Showing posts with label Tulisan Ditolak. Show all posts
Showing posts with label Tulisan Ditolak. Show all posts

Monday, February 28, 2011

Novel Dengan Penjualan 60.742.289 Eksemplar

Pada tahun 1984, Grisham hadir di ruang pengadilan DeSoto County, Hernando ketika kesaksian diberikan oleh anak perempuan berusia 12 tahun yang menjadi korban perkosaan.[2] Menurut situs resmi Grisham, novel pertamanya ditulis di waktu luang sambil "membayangkan apa yang akan terjadi bila ayah si anak perempuan membunuh para pemerkosa."[2] Ia "menghabiskan tiga tahun untuk menulis Saat Untuk Membunuh yang diselesaikannya pada tahun 1987. Novel tersebut awalnya ditolak oleh sejumlah penerbit, namun akhirnya dibeli Wynwood Press. Novel pertamanya dicetak sejumlah 5 ribu eksemplar dan terbit bulan Juni 1988.

Setelah Saat Untuk Membunuh selesai, novel lain mulai ditulisnya. Kali ini tentang pengacara muda yang "terpikat untuk bergabung dengan biro hukum yang sepintas lalu terlihat sempurna."[2] Novel keduanya, Biro Hukum berada di peringkat ke-7 novel terlaris di Amerika Serikat tahun 1991.

Publishers Weekly menyatakan Grisham sebagai "novelis terlaris tahun 1990-an" dengan total penjualan 60.742.289 eksemplar. Grisham adalah salah satu dari sejumlah kecil penulis yang cetakan pertama bukunya bisa terjual dua juta eksemplar, namanya bisa sejajarkan dengan Tom Clancy dan J.K. Rowling.

John Grisham dilahirkan di Jonesboro, Arkansas sebagai anak nomor dua dari lima bersaudara. Kedua orang tuanya adalah penganut Gereja Baptis Selatan. Ayahnya bekerja sebagai pekerja bangunan dan petani kapas, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga.

Setelah sering tinggal berpindah-pindah, keluarganya menetap di kota Southaven, DeSoto County, Mississippi pada tahun 1967. Sewaktu bersekolah di Sekolah Menengah Atas Southaven, Grisham menjadi anggota tim sepak bola Amerika, dan bermain di posisi quarterback. Sewaktu muda, ia senang membaca karena mendapat dorongan dari ibunya, dan sangat dipengaruhi karya John Steinbeck.(id.wikipedia.org)

Ketika John Grisham Ditolak Penerbit Buku

john_grisham_01

Penulis terkenal John Grisham dengan bukunya “The Firm”, “The Client”, “Pelican Brief”, mulai menulis buku pertamanya pada sebuah buku notes kecil yang selalu dibawa kemana saja. Buku ini dikerjakan satu atau dua halaman seharinya. Namun akhirnya, demi menyelesaikan bukunya, John Grisham rela melepaskan pekerjaannya dibidang hukum. “Saya meneruskan menulis buku itu sekalipun saat menderita flu, saat bertamasya dan kerap kehilangan waktu tidur….”

Walau begitu, kerja keras Grisham tidak cuma pada saat menulis. Pada saat buku pertamanya selesai, buku itu dikirimkannya kepada penerbit untuk dipublikasikan.

Anda tahu berapa kali buku pertamanya ditolak penerbit?. Dua puluh lima kali.

(dreamindonesia.wordpress.com)

Cara Lain Menerbitkan Dan Menjual Buku

Penerbit rupanya tidak lagi menjadi momok. Prosesnya yang berbelit-belit ataupun resiko ditolak oleh penerbit pun sekarang bukan lagi menjadi kendala bagi para penulis terutama mereka yang baru bergulat dengan dunia ini.

Berawal dari penolakan oleh sebuah penerbit, AULIA HALIMATUSSADIAH atau biasa dipanggil OLLIE bersama OKA PRATAMA, ANGELINA ANTHONY dan BRILIAN YOTENEGA menggagas sebuah situs online self publishing yaitu nulisbuku.com. Situs ini merupakan wadah untuk menerbitkan buku secara online. Peminat buku bisa langsung melihat, memilih sekaligus membeli buku yang sesuai dengan selera mereka.

