radio di seluruh Indonesia dan puluhan stasion televisi local dan nasional. Tanyakanlah pada pengelolanya, pasti mereka butuh naskah setiap hari, baik itu naskah berita atau drama. Dan itu peluang anda.

9. Keuntungan lainnya adalah adanya kepuasan batin. Kepuasan ini tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Seorang penulis, terutama para pemula, akan merasakan kebanggaan dan kepuasan yang tiada taranya ketika ketika hasil karya dimuat di sebuah majalah atau surat khabar. Bahkan walau hanya sebait puisi. Atau bahkan jika tidak mendapatkan honor sekalipun, karena karyanya akan dikenal oleh ribuan atau jutaan pembaca. Namanya akan dikenal dan itu investasi bagi penulis. Anda tidak percaya, silahkan coba sekarang!

10. Khusus bagi wanita, profesi menulis adalah profesi yang sangat memungkinkan. Bagi anda para wanita, jika berkarir dibidang lain selain bidang penulisan ini, anda dibatasi oleh kemampuan fisik dan juga jenjang pendidikan. Dalam bidang apapun, harus diakui bahwa kaum pria saat ini lebih mendominasi ketimbang wanita, karena pria mempunyai kelebihan secara fisik. Ini adalah kenyataan yang tidak bisa anda bantah. Tapi untuk menjadi penulis, pembatasan itu tidak berlaku. Bagi anda para ibu rumah tangga, mengurus rumah dan melayani suami dan anak-anak bahkan mengurus bayipun tidak menjadi penghalang. Yakinlah bahwa anda bisa mencuri waktu ketika bayi anda tertidur atau setelah semua pekerjaan mengurus runah selesai. Anda bisa menghentikan pekerjaan menulis anda setiap saat ketika anak anda terbangun dan menangis minta disusui atau anda harus menyambut suami yang baru pulang dari kantor.

Maka kesimpulannya adalah bahwa cara mendapat uang dari menulis itu gampang. Tidak sulit bagi anda menjadi jutawan dengan menulis. Sekarang tergantung anda sendiri, maukah anda menyempatkan waktu untuk menulis?

*) Penulis Ketua FLP Wilayah Banten)
(rumahdunia.net)

2 Minggu Terjual 1000 Buku

Baru terbit,terjual 1000 dalam 2 minggu.
buku 'KETIKA REMAJA BERTINGKAH, KOK DI LAMPU MERAH!'
karya Nagiga dan Dian Ibung, Psi.
penerbit : Elexmedia Komputindo
Kumpulan kasus nyata tentang permasalahan yang sering menimpa remaja (terkena narkoba, hamil diluar nikah, kleptomania, plagiator, dsb).
Diramu menjadi kumpulan cerpen oleh Nagiga, penulis yang telah menghasilkan lebih dari 150 judul buku.
Dilengkapi dengan pembahasan psikologi dan saran praktis untuk mengatasinya oleh Dian Ibung, seorang psikolog.
WAJIB DIBACA OLEH ORANG TUA.

Kumpulan kasus nyata yang lain (elexmedia):
1. ULAH SI KECIL, karya Nagiga dan Dian Ibung (kumpulan kasus nyata orang tua menghadapi anak-anaknya yang sering berulah menjengkelkan)
2. ROMANTIKA PASUTRI karya Nagiga dan Dian Ibung (kumpulan kasus nyata problematika suami/istri menghadapi pasangannya)(opensubscriber.com)

Berani Menulis Dan Menerbitkan Buku

Menerbitkan buku bagi sebagian orang adalah impian. Menjadikan best seller apalagi. Namun kalau kita mengetahui caranya, hal itu bukanlah mustahil lagi. Dengan buku, anda bisa mengumpulkan dan membagi pengetahuan yang dimiliki. Dengan buku, anda bisa terkenal bahkan kaya raya. Dengan mengikuti seminar ini anda akan mengetahui bagaimana cara menerbitkan buku hingga best seller dan mengetahui seluk beluk penerbitan. Semua akan diajarkan oleh penulis produktif yang best seller dan penerbit terkemuka.