Meski sudah membuat 17 buah buku yang diterbitkan, namun OLLIE merasa kecewa ketika bukunya yang berjudul Inspiration.com ditolak oleh penerbit yang biasa menerbitkan buku-bukunya. Padahal, menurut OLLIE, buku yang ditolak itu bermanfaat dan menginspirasi. Tapi, penerbit menganggap buku OLLIE kurang komersial.

Karena itulah, pada 8 Oktober 2010, lahirlah nulisbuku.com. Meski terhitung masih seumuran jagung, tapi situs penerbitan jalur independen itu sudah memiliki 1.600 member termasuk penulis dan pembaca. Ada 200 judul buku yang sudah masuk dan lebih dari 1.000 yang terjual. Bahkan hitsnya bisa mencapai 1.000 pengunjung dan menerima 5 naskah setiap harinya.

Diakui OLLIE, nulisbuku.com menjadi alternatif bagi para penulis baru untuk menerbitkan bukunya. Dalam jalur konvensional, butuh waktu 3 bulan bagi penerbit untuk menentukan apakah naskah yang masuk bisa diterima atau tidak. Penantian tidak berhenti sampai disitu. Masih ada proses panjang yang membutuhkan waktu antara 7 bulan hingga 1 tahun jika buku itu benar-benar diterbitkan.

Belum lagi dana yang dikeluarkan. “Untuk satu buku minimal harus menyediakan uang Rp 25 juta, karena per buku harus dicetak minimal 3.000 eksemplar. Lewat online self publishing, tidak mengeluarkan dana, tapi tetap dapat royalti,” terang OLLIE pada suarasurabaya.net, Rabu (22/12).

JED REVOLUTIA Penulis yang menggunakan online self publishing juga mengakui hanya memerlukan waktu sehari untuk menerbitkan bukunya. Lewat jalur online, ia bisa menjadi penulis, menentukan harga sekaligus mempromosikan sendiri buku yang ditulisnya. Tidak lagi bergantung dengan pihak lain.

Seorang penulis bisa mendesain sampul buku sesuai keinginannya dan mencetaknya sesuai permintaan atau print on demand. Calon pembeli cukup memesan lewat nulisbuku.com. Di situs itu dilampirkan sampul buku, sinopsis dan satu bab pertama agar pembeli tidak merasa membeli kucing dalam karung.

Dari setiap buku yang terjual, OLLIE dan kawan-kawannya mendapat royalti 40 persen dari setiap keuntungan. Sedangkan 60 persennya diambil penulis.

OLLIE optimis penerbitan independen secara online ini bisa menggeser hegemoni penerbitan konvensional dan membuka kesempatan luas bagi para penulis baru untuk menjual hasil karyanya.(git)

*) Suarasurabaya.net 22 Desember 2010 (indonesiabuku.com)

Novel-Novel Bestseller yang ditolak Penerbit; Mari Belajar Dari Penolakan

Novel-novel yang akhirnya meledak di pasaran dan berakhir sebagai bestseller-pun seringkali mengalami banyak penolakan. Anda dapat belajar dari sejarah mereka dan memperlakukan penolakan sebagai hal biasa.

Di bawah ini adalah daftar penolakan dari novel-novel oleh penerbit yang akhirnya menjadi novel-novel terlaris.

- Dune karya Frank Herbert – 13 penolakan.
- Harry Potter and the Philosopher’s Stone – 14 penolakan.
- Auntie Mame karya Patrick Dennis – 17 penolakan.
- Jonathan Livingston Seagull – 18 penolakan
- A Wrinkle in Time karya Madeline L’Engle – 29 penolakan
- Carrie karya Stephen King – lebih dari 30 penolakan
- Gone With the Wind karya Margaret Mitchell – 38 penolakan
- A Time to Kill karya John Grisham – 45 penolakan

Pengalaman pribadi para penulis top dengan penolakan penerbit

Dibawah ini adalah penolakan yang pernah dialami oleh para penulis-penulis hebat sebelum karya pertama mereka terpublikasikan. .
Louis L’Amour, penulis lebih dari 100 novel – mendapatkan lebih dari 300 penolakan sebelum mempublikasikan buku pertamanya.
John Creasy, penulis 564 novel misteri – 743 penolakan sebelum mempublikasikan buku pertamanya.
Ray Bradbury, penulis lebih dari 100 novel dan cerita science fiction – mendapatkan sekitar 800 penolakan sebelum menjual cerita pertamananya.
The Tale of Peter Rabbit karya Beatrix Potter – ditolak oleh semua penerbit sehingga dia memutuskan untuk menerbitkan sendiri karyanya.

Ferry Herlambang
Dari http://www.writingclasses.com/
(kemudian.com)

Umberto Eco: 21 Sastrawan Dunia Pernah Ditolak Penerbit


Eco mencatat ada 21 penulis dunia yang karyanya pernah ditolak penerbit:

1.Marcel Proust
Penerbit Ollendorfft menolak karya Proust berjudul „Pencarian Waktu yang Terbuang“.
2.Melville
Karyanya berjudul:“Moby Dick“, tahun 1851 ditolak penerbit dengan pertimbangan:“Kami tak yakin, kalau karya Anda mampu memasuki pasar buku di kalangan anak muda. Disamping terlalu panjang, kuno dan tak akan terkenal.“
3. Gustave Flaubert
Naskahnya „Madame Bovary“ tahun 1856 dikembalikan oleh penerbit dengan ucapan:“Novel Anda telah tertimbun banyak detil. Penggambarannya sudah bagus, tapi banyak yang tak berguna.“
4.Emiliy Dickinson
Sajaknya pertama tahun 1862 ditolak penerbit dengan perkataan:“Menyangsikan, sajaknya semua salah.“
5.Collete
Karyanya berjudul „Claudine di Sekolah,“ tahun 1900 ditolak dengan ucapan:
“Tak ada 10 buku yang laku.“
6.Henry James
Karyanya berjudul „Sumber Mata Air Suci,“ tahun 1901 dikatakan oleh penerbit:“Novel ini membuat stress,…tak bisa dibaca!“
7.Max Beerbohm
Karyanya berjudul “Zuleika Dobson,“ tahun 1911 disebut penerbit:“Kami pikir, kami tak tertarik. Penulisnya mengagungkan diri sendiri. Dari segi kwalitas sastra tak mencukupi.“
8.Ezra Pound
Karyanya berjudul „Portrait dùne femme,“ tahun 1992 ditolak penerbit dengan alasan:“Baris pertama kebanyakan r dan s.“
9.James Joyce
Karyanya berjudul „Potret seniman sebagai anak muda,“tahun 1916 ditolak penerbit: Akhir cerita ini semua berantakan, pola penulisannya seperti meledak-ledak dalam kepingan yang lembab dan basah.“
10.F.Scott Fitzgerald
Karyanya berjudul „Surga di Dunia,“ tahun 1920 dikatakan: “Ceritanya tak mencapai kesimpulan, baik profesinya maupun sifat tokoh-tokohnya, tiba-tiba berakhir.“
11.William Faulkner
Karyanya berjudul „Tempat Suaka.“ Tahun 1931 ditolak dengan alasan: „Tuhan yang baik, aku tak bisa menerbitkannya. Kita berdua bisa meringkuk di penjara.“
12. George Orwell
Karyanya berjudul „The Animal Farm,“ tahun 1945 dikatakan: „Cerita fabel di USA tak laku.“
13.Beckettt
Karyanya berjudul „Molly,“ tahun 1951 dikatakan: „Tak pernah dalam pemikiran untuk menerbitkan. Seleranya jelek, pembaca USA tak suka selera jelek dari penulis Avantgarde Perancis“
14.Anne Frank
Karyanya berupa „Buku Harian,“ tahun 1952 ditolak dengan ucapan: „Gadis ini aku anggap tak punya persepsi dan kedalaman perasaan. Buku itu tampak aneh.“
15.William Golding
Karyanya berjudul „Tuan yang Terbang,“ tahun 1954 ditolak dan dikatakan:“Kesan kami, karya Anda tak akan memberikan harapan dan akan bisa berhasil.“
16.Nabokov
Karyanya „Lolita,“ tahun 1955 ditolak dengan ucapan: „Seharusnya yang menulis itu seorang Psikoanalytiker. Ini buku yang terlalu rinci sekaligus membosankan. Aku sarankan agar ditindih batu saja selama seribu tahun.“
17.Malcolm Lowry
Karyanya berjudul „Di Bawah Gunung Api,“ tahun 1947 ditolak dengan perkataan:“Karya masa silam yang membosankan dan tak meyakinkan. Buku ini isinya terlalu panjang.“
18.Joseph Heller
Karyanya dengan judul „Catch-22,“ tahun 1961 ditolak dengan ucapan:“Aku benar-benar tak paham, apa yang harus dikatakan. Di situ disebutkan ada sekelompok perwira Amerika di Itali. Anehnya perwira itu tidur dengan istrinya sendiri dan prostitusi Itali. Mereka gemerisik dan bicara konyol. Penulisnya ingin bicara satir, tapi benar-benar konyol dan tak memenuhi kwalitas intelektual. Dia punya dua trik dan keduanya jelek. Dia inginnya terus lancar cerita, tapi membosankan.“
19.H.G.Well
Karyanya dengan judul „Mesin Waktu,“ tahun 1895 ditolak dengan alasan: „Tidak menarik, cukup untuk pembaca umum, tapi bukan untuk pembaca berilmu.“
Karyanya yang lain berjudul „Perang dan Dunia,“ tahun 1898 disebutkan: „Sebuah mimpi buruk yang tak berakhir. Aku pikir tak berguna. Orang akan bilang; Ya Allah, jangan baca buku seram begini.“
20.Pearl.S.Buck
Dalam karyanya „Bumi yang Indah,“ tahun 1931 ditolak dengan sindiran: „Maaf, pembaca Amerika tak tertarik kebijakan dari Cina.“
21.John Le Carre
Karyanya berjudul „Spion dari Musim Dingin Datang,“ tahun 1963 dikatakan: „Kami memberi dia kartu jalan. Tapi Le Carre tak punya harapan.“