Mengapa memilih profesi sebagai penulis buku? Atau apa pentingnya menulis buku? Pertanyaan ini seringkali membuat sebagian orang penasaran. Apalagi bagi yang belum mengenal seluk beluk profesi tulis menulis buku secara mendalam. Sebenarnya dengan menulis buku banyak peluang yang akan didapat.

Pertama, banyak penerbit yang bersedia menampung naskah dan menerbitkannya sebagai buku. Kedua, adanya peluang pasar yang menggiurkan karena dana untuk pendidikan yang tidak tanggung-tanggung yakni sebesar 20% dari total APBN. Ketiga, kegiatan menulis bisa sebarang waktu karena bisa dilakukan kapan saja dan dimana.

Keempat, target penerbit akan buku baru juga dari tahun ke tahun semakin meningkat. Dan terbukti adanya kesempatan mendapatkan penghasilan luar biasa seperti Andrea Hirata dan Habiburrahman El Shirazy. Te
rakhir profesi menulis tak mengenal usia. Dari muda sampai tua. Bagi yang muda bisa digunakan sebagai tambahan penghasilan, bagi yang tua bisa mengisi waktu pensiun dengan produktif.

Karena peluang inilah, profesi penulis buku menjadi semakin menarik. Namun dalam kenyataannya orang yang ingin menjadi seorang penulis buku acapkali mengalami kendala. Kendalanya antara lain : tidak punya waktu, takut diejek karena tulisan jelek, sulit memulai sebuah tulisan, takut ditolak penerbit bahkan takut tidak laku.
(enerlife.web.id)

5 Langkah Produktif Menjadi Penulis Best Seller

Anda mungkin akan punya kemampuan bisa menjadi penulis best seller dengan menemukan rahasia menjadi penulis best seller yang diungkapkan oleh mas Edi.

Inilah rahasia mas Edy menjadi penulis buku best seller.

Beberapa hari lalu, seorang sahabat penulis mengirimkan SMS kepada saya. Bunyinya demikian, “Selamat siang Mas Edy. Saya mau membentuk kebiasaan menulis. Boleh tahu lima kebiasaan Mas Edy yang dirasakan efektif mendukung menjadi seorang penulis produktif bestseller? Terima kasih.”

SMS tersebut menggelitik saya untuk menuliskan artikel ini. Sebenarnya, saya sendiri tidak sepenuhnya yakin, apakah saya sungguh-sungguh memiliki kebiasaan-kebiasaan yang dia maksud. Tetapi, kalau boleh bercerita di sini, saya memang memiliki sejumlah kebiasaan dalam proses kreatif penulisan. Sebagian di antaranya memang benar-benar sudah jadi kebiasaan saya saban hari, sementara yang lain merupakan proses yang tampaknya menuju ke arah terciptanya kebiasaan baru.

Nah, mungkin saja kebiasaan-kebiasaan itulah yang membuka peluang saya untuk tetap produktif menulis. Mungkin pula, kebiasaan-kebiasaan itulah yang—langsung atau tidak langsung—ikut berpengaruh dan menjadikan buku-buku saya bestseller. Apa saja kebiasaan tersebut? Ini dia ceritanya.

Pertama, saya selalu menyukai tema-tema tulisan yang saya prediksi bakal menarik minat serta sungguh-sungguh bermanfaat bagi saya sendiri maupun pembaca. Saya pun selalu membaca tulisan-tulisan—yang menurut saya sendiri—sangat menarik perhatian saya. Nah, kebiasaan untuk selalu intens dengan hal-hal menarik dan bermanfaat inilah yang kemudian mendorong saya untuk terus berusaha menulis tema-tema pilihan.

Contoh, ketika saya melihat dan mendengar bahwa tema-tema wirausaha begitu digemari oleh masyarakat, saya pun mencoba mempelajari dengan detail dan berusaha menuliskannya. Tulisan semula hanya berwujud rajutan kiat-kiat berwirausaha, dan di lain waktu saya kembangkan menjadi tulisan yang lebih lengkap. Ketika dikompilasi, hasilnya adalah buku laris Resep Cespleng Berwirausaha (Gradien, 2004). Pola ini juga terjadi pada kasus artikel-artikel atau buku-buku saya lainnya.

Kedua, saya selalu mencatat setiap ide tulisan di sebuah “buku bank ide” dalam bentuk judul. Mengapa dalam bentuk judul? Sebab, inilah kebiasaan saya untuk memampatkan atau mengkristalkan gagasan-gagasan—yang mungkin saja panjang lebar—ke dalam bentuk yang simpel, mudah diingat, dan yang terpenting memotivasi/memprovokasi saya untuk mengelaborasinya menjadi naskah buku.

Minimal, ide-ide dalam bentuk judul itu sudah menggambarkan adanya tabungan ide kreatif saya. Makanya, dalam beberapa kesempatan saya sampaikan bahwa saya sampai memiliki lebih dari 700 judul tema buku atau artikel. Namun, yang tak kalah penting adalah tindak lanjut atau kreasi berikutnya atas bank ide tersebut. Dan ternyata, saya sangat terbantu oleh bank ide tersebut dalam setiap proses penulisan dan penyuntingan. Baik untuk keperluan pribadi, penerbitan, maupun saat menangani klien-klien saya.

Ketiga, saya menjadikan aktivitas menulis sebagai sebuah kesenangan yang menantang. Apa kesenangannya dan apa pula tantangannya? Kesenangannya adalah bahwa saya bisa menjadikan aktivitas menulis sebagai sesuatu yang memberikan dampak finansial. Saya teramat sadar dan meyakini bahwa seorang penulis dapat hidup layak dari pekerjaan atau profesinya sebagai penulis. Asalakan, dia mampu memanfaatkan kemampuan menulis itu dengan baik.

Aktivitas menulis menjadi begitu menyenangkan bagi saya karena bisa memberikan penghasilan dalam bentuk honor, professional fee, maupun royalti. Dengan kemampuan menulis yang baik (termasuk di dalamnya kemampuan editing), membuat hari-hari saya dipenuhi oleh pekerjaan yang berkutat pada soal tulis-menulis dan penerbitan. Tapi yang tak kalah penting, aktivitas ini memberikan sumber penghidupan yang amat memadai.

Tantangannya, saya selalu terdorong untuk menghasilkan karya yang lebih baik, lebih banyak lagi, serta lebih diterima oleh para pembaca. Tantangan ini membuat saya tidak mau berhenti belajar untuk terus meningkatkan kemampuan menulis. Saya bahkan belajar kepada klien-klien yang saya tangani, yang notabene banyak di antaranya yang baru pertama kali belajar menulis. Setiap pengalaman, peristiwa, atau situasi yang berbeda bisa menjadi inspirasi yang kaya bagi dunia kepenulisan saya maupun proses pengembangan diri saya sendiri.

Keempat, saya menjadikan aktivitas menulis sebagai salah satu komponen utama dalam proses pengembangan diri saya. Aktivitas menulis tidak akan lepas dari proses belajar. Dan, belajar adalah intisari proses pengembangan diri. Maka, jika kita belajar atau sedang menulis, maka sesungguhnya kita sedang mengembangkan atau mengaktualisasikan potensi-potensi dalam diri kita, supaya kemudian ada progress dalam kehidupan kita.

Saya temukan bahwa ketika kita menulis, sejatinya—dalam bahasa Stephen R. Covey—kita sedang mengembangkan realitas kita. Dalam menulis pula, sejatinya—dalam bahasa Wallace D. Wattles—kita sedang menjadikan ide mewujud menjadi peristiwa, realitas, atau materi. Makanya, memupuk kebiasaan menulis, dalam pandangan saya, sama saja artinya untuk membuktikan kebenaran teori-teori para penulis-motivator legendaris tersebut.

Hari demi hari saya semakin yakin bahwa menulis merupakan instrumen pengembangan diri yang luar biasa. Sebab, saya alami sendiri, saya temukan, dan saya ikut bersinggungan langsung dalam serangkaian proses perubahan hidup sejumlah orang yang kemudian menjadi penulis. Makanya tidak ada keraguan lagi, manakala kita mulai membiasakan diri untuk menulis, maka satu pintu perubahan hidup sudah ada di depan kita.