Eco mempertanyakan, bila masa depan buku masih belum menjanjikan. Memang banyak buku dicetak, tapi kebanyakan buku tentang masak, buku tentang berkebun dan buku humor yang tak ada hubungannya dengan budaya. Dia menilai, buku tentang berkebun yang baik lebih berguna dari pada sebuah novel yang jelek. Ada banyak orang membeli buku Goethe tapi tidak dibaca, karena ada televisi. Mungkin juga ada orang membaca karya Goethe tapi tidak menonton televisi.(andrenalinekatarsis.blogspot.com)

774 Surat Penolakan Naskah

Tidak ada gagal bagi orang yang ingin berprestasi. Sebagai muslim pantang untuk berputus asa. Salah-satu karunia terbesar dalam hidup kita adalah membangun sikap optimis. Bukankah Rasul Saw. mengatakan, bahwa amal (kreativitas) yang baik adalah yang dilakukan secara istiqamah, walaupun amal itu sedikit.

Ibarat menaiki tangga, sudah pasti kita tidak langsung sampai ke puncak. Tidak ada kehebatan apa pun kecuali menjaga kebiasaan baik dan mengembangkannya. Yakinlah kita sedang merangkak tangga demi tangga. “Man jadda Wa jadda – siapa-siapa yang sungguh-sungguh ia akan mendapatkan”, begitu sebuah keterangan dalam kitab Ta’lumul Muta’allim.

Gunawan Muhammad, Mahbub Djunaidi (Alm) adalah sosok penulis populer di negeri ini. Selidiki dan pelajarilah kepedihan mereka sehingga menjadi penulis handal. Bambang Trim Dirut Pusat Kajian Informasi Buku (Pikbuk), Bandung mengaku, selama tiga tahun kuliah di Editing Universitas Padjajaran tak satu pun tulisannya dimuat. Tentu saja sekarang penulis “Menggagas Buku” itu tulisannya tersebar di banyak media. Hernowo, General Manager Editorial Penerbit Mizan jujur mengatakan, sejudul penulisannya baru dimuat sebuah harian bergengsi setelah ratusan naskahnya ditolak. Roesli Lahani Yunus memperkirakan untuk penulis pemula rata-rata di atas 40 kali mengirim naskah baru diharapkan bisa dimuat.

Di posisi ini kita harus menyimak uraian Wilsaon Nadeak. Penulis kawakan pengasuh rubrik “Karang mengarang” HU Pikiran Rakyat. Alex Haley naskahnya ditolak sampai 200 kali belum juga dimuat. Di Francisco seorang penulis menerima 600 surat penolakkan. John Creasy pengarang Inggris menyimpan 774 naskah yang ditolak. (Pikiran Rakyat, 27 Juli 2002). Artinya, kegigihan sangat kita perlukan.

By Abu Al-Ghifari
(bukuinstan.blogspot.com)

Membuat Naskah Buku Yang Berkualitas

Naskah buku yang berkualitas adalah dambaan setiap penerbit. Hampir dipastikan penerbit hanya akan menerbitkan naskah-naskah yang berkualitas. Naskah yang berkualitas tidak hanya memiliki bobot isi yang baik, tapi juga bidikan pasar yang marketable. Bobot isi yang baik tidak terletak pada tema yang diangkat. Tema tidak menentukan apakah sebuah buku—meminjam istilah Hernowo—“bergizi” atau tidak. Tema hanya menentukan selera.

Lalu, apa saja yang membuat naskah buku berkualitas ?
Tentu, di samping materi yang berbobot, paling tidak ada 2 hal yang patut diperhatikan menyangkut naskah yang berkualitas:

Pertama, bahasa buku. Sehebat apapun materi yang disajikan, tapi penataan bahasanya kacau—tidak memenuhi kaidah-kaidah reasoning (penalaran)—naskah buku tersebut akan menjadi tidak menarik. Karenanya, bahasa perlu diolah sedemikian rupa agar ketika naskah dibaca, terasa enak, mengalir, mudah dicerna, dan mengasyikkan, serta merangsang nalar.

Untuk membuat sebuah bahasa yang mampu merangsang nalar, maka, 1) susunan kalimat dan gerombolannya harus logis. 2) seluruh kalimatnya diupayakan memiliki diksi (pilihan kata) yang indah dan menggairahkan. 3) penyajian keseluruhan bahasa memiliki koherensi (keterkaitan) dan komposisi (ketersusunan) yang selain harmonis juga menyimpulkan.

Kedua, mengemas “daya pikat”. Sebuah buku, dikatakan berkualitas, selain karena materinya oke, bahasanya tertata dengan baik, juga karena tampilan bukunya yang memikat. Untuk naskah buku, tak banyak yang bisa diperbuat oleh penulis untuk mengemas daya pikat. Pihak penerbit yang banyak berperan.

Tapi, membuat judul yang “menggigit”, satu dari banyak hal yang bisa dilakukan oleh penulis untuk mendongkrak kualitas naskah buku. Perhatikan buku-buku yang berhasil best seller, judul-judulnya menggigit bukan? Bahkan acapkali judulnya lebih “menggigit” ketimbang isi buku itu sendiri.

Dalam sebuah acara diskusi buku Seks In The Kost di Aula Fakultas Psikologi Unair Surabaya, Iip Wijayanto pernah diprotes dengan judul bukunya itu yang teramat provokatif. Isi buku itu dinilai beda jauh dengan judulnya. Karenanya Iip dituding hanya mengejar keuntungan.

Dari aspek judul, buku-buku Iip memang cukup kontroversial. Di antaranya, 97,05 Persen (hasil penelitian tentang virginitas mahasiswi Jogja), Seks In The Kost, Seks Kalangan Terpelajar, dan Kampus Fresh Chiken. Tapi kalau membaca isinya, buku-buku itu lebih kepada analisis seks menggunakan ilmu tasawuf.

Apa kata Iip? Iip mengaku sengaja memilih judul-judul yang kontroversial dan komersial. Bagi Iip, judul buku yang “heboh” itu adalah strategi saja. Karena, menurutnya, kalau judul bukunya mengandung unsur religius, maka pangsa pembacanya hanya kalangan tertentu. Judul-judul yang “heboh” merupakan strategi agar pesan dakwah sampai ke banyak kalangan.

Maka, tak heran bila buku-buku Iip dapat menembus angka penjualan yang lumayan spektakuler. Buku Seks In The Kost-nya Iip misalnya, terjual 20.000 eksemplar pada dua bulan pertama.

Terlepas dari benar-tidaknya apa yang dilakukan Iip, “kasus” judul-judul Iip yang kontroversial, memberi pelajaran kepada kita pentingnya membuat judul yang “menggigit”. ***

by Badiatul Muchlisin Asti (bukuinstan.blogspot.com)

7 Langkah Saat Naskah Ditolak

Kembali kita kuatkan keyakinan naskah ditolak bukanlah akhir segalanya. Yang demikian itu hanyalah proses rute yang harus dilalui sebelum berhasil adalah kenyataan wajib yang mesti dialami. Lantas apa saja langkah-langkahnya?