Kelima, saya selalu berusaha memublikasikan tulisan-tulisan yang sudah saya selesaikan. Bagi saya, menulis itu ada misinya tersendiri, yaitu untuk menanamkan pengaruh tertentu kepada pembaca. Sementara, hanya tulisan yang “hidup” saja yang bisa mempengaruhi orang. Namun, tulisan baru “hidup” atau “punya nyawa” jika sudah dibaca oleh orang lain. Nah, untuk menghidupkan tulisan atau memberinya nyawa, jalan satu-satunya adalah dengan memublikasikan tulisan tersebut.

Waktu SD dulu, “media” saya untuk memublikasikan tulisan saya adalah buku tulis bergaris, dan pembacanya adalah keluarga sendiri atau teman-teman sekelas. Waktu SMP, pantun saya pernah dimuat di koran mingguan Sinar Pagi Minggu (sehingga “mempengaruhi” seorang mahasiswa untuk berkorespondensi dengan saya he he he...). Waktu SMA, mading (majalah dinding) adalah media ekspresi saya.

Saat kuliah di Yogyakarta, saya mulai dari memublikasikan tulisan di majalah kampus Balairung, surat pembaca di majalah Tempo, sampai kemudian mampu merambah media massa seperti Kedaulatan Rakyat dan Bernas. Ketika menjadi wartawan, saya sudah tidak lagi dipusingkan dengan urusan mencari wadah untuk publikasi tulisan-tulisan saya.

Kini, saat saya menjalankan profesi sebagai editor, penerbit, dan penulis buku, ruang untuk menghidupkan tulisan itu terasa berlimpah. Tapi, saya pikir saat ini semua penulis atau siapa pun yang baru belajar menulis, sesungguhnya mempunyai ruang berlimpah untuk memublikasikan tulisannya. Kita bisa lirik mailing list, blog, maupun website umum yang relevan serta memang mau menampilkan tulisan kita.

Prinsip yang saya tekankan kepada semua penulis, yang terpenting adalah jangan sampai menjadikan tulisan kita seperti “mumi”. Tulisan yang diperlakukan seperti “mumi” ini—yang dibungkus, disimpan rapi, atau malah disembunyikan—tidak akan pernah “hidup” dan memberikan pengaruh. Jadi, beri nyawa pada tulisan kita dengan memublikasikannya.

Apakah hanya lima kebiasaan ini saja? Ya, karena diminta lima kebiasaan, jadi yang saya tulis ya lima saja he he he... Mungkin ada yang lain, tapi saya belum terpikir sama sekali atau malah tidak menemukannya. Yang pasti, hampir semua penulis sukses memiliki kebiasaan yang umum alias standar, tapi ada juga kebiasaan-kebiasaan yang unik atau khas. Namun, semuanya bermuara pada hasil atau prestasi yang mereka raih.

Bagi sahabat saya yang menanyakan soal kebiasaan-kebiasaan menulis saya ini, saya tekankan bahwa yang terbaik adalah menemukan dan menumbuhkan kebiasaan sendiri. Artinya, boleh saja kita berkaca pada sekian banyak kebiasaan penulis sukses. Tapi, itu semua hanya “makanan tambahan” alias inspirasi saja bagi proses kreatif kita. Jadi, kalau bermaanfaat, ya ambil, kalau malah jadi beban, ya tinggal saja. Sebab, yang lebih penting adalah menemukan kebiasaan sendiri, yang paling efektif dan paling disukai. Karena, muara kita tetap pada produktivitas dan kualitas karya.