Pertama, dokumentasikan naskah-naskah itu, jangan sampai dibuang. Belum tentu ide yang terkandung dalam tulisan tersebut bisa ketemu di lain waktu. Percayalah ide itu amat mahal. Untuk mendapatkan ide terkadang para penulis membayar mahal karena harus pergi ke tempat tertentu. Dari sudut falsafah, ide bagus tidak bisa dibandingkan dengan rupiah.

Kedua, memperbaiki naskah. Sering kali kita menganggap saat merampungkan naskah, terasa sudah sempurna. Tidak terdapat kekurangan. Seolah-olah berani diuji dengan rekan lainnya. Namun selang beberapa waktu (bisa jadi hitungan tahun) kok lucu, di sana-sini nggak nyambung. Saat tahu kondisi tersebut, inilah kesempatan untuk memperbaikinya.



Ketiga, bandingkan dengan tulisan-tulisan lain yang dimuat. Selera redaktur sangat menentukan. Dengan segala keobyektifan dan kesubyektifan menjadi kata kunci. Karenanya, mempelajari tulisan yang dimuat itu penting. Koran, tabloid atau majalah masing-masing punya karakter tersendiri. Bila tulisan yang kita kirim sama “nafasnya”, besar peluang untuk diterima.

Keempat, melengkapi sumber tulisan. Menambah banyak warna pasti makin meriah. Sangatlah penting untuk membaca, mencatat, atau memiliki ensiklopedi, info terkini, dan bahan-bahan (buku) rujukan yang biasanya dijadikan sumber utama (standar).

Simak tulisan Jalaluddin Rakhmat. Kiai yang pakar komunikasi itu jika membuat tulisan kaya dengan berbagai tinjauan. Misal, ia menulis tentang “istiqomah”, tapi tidak sebatas menggunakan dalil naqli (Al-Qur’an, As-Sunnah) saja. Beliau mengurai dengan pendekatan sejarah, psikologi, logika, budaya dan data-data teranyar.

Sangatlah penting untuk membaca, mencatat atau memiliki ensiklopedia, internet, media massa terbitan baru, info terkini dan bahan-bahan (buku) rujukan yang biasa dijadikan sumber utama (standar).

Kelima, membebaskan tulisan dari teori baku. Memang penulis pemula sangat meniru gaya idola penulis pujaanya. Kata Aristoteles, meniru adalah awal dari sebuah seni.

Pada urutan kelima ini bukan berarti meniadakan teori-teori yang sudah ada. Teori menulis yang sudah dipelajari tetap kita pertahankan. Cuma jangan terpaku. Masih ada teori atau gaya lain. di luar negeri terdapat teori bernama teori lingkaran. Belakangan antara lain dikenalkan oleh DR. Dedi Supriadi. Untuk menuju ke titik tengah lingkaran, kita boleh memasukinya dari garis mana saja. Sederhananya, banyak cara untuk menulis. Keterkaitan dengan unsur emosi ini bisa membuat tulisan lebih segar dan renyah. Contoh, biasanya dari umum ke khusus, kita dapat memulai dari khusus ke umum.

Keenam, rutin menulis lagi. Sudah menjadi alasan klasik untuk menyembunyikan diri dari ketidakberdayaan dalam olah tulis menulis. “Waktu saya tersita, besoklah saya akan memulai”, betapa sering kita mendengar kata-kata itu. Padahal mulanya menggebu-gebu sesemangat 45.

Para penulis sukses di tengah kesibukannya menyediakan waktu khusus unutk menulis. Ada yang sehari menulis 3 – 4 jam sehari.Yus R. Ismail mengagumi rekannya seorang cerpenis belia aktivis Forum Lingkar Pena (FLP). Ia menulis setiap dini hari usai shalat malam sampai menjelang waktu shubuh. Hasilnya menakjubkan, kawan kita ini (masih SMU) sudah menulis empat buku.

Ketujuh, adakah silaturahmi dengan para penulis yang jadi atau milih profesi menulis sebagai pilihan mencari nafkah.

Langkah ini sangat membantu. Banyak yang menyangka orang tenar sulit dihubungi. Benar, tapi bukan berarti tidak bisa sama sekali. Pasti ada dan menerima kesempatan unuk kita. Kita mendapatkan berbagai pengalaman dan ilmu yang menguatkan “ruh” semangat kepenulisan.

Saya pernah mengunjungi tempat aktivitas dan bertemu dengan sosok penulis bergengsi negeri ini, antara lain: Emha Ainun Nadjib, Nurcholis Madjid, Gola Gong, Amin Rais, Kuntowijoyo dan sejumlah penullis kawakan yang berdomisili di Bandung. Alhamdullillah, dari beliau-beliau saya memperoleh tambahan tenaga berlipat-lipat. Meski ratusan naskah saya ditolak, saya bersyukur semangat dan kreativitas tulis menulis masih terpelihara. Lumayan, sudah belasan media yang mempublikasikan. Dan teramat yakin bilangan angka terus menanjak.

Tidak ada alasan untuk berhenti menulis. Cuma karena belum dimuat. Menulis kembali dan kembalilah menulis. Penolakan naskah itu persyaratan wajib bagi siapa saja yang ingin sukses menulis. (putrahutanamora.blogspot.com)

Novel Terjual 10 Ribu Buku Setelah Ditolak Penerbit

Empat tahun pertama menjadi penulis, saya hanya menulis cerpen dan berjuang mengirimkannya ke majalah-majalah. Alhamdulillah, beberapa dimuat dan tidak sedikit yang ditolak. Mula-mula ditolak, saya jadi berpikir, “cerpen yang bagaimana sih yang bagus? Kok ditolak melulu?” waktu itu, redakturnya memang memberitahukan alasan-alasan cerpen saya ditolak, diantaranya tema klise, alur monoton, ending klise, dan sebagainya.

Setelah duduk di bangku kuliah, saya memberanikan diri untuk mengirimkan kumpulan cerpen ke Penerbit Syamil, yang ketika itu sedang tenar-tenarnya di kalangan anak-anak Forum Lingkar Pena. Kumpulan cerpen saya, dengan sukses ditolak. Padahal, banyak kumcer yang diterbitkan oleh Syamil. Saya tidak menyerah. Saya kirimkan lagi naskah serial remaja. Hmm… ditolak lagi.

Selain Syamil, saya juga melirik DAR! Mizan. Subhanallah… penerbit yang satu itu lebih susah lagi. Tiga kali berturut-turut, naskah saya ditolak. Editornya agak kejam juga nolaknya, hehehehe…. Tapi, itu justru membuat saya semakin tertantang untuk dapat menerbitkan naskah di DAR! Mizan.

Saat Skripsi, saya berhasil menyelesaikan sebuah naskah novel, kala itu berjudul “Bias Kasih Dua Dara.” Naskah itu saya tawarkan kepada Afifah Afra, senior saya di FLP Semarang yang sudah bekerja di Penerbit Era Intermedia, Solo. Meskipun ada hubungan cukup dekat, berhubung dia ketua FLP Semarang yang pertama, dan saya Ketua FLP Semarang yang kedua, naskah saya ditolak dengan sukses. Katanya, tidak cocok untuk penerbit Era.

Alhamdulillah, tidak lama ada pengumuman lomba novel di Penerbit Gema Insani Pers. Saya ikutkan saja novel yang ditolak Afifah Afra itu ke sayembara bergengsi itu. Ternyata… naskah saya jadi pemenang kedua! Selanjutnya diterbitkan dengan judul, “Oke, Kita Bersaing!” Saya benar-benar tidak menyangka. Saya bahkan lupa tanggal pengumuman pemenang. Tiga hari sebelum nama pemenang diumumkan, saya ditelepon oleh Penerbit Gema Insani dan sudah dikabarkan lebih dulu bahwa saya menjadi pemenang kedua sayembara mengarang novel GIP. Pengumumannya bisa dilihat di Koran Republika. Alhamdulillah, saya langsung sujud syukur.