Selamat menumbuhkan kebiasaan menulis yang terbaik. Dan, salam bestseller.[ez]

* Edy Zaqeus adalah penulis buku-buku best-seller, konsultan penulisan & penerbitan, editor Pembelajar.com, dan trainer di Sekolah Penulis Pembelajar (SPP). Ia juga mendirikan Bornrich Publishing dan Fivestar Publishing yang berhasil menerbitkan sejumlah buku best-seller. Nantikan workshops Edy Zaqeus tentang "Bagaimana Membuat Blog Menjadi Buku", "Bagaimana Cara Menerbitkan Buku Sendiri", dan "Cara Gampang Menulis Buku Best-Seller" pada November-Desember 2007. (trainer-tcc.blogspot.com)

Cara Victor Asih Jadi Penulis Best Seller

Pada pertengahan bulan Maret 2008, saya berkesempatan menjadi pembicara sebuah acara talkshow, dengan tema “Kalau Masih Bisa Berwirausaha, Ngapain Harus Kerja?” yang diselenggarakan di UNPAD, salah satu universitas negeri di Bandung. Selesai acara talkshow, saya dihampiri oleh seorang editor sebuah majalah dan diminta untuk menulis sebuah artikel dengan tema “dream” untuk dimuat di majalah tersebut.

Wow, itulah pertama kalinya ada yang meminta saya untuk menulis sebuah artikel. Saya saat itu merasa tertantang untuk membuat sebuah artikel karena saya belum pernah sama sekali menulis artikel.

Beberapa hari kemudian, saya berusaha mencari berbagai informasi tentang bagaimana cara menulis artikel melalui internet. Sampai akhirnya saya menemukan website pembelajar.com dan membaca artikel-artikel tentang cara menulis dari Edy Zaqeus, salah seorang penulis buku bestseller. Jadilah saya “korban” dari ide-ide provokatif dalam tulisan itu. Saya terinspirasi dan merasa semakin tertantang untuk dapat menulis.

Akhirnya, saya memutuskan untuk berani membuat sebuah impian baru dalam daftar impian saya, yaitu impian menjadi penulis buku bestseller. Saat saya berani membuat impian ini, saya sama sekali belum berpengalaman ataupun memiliki kemampuan menulis artikel atau buku. Tetapi saya ingat sebuah pepatah, “Gantungkan cita-citamu setinggi langit.” Ini adalah langkah ajaib pertama yang saya lakukan, yaitu berani memiliki impian.

Walaupun saya memiliki keterbatasan waktu karena kesibukan pekerjaan saya sehari-hari yang sangat padat, belum lagi kendala lainnya, seperti tidak adanya pengalaman menulis sama sekali, tetapi saya tetap berani bermimpi. Impian saya adalah menjadi penulis buku bestseller dan buku itu akan diluncurkan (launching) pada waktu istimewa yang hanya akan muncul setiap 1000 tahun sekali, yaitu pada tanggal 08-08-08.

Saya mengetahui bahwa sebenarnya banyak orang di sekitar saya dalam hatinya meragukan jika saya dapat mencapai impian menjadi penulis buku, apalagi buku bestseller. Namun demikian, saya tidak peduli dengan keyakinan mereka karena berani membuat impian adalah hak saya, dan juga hak Anda! Se”gila” apa pun impian itu merupakan hal terpenting bagi saya untuk berani mewujudkannya karena saya ingin selalu menjadi pemenang, seperti beberapa super hero idola saya semasa kecil (The Flash, Wonder Woman, The Green Lantern).

Akhirnya, di bulan April 2008 saya mulai mewujudkan impian menjadi penulis buku bestseller. Aksi ini diawali dengan saya mulai belajar menuliskan kalimat-kalimat pertama untuk buku saya. Learning by doing, saya belajar menulis kata demi kata untuk sebuah buku bestseller.

Satu setengah bulan kemudian, naskah hasil tulisan saya hampir rampung sesuai target saya yaitu 188 halaman. Saatnya berburu endorser dan mencari penerbit yang mau menerbitkan buku saya.

Bagaimana cara mencari endorser? Saat itu saya belum tahu bagaimana caranya. Learning by doing, saya belajar mencari endorser dengan langsung melakukannya sendiri. “Not doing is not Learning”, prinsip saya. Dalam waktu singkat 8 endorsement (komentar) untuk naskah buku tersebut dari 8 endorser yang terkenal di berbagai kalangan profesi terkumpul. Ada yang dari kalangan birokrat, akademisi, penulis bestseller, profesional, pengusaha, rohaniwan, dan juga motivator.

Bagaimana cara mencari penerbit? Pada saat itu saya juga belum tahu bagaimana caranya mencari penerbit. Apalagi penerbit yang sanggup meluncurkan buku saya hanya dalam tempo sekitar satu setengah bulan saja, mengingat waktu peluncuran buku yang saya inginkan adalah pada tanggal 08-08-08. “Impossible!”, kata beberapa teman saya yang telah menjadi penulis. Mereka berkata bahwa membutuhkan waktu berbulan-bulan sejak naskah diterima penerbit sampai pada peluncurannya. Bahkan ada yang menunggu lebih dari satu tahun baru diterbitkan. Lha, naskah saya dilihat penerbit juga belum.

Hanya empat bulan setelah saya berani bermimpi menjadi penulis buku bestseller, tepat pada tanggal Delapan Agustus 2008 (08-08-08) jam 8.08 malam naskah yang telah saya tulis diluncurkan dalam bentuk sebuah buku Unik serba 8 di Toko Buku Gramedia Paris Van Java Bandung oleh Penerbit Andi dari Yogyakarta.

Acara peluncuran buku begitu menarik minat banyak orang untuk hadir, sehingga 88 kursi yang disediakan oleh panitia tidak dapat menampung seluruh hadirin. Sebagian hadirin terpaksa sambil berdiri mengikuti acara peluncuran buku unik yang dicetak perdana limited edition sebanyak 8.888 eksemplar ini. Luar biasa!

Terbitnya buku perdana ini, yang saya tulis sendiri, adalah hal yang luar biasa bagi saya pribadi. Bukan hanya karena waktu penulisannya yang singkat (88 jam) yang diselesaikan dalam waktu satu setengah bulan, ditengah berbagai kesibukan kerja saya yang dikejar “deadline”. Atau karena proses penerbitannya yang spesial “dicap perangko kilat khusus” oleh sebuah penerbit ternama (salah satu dari tiga penerbit besar yang menyatakan kesanggupannya untuk meluncurkan buku saya tersebut dalam waktu satu setengah bulan).

Tetapi, karena empat bulan sebelum buku ini diterbitkan, tidak pernah terlintas sedikit pun dalam pikiran saya untuk menjadi seorang penulis buku, apalagi penulis buku bestseller. Bagi saya seperti melompat dari “bumi” ke “langit”. Tak pernah terlintas sedikit pun bahwa pada akhirnya setelah buku itu diluncurkan, saya akan mendapatkan puluhan undangan sebagai pembicara talkshow untuk membedah buku tulisan saya. Undangan datang dari berbagai kota dari berbagai universitas terkenal, komunitas, radio, bahkan televisi.

Setelah acara bedah buku selesai, banyak pihak pengundang yang menyatakan bahwa ingin mengundang saya kembali sebagai pembicara motivator dan inspirator di acara seminar atau pelatihan, memberikan kuliah umum atau studium general atau orasi ilmiah di acara-acara universitas, sampai menjadi pembicara talkshow secara rutin di radio-radio.

Hal ini secara tidak langsung mendukung terwujudnya impian saya berikutnya (Langkah Ajaib ke 8) yaitu menjadi seorang pembicara Motivitor (Motivasi dan Inspirasi bersama Victor) dan menyebarkan “virus” semangat entrepreneurship (kewirausahaan) melalui Sekolah Gratis Kewirausahaan bernama USB.

Inilah bukti KEKUATAN dari sebuah IMPIAN! Jadi, jangan ragu melakukan Langkah Ajaib pertama dari 8 Langkah Ajaib Menuju ke Langit, yaitu Beranilah bermimpi dan Kalahkan semua “Monster” penghalang impian anda. Anda akan terbawa “terbang ke langit” di mana impian anda yang tergantung “setinggi langit” dapat teraih. Everything is possible!

~Dikompilasi sebagian dari buku “8 Langkah Ajaib Menuju ke Langit” karya Penulis, sesi “Behind The Writing of This Book”
[Victor Asih, Founder Sekolah Bisnis Gratis USB, Mentor, Entrepreneur, Inspirator, Motivator, Software Engineer & Information Technology Consultant, Kolumnis, Penulis Buku Unik Bestseller “8 Langkah Ajaib Menuju ke Langit”] (pembelajar.com)