Novel “Oke, Kita Bersaing!” rupanya menjadi novel yang pertama kali diterbitkan di antara ketiga novel pemenang. Novel itu bak novel best seller saja. Di Gramedia, dipajang di rak paling depan. Penerbitnya mengatakan bahwa novelnya laris manis. Kabar terakhir, novel itu terjual lebih dari 10 ribu eksemplar dan sempat dinominasikan untuk meraih penghargaan novel best seller di IBF. Suatu kejadian mengharukan terjadi ketika saya ikut outbond bersama ibu-ibu pengajian dari seluruh Tangerang, tiga tahun setelah novel itu terbit. Usai menuliskan nama saya di daftar peserta outbond, seorang ibu menyapa saya.

“Ini benar kan Leyla Imtichanah yang menulis novel Oke Kita Bersaing?”
Saya tersenyum malu-malu. Wah, kok Ibu itu bisa tahu, ya?
“Anak saya senang sekali dengan novel Ibu. Bukunya disimpan terus. Tidak sangka sekarang saya ketemu penulisnya. Kalau anak saya ikut, dia pasti senang sekali,” ibu itu bercerita dengan gembira.
“Anak Ibu umur berapa?” tanya saya.
“Baru kelas 6 SD.”
GUBRAK! Masalahnya, novel Oke, Kita Bersaing itu adalah novel untuk anak SMA!

Nah, sejak OKB meraih penghargaan, herannya (cieeeh….) novel-novel saya berikutnya jadi gampang diterbitkan. Tidak tahu ada hubungannya atau tidak ya, tapi itulah kenyataannya. Pertama, saya mendapat telepon dari Editor Syamil, bahwa naskah saya, “True Love,” akan diterbitkan. Alhamdulillah… akhirnya, setelah dua kali kirim naskah ke Syamil, yang ketiga lolos juga.

Tidak lama, DAR! Mizan juga menelepon. Katanya, naskah saya, “Biarkan Stef Pergi,” akan diterbitkan. Editornya mengatakan, “nah, ini dia naskah yang sesuai untuk DAR. Tidak seperti naskah kamu yang dulu-dulu.” Biarpun, agak-agak menyindir, hati tetap senang. Namanya juga sedang berproses menjadi penulis, Om….

Sewaktu magang di Annida, saya dimintai naskah oleh Melvy Yendra yang baru saja pindah kerja dari Annida ke Beranda Hikmah. Empat bulan kemudian, terbitlah novel “Misteri Sanggar Cinta” di Penerbit Beranda. Sambil magang di Annida, saya juga menyempatkan menulis novel “Cinta Buat Chira” yang saya kirim ke Penerbit Lingkar Pena. Alhamdulillah, itu juga diterbitkan dengan mudah.

Terbayar sudah semua penantian saya selama menjadi penulis. Di antara semua keberhasilan itu, tetap saja ada yang gagal. Dua kali mengikuti lomba novel, keduanya gagal. Alhamdulillah, meski tak jadi pemenang, salah satu novel saya diterbitkan. Itulah “Endless Love.”

Menjadi penulis itu memang harus bermental baja. Terlebih, penulis biasanya sensitive dan gampang down (berdasarkan pengalaman sendiri dan riset kecil-kecilan terhadap teman-teman penulis). Satu yang perlu ditanamkan, bahwa otak editor yang satu tidak sama dengan otak editor yang lain. Kalau naskah ditolak oleh penerbit A, kirimkan saja ke penerbit B. Tapi, jangan berhenti untuk mengirimkan naskah ke penerbit A. Terus saja kirim. Caranya, pelajari buku-buku terbitan mereka. Naskah macam apa yang mereka inginkan. Insya Allah, suatu hari nanti, jalan untukmu pun akan terbuka.

Sekarang pun, meski saya telah menerbitkan buku sendiri, saya masih mencoba mengirimkan naskah ke penerbit. Ditolak??? MASIIIH….. Nyeri hati, tentu saja ada ketika menerima email penolakan naskah. Tapi, itu justru semakin mengasah hati saya untuk kuat menerima penolakan-penolakan. Berbeda rasanya menjadi penulis yang naskahnya sudah—pasti—diterbitkan, dengan penulis yang naskahnya harus berjuang untuk diterbitkan. Penolakan-penolakan membuat kita terus mencaritahu kelemahan naskah kita, dengan begitu kita akan berusaha untuk memperbaikinya.

So, naskah ditolak? Ya, kirim lagi..

Oleh : Leyla Imtichanah di http://www.facebook.com/notes/leyla-imtichanah/naskah-ditolak-penerbit-ya-kirim-lagi/484491292